1516
“Alhamdulillahirobbilalamin”,
kata pertama yang terucap dari bibirku ketika kembang api meledak berpuluh-puluh
kali di langit Kota Surabaya. Tahun luar biasa itu pun telah berakhir. Tengah
malam lebih satu detik, tahun baru pun bermula, 1 Januari 2016. Tahun yang kuharap
akan sama luar biasanya seperti saudaranya terdahulu.
Kuakhiri
tahun 2015 dan kuawali tahun baru kali ini dengan hal yang jauh berbeda dari
tahun-tahun sebelumnya. Sebuah resolusi tiga tahun lalu, itulah yang menjadi
pembeda. Masih tersimpan di diding kamarku, tentang sebuah keinginan yang
kutulis diawal tahun 2013, “merayakan
tahun baru diluar pulau kalimantan”, begitulah sederhananya impianku, dan ditahun
ini walaupun harus menunggu lama, keinginan itu telah menjadi kenyataan. Surabaya
telah menjadi saksi, impian itu pun tuntas. Impian anak kampung nun jauh dari
pedalaman Kalimantan.
Kekuatan
impian, itulah yang kupercayai selama ini. Kekuatan yang membuat seorang anak
kampung yang tumbuh dari keluarga miskin sepertiku dapat bertahan. Entah jika
tanpa impian, mungkin sudah lama tubuh ini mati ditelan waktu.
Banyak
memang yang tak dapat kuraih di tahun ini. Mulai dari gagal di seleksi tes
pegawai pemerintah karena adanya konsfirasi, atau apalah namanya, batal kerja di
Bank karena gak cocok dengan jam kerjanya, sampai pada gagal dalam urusan
asmara. Namun semua kegegalan itu lalu disusul oleh satu-satu impianku di
sepanjang tahun yang menjadi kenyataan. Melanjutkan pendidikan, menjelajah
pulau jawa lebih jauh, sampai akhirnya
aku berhasil meperoleh gelar profesi yang sejak kuliah S-1 dulu telah kuimpikan.
Atas
semua keberhasilan itu, selain rasa syukur yang kuhaturkan kepada sang penguasa
waktu,maka kedua orang tuaku telah menjadi tempatku untuk mengucapkan “Terimakasih” meskipun tetap saja ucapan
itu tak ternilai dengan nyawa yang dulu digadaikan ibuku untuk kehidupanku, dan
tetesan keringat yang keluar dari tubuh ayahku. Tanpa doa-doa mereka yang luar
biasa itu, tak mungkin kemudahan-kemudahan selama masa perjuangan bisa
kuperoleh. Andaipun aku sempat lupa dengan yang menjadi tujuan hidupku, dengan
memandang sepasang senyum mereka didompetku, semuanya kembali kuingat, dan aku
kembali masuk pada garis perjuangan.
Ditahun
2016 tak banyak yang kupinta, selain semoga selalu diberi kekuatan dalam menghadapi
semua batu kerikil yang akan membuat perjalanan ini menjadi tak mudah. Semoga
Ayahku lekas sembuh, tak bergantung lagi dengan obat-obatan yang harus
diminumnya setiap hari. Ibuku, semoga beliau selalu diberi kesehatan, umur yang
panjang, dan semoga apa yang menjadi impiannya yang diceritakannya kepadaku,
bisa kuusahakan untuk menjadi kenyataan, insyaAllah nanti mamak akan mengambil
gambar di Mekkah, amiin. Urusan asmara, hmmm, semoga menemui titik terang.
Sekarang,
seiring dengan waktu yang terus berjalan ditahun 2016, adalah tugasku untuk
menjalaninya dan menyelesaikannya dengan baik, berusaha seperti usaha-usahaku
sebelumnya, sembari berharap 2016 akan bersahabat denganku. Kepada 2015,
kusematkan pin kenangan, karena banyak moment yang sulit kulupakan.
Kita hidup dalam impian,
bermimpilah, dan jangan lupa untuk meraihnya. Buatlah resolusi
sebanyak-banyaknya, dan diakhir tahun, cek satu-satu, mana saja impian kita
yang telah kita peluk.


Comments
Post a Comment