JASA AUDIT LAPORAN KEUANGAN HISTORIS | JASA AUDIT REVIU | JASA ASSURANCE LAINNYA | KONTAK BISNIS : 0856 5416 9903 / 0811 575 787

1516

“Alhamdulillahirobbilalamin”, kata pertama yang terucap dari bibirku ketika kembang api meledak berpuluh-puluh kali di langit Kota Surabaya. Tahun luar biasa itu pun telah berakhir. Tengah malam lebih satu detik, tahun baru pun bermula, 1 Januari 2016. Tahun yang kuharap akan sama luar biasanya seperti saudaranya terdahulu.
Kuakhiri tahun 2015 dan kuawali tahun baru kali ini dengan hal yang jauh berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Sebuah resolusi tiga tahun lalu, itulah yang menjadi pembeda. Masih tersimpan di diding kamarku, tentang sebuah keinginan yang kutulis diawal tahun 2013, “merayakan tahun baru diluar pulau kalimantan”, begitulah sederhananya impianku, dan ditahun ini walaupun harus menunggu lama, keinginan itu telah menjadi kenyataan. Surabaya telah menjadi saksi, impian itu pun tuntas. Impian anak kampung nun jauh dari pedalaman Kalimantan.
Kekuatan impian, itulah yang kupercayai selama ini. Kekuatan yang membuat seorang anak kampung yang tumbuh dari keluarga miskin sepertiku dapat bertahan. Entah jika tanpa impian, mungkin sudah lama tubuh ini mati ditelan waktu.
Banyak memang yang tak dapat kuraih di tahun ini. Mulai dari gagal di seleksi tes pegawai pemerintah karena adanya konsfirasi, atau apalah namanya, batal kerja di Bank karena gak cocok dengan jam kerjanya, sampai pada gagal dalam urusan asmara. Namun semua kegegalan itu lalu disusul oleh satu-satu impianku di sepanjang tahun yang menjadi kenyataan. Melanjutkan pendidikan, menjelajah pulau jawa lebih jauh,  sampai akhirnya aku berhasil meperoleh gelar profesi yang sejak kuliah S-1 dulu telah kuimpikan.
Atas semua keberhasilan itu, selain rasa syukur yang kuhaturkan kepada sang penguasa waktu,maka kedua orang tuaku telah menjadi tempatku untuk mengucapkan “Terimakasih” meskipun tetap saja ucapan itu tak ternilai dengan nyawa yang dulu digadaikan ibuku untuk kehidupanku, dan tetesan keringat yang keluar dari tubuh ayahku. Tanpa doa-doa mereka yang luar biasa itu, tak mungkin kemudahan-kemudahan selama masa perjuangan bisa kuperoleh. Andaipun aku sempat lupa dengan yang menjadi tujuan hidupku, dengan memandang sepasang senyum mereka didompetku, semuanya kembali kuingat, dan aku kembali masuk pada garis perjuangan.
Ditahun 2016 tak banyak yang kupinta, selain semoga selalu diberi kekuatan dalam menghadapi semua batu kerikil yang akan membuat perjalanan ini menjadi tak mudah. Semoga Ayahku lekas sembuh, tak bergantung lagi dengan obat-obatan yang harus diminumnya setiap hari. Ibuku, semoga beliau selalu diberi kesehatan, umur yang panjang, dan semoga apa yang menjadi impiannya yang diceritakannya kepadaku, bisa kuusahakan untuk menjadi kenyataan, insyaAllah nanti mamak akan mengambil gambar di Mekkah, amiin. Urusan asmara, hmmm, semoga menemui titik terang.
Sekarang, seiring dengan waktu yang terus berjalan ditahun 2016, adalah tugasku untuk menjalaninya dan menyelesaikannya dengan baik, berusaha seperti usaha-usahaku sebelumnya, sembari berharap 2016 akan bersahabat denganku. Kepada 2015, kusematkan pin kenangan, karena banyak moment yang sulit kulupakan.

Kita hidup dalam impian, bermimpilah, dan jangan lupa untuk meraihnya. Buatlah resolusi sebanyak-banyaknya, dan diakhir tahun, cek satu-satu, mana saja impian kita yang telah kita peluk.

­


Comments

Posting Terpopuler