Kaki Penantang : Seri Ke 5 ; Taman Bungkul,Surabaya
For your information, dalam
perjalanan menuju Surabaya, Gue sempet nanya-nanya dikit ke mbah google, Gue
ketik tentang tempat-tempat yang wajib dikunjungi jika ke Surabaya. Berbekal
android mahal yang Gue beli, proses googling pun lebih cepat. Hitungan detik,
banyak sekali muncul jawaban atas pertanyaan Gue, padahal Gue cuma nanya satu
hal, si google malah ngasi jawaban banyak banget, Gue terharu, ternyata google
segitu pedulinya ama Gue.
Gue pilih satu-satu, mata dan hati
Gue tertuju ke salah satu artikel, “19 tempat wisata yang wajib di kunjungi di
Surabaya”, begitulah judulnya. Bukan masalah jumlah yang harus dikunjungi, tapi
tulisan “wajib” itu yang bikin Gue serem. Kenapa Gue serem?
Ok, kita bahas sekarang. Wajib,
secara artinya sesuatu yang harus kita lakukan, kalau dalam islam, wajib
merupakan salah satu hukum islam yang artinya dikerjakan dapat pahala,
ditinggalkan dapat dosa. Nah, Ancaman atas dosa itu yang bikin Gue takut.
Shalat Gue udah kurang rajin, sunnah
nabi apa lagi, nah masak yang ini juga gak bisa Gue kerjain. Gue klik artikel
terebut, lalu muncullah ke 19 tempat-tempat yang wajib dikunjungi itu. Gue
pilih beberapa yang menurut Gue paling menarik, dan yang paling kepengen Gue
kunjungin. Gue mulai dari taman Bungkul, Jembatan Suramadu, Kebun Binatang
Surabaya, Tugu Pahlawan, Museum Kapal Selam dan Universitas Air Langga,
sebenarnya kampus AirLangga gak masuk list dari kesembilan belas itu, Gue cuma
penasaran, lebih tepatnya karena sakit hati, karena dulu Gue gak lolos seleksi
buat kuliah di kampus ini.
Jadilah di hari serta malam pertama
disurabaya Gue pergi ke Taman Bungkul Surabaya. Sengaja Gue pilih malam hari,
karena dari gambar yang Gue liat di internet, Taman Bungkul keliatannya bagus
banget dimalam hari. Banyak lampunya, warna warni, cocok banget buat laki-laki
kayak Gue yang lembut dan sering ditinggalin cewek, dengan alasan itulah Gue
putusin buat ke Taman Bungkul dimalam hari.
Gue kayuh sepeda hasil pinjeman
perlahan, sambil nikmatin suasana Kota Surabaya dimalam hari. Jalanan
rame,hilir mudik motor dan mobil, nah yang Gue suka dari Surabaya, untuk
pesepeda kayak Gue, Gue gak kehilangan tempat dijalan raya. Dipinggir disediain
ruang khusus untuk pesepeda, dan gak di
ganggu sama sekali sama kendaraan lain.
Sekitar setengah jam, akhirnya Gue
nyampe ditaman Bungkul. Walaupun gak keliatan seperti digambarnya, Taman
Bungkul tetaplah memesona buat Gue. Suasana taman Bungkul rame dan penuh, mulai
dari anak-anak, orang tua, anak muda yang lagi pacaran, penjual asongan,
semuanya berbaur. Taman Bungkul telah menyatukan semua kalangan.
For your information untuk yang belum
tahu aja, Taman Bungkul sebenarnya adalah tempat salah satu makam orang yang di
pandang disurabaya, setiap hari katanya selalu rame oleh para pejiarah, dan Gue
udah saksiin sendiri gimana hilir mudiknya para pejiarah. Gue gak tahu jelas
sejaranya seperti apa, pembaca yang budiman bisa cek sendiri di internet tanya
ke mbah google, jangan suka ngeropotin Gue, hidup Gue udah terlalu repot
soalnya. Nah kenapa jadi curhat lagi.
Mungkin hanya di Taman Bungkul
suasana pemakaman jadi gak serem, dan mungkin hanya disini anak-anak bisa
bermain tanpa dilarang sama orang tuanya. Gak seperti kebanyakan makam yang
selalu dengan image serem, banyak
setan, inilah itulah. Gak seperti kebanyakan makam, dimana anak-anak selalu
takut untuk bermain disitu, takut kualat dan dimarahi orang tuanya.
Dari taman Bungkul Gue belajar
tentang suatu hal. Tentang, sesuatu yang sebenarnya belum tentu buruk buat kita,
tergantung bagaimana kita berusaha memperlakukan dan menerimanya.
Gue pun duduk disisi yang masih
lowong. Duduk sambi menikmati lampu warna-warni di taman Bungkul. Sepersekian
detik berbagai kenanganpun berterbangan.


Comments
Post a Comment