Kaki Penantang Seri 3 : Menuju Surabaya
Menuju
Surabaya
Gue masih menunggu ditempat yang sama, masih dengan
kopi susu gelas kedua yang kembali Gue seruput. Selain pasangan, kopi susu
adalah teman yang pas ketika hujan. Setiap tegukan seperti meneguk kenangan,
entah itu pahit atau manis, ketika diteguk semuanya menjadi sama, manis. Beban
rasanya lepas, melayang, dibawa angin yang menjadi pendamping hujan.
Suara yang mengaung dari pengeras suara merusak
ketenangan Gue. Samar-samar dari suara nyaring itu Gue tangkap ruapanya berupa
informasi tentang bis menuju Surabaya yang udah nyampe diterminal dan siap berangkat
dalam sepuluh menit, calon penumpang yang udah beli tiket, diperintah untuk
langsung ke bis. Gue pun beranjak, lari-lari kecil, sambil berusaha mencocokan
nomor mobil yang ada ditiket Gue.
Bis itu pun Gue temukan setelah beberapa kali salah.
Gue masuk, nyari nomor kursi, Gue simpen tas dibagasi, Gue pun duduk dengan
nyaman. Satu kursi disampin Gue masih kosong, mungkin orangnya telat untuk
beberapa menit. Di ujung pintu Gue liat seseorang tergesa, pandangannya nanar,
lalu berhenti tepat didepan Gue. Disimpennya barangnya, lalu dia duduk
disamping Gue. Gue Cuma senyum, dia gak ngebalas. #Kampret.
Gue berusaha duduk dengan nyaman, dari jendela bis Gue
bisa ngeliat satu-satu bis mulai menjauh dari terminal, hingga akhirnya bis
yang Gue tumpangi mulai bergerak perlahan, namun pasti mulai menjauh dari
terminal, hingga akhirnya keriuhan terminal tak lagi terdengar ditelinga,
keramaiannya pun udah luput dari mata. Menjauh, dan semakin jauh.
Tiba-tiba sesuatu terlintas dipikiran Gue. Ajaib
memang, dalam kondisi kayak gini otak Gue rasanya lebih encer dari biasanya.
Sekarang Gue tahu kenapa dulu Gue gak jadi juara kelas ketika sekolah, atau
kenapa Gue gak lulus kuliah dengan IPK yang waaah, Gue salah metode belajar,
andai aja dulu Gue belajar sambil bengong mungkin Gue udah jadi juara kelas,
dan lulus dengan IPK tinggi, lalu disukai banyak cewek, pacaran, menikah,dan
punya banyak anak.
Tentang pergi
jauh dan ketempat baru, tentang itulah yang tiba-tiba Gue pikirkan, lalu Gue
kait-kaitin dengan kehidupan asmara Gue. Gue gak Cuma sekali (Dibaca sering)
ditinggalin cewek yang Gue sayang, pertama-tama Gue sedih, galau, makan gak
teratur, tidur gak nyenyak, jawab ujian salah-salah (yang satu ini emang Gue
gak belajar sih), tapi akhirnya setelah melewati hari-hari yang penuh kesedihan
dan keprihatinan itu Gue bisa balik lagi kayak gini, Gue bisa ngelanjutin hidup
lagi. Caranya satu, Gue pergi jauh dari kenangan pahit itu, bukan dengan
melupakan, tapi dengan mencari dermaga baru.
Sama seperti yang Gue lakuin sekarang, Bandung mungkin
sedang gak bersahabat untuk Gue, Surabaya yang menjadi tujuan Gue, mungkin
bakal sama pada ujungnya, tapi paling
tidak Gue udah berusaha, dan pasti masih ada kenyamanan di Surabaya. Gue yakin
itu.
v
Malam dalam
Perjalanan
Bis kembali melaju. Setelah satu jam sebelumnya, bis
sempat berhenti disebuah rumah makan di Kabupaten Sumedang, sang sopir
sepertinya sudah lama menjadi pelanggan rumah makan itu, lantaran ketika supir
bis turun, Gue saksiin dengan mata kepala Gue sendiri, Ia disambut hangat oleh
yang empunya warung makan. Tapi apalah perduli Gue, Gue bukan anaknya, bukan
tentangganya, dan Dia bukan ibu kos yang suka nagihin uang kosan setiap bulan
ke Gue.
Bagi Gue keramah tamahan itu nomor dua, yang
terpenting adalah kesempatan emas yang datang ke Gue. Setelah berjam-jam
menunggu, Gak bakal kesempatan ini Gue lepasin begitu aja. Gak akan. Gue turun
dari bis, Gue berlari cepat,dan langsung ke WC umum, ini lah maksud Gue dengan
kesempatan yang gak bakal Gue lepas. Beberapa menit, akhirnya Gue bisa menarik
lepas lega. Akhirnya.
Bis melaju kecang, semakin jauh meninggalkan Sumedang,
merangkak menunju Surabaya. Anak muda yang sejak dari terminal duduk disamping
Gue asyik dengan gadgetnya, nada pesannya gak berhenti berbunyi, aah mungkin
dari pacarnya. Gue cek hp, gak ada pesan yang masuk, Gue lupa kalau Gue jomblo.
“Sabirin” ucap Gue membelah dingin suasana.
“Iya Kang, nama saya Adri” balasnya dingin.
“Mahasiswa?”
“Iya Kang” jawabnya sambil menyebut nama salah satu
univeristas terkenal di kota Bandung.
Gue tahu nama kampus itu, dan Gue tahu anak muda ini
bukan anak muda sembarangan. Berdasarkan statistik Gak mudah untuk diterima di
kampus itu. Gue kagum.
“Akang?”
“Saya juga masih mahasiswa, nyambil kerja sih”
Sengaja nggak Gue jelasin lagi kalau Gue mahasiswa
S-2, gak mau nyombong, dan gak mau di bilang tua. Secara, Gue baru 24 tahun.
“Jurusan apa lu Dri?”
“Teknik Kang, Teknik industri”
“Keren atuh”
Gue semakin minder.
“Udah mau lulus?”
“Belum Kang, sebentar lagi, mudah-mudahan” ditutupnya
dengan senyum.
Begitulah, sampe akhirnya suasana mencair. Percakapan
Gue ama dia panjang lebar kesana kemari. Gue jadi tahu asalnya dari mana,
sekarang semester berapa, Gue tatap matanya, Dia natap mata Gue, kita pegangan
tangan, pelukan, pacaran lalu menikah. Gak, gak, jangan ngayal sejauh itulah.
Meskipun pengalaman Gue ditolak dan ditinggalin cewek diatas rata-rata, Gue
tetaplah laki-laki normal, jantan dan tangguh.
“Sering pulang kampung?”
Dia ketawa sebelum menjawab pertanyaan Gue. Gue
kebingungan, barang kali Gue salah nanya
atau apa.
“Gak Kang, belum siap, belum lulus soalnya. Terakhir
pulang 2 tahun yang lalu.” Jawabnya santai.
Dua tahun kawan. Dua tahun bukan waktu yang singkat.
Gue gak tahu dan Gue gak yakin bisa kayak Andri. Gue yang baru-baru di Bandung
aja suka kangen sama orang tua Gue, kadang-kadang justru ngerasa gak betah, dan
lebih sering kepengen pulangnya dari pada betahnya. Ini anak, malah gak pulang
selama dua tahun.
“Kenapa gak pulang aja dulu. Kasian atuh orang tuanya
kangen.”
“Gak tega kang, kalau pulang belum bawa kabar kalau
saya belum lulus. Pengennya saya sih, pas pulang, sekalian pengen ngajak mereka
ke Bandung, buat ke acara wisuda saya Kang. Makanya sekarang saya tunda dulu
niatan pulangnya”
Sesederhana itu sebenarnya tujuan Andri. Dia cuma
pengen orang tuanya ke acara wisuda Dia, udah itu aja. Seperti kebanyakan
cita-cita mahasiswa di Indonesia, bahkan sama seperti impian Gue ketika masih
S-1 dulu.
Kalau Gue mungkin gak menemui halangan berarti. Gue
lulus tepat waktu, ya walaupun dengan IPK yang pas-pasan, yang pas banget buat
ngelamar kerja. Ya kalian tahulah itu berapa. Gak perlu Gue perjelas kan?
Nah, beda dengan kasus Andri. Sebenarnya dari segi
angkatan Gue gak beda jauh sama Andri. Gue angkatan 2010, Andri 2011. Cuma satu
tahun. Harusnya sih, dia emang udah lulus kalau menurut perhitungan normal.
Tapi kan selalu aja ada, segala sesuatu yang gak masuk perhitungan manusia,
tapi tiba-tiba terjadi begitu aja. Begitulah yang kejadian sama Andri. Sebagai
pendatang baru di kota Bandung, dulu Ia sempat kelabakan, salah pergaulan,
seringnya keluar malam, kuliah pun berantakan. Lebih banyak bolosnya dari pada
masuknya. Alhasil nilanya pun jadi tak beraturan. Lebih banyak C dan D nya dari
B apa lagi A nya.
Namun suatu ketika, undangan wisuda dari teman
seangkatannya diterimanya. Ia baru sadar, kalau Dia melewatkan banyak hal.
Melewatkan waktu-waktu perkuliahan yang harusnya diikutinnya. Gak cuma itu,
suatu ketika Ibunya menelpon, juga memberi kabar yang sama, tentang beberapa
saudara sepupunya yang seusia dengannya, yang juga masuk kuliah ditahun yang
sama, udah pada wisuda. Tinggal dia, sejak itu seperti ada sesuatu yang
menampar kedua belah pipinya, yang lalu membuatnya sadar, kalau ternyata sudah
terlalu banyak yang Dia sia-siakan.
Dia pun kembali pada jalan yang benar, kembali pada
hakikatnya seorang mahasiswa sejati. Walaupun harus dengan tertatih-tatih.
Paling tidak, sekarang Dia sudah pada garis yang benar.
Kita mengenal istilah, lebih baik terlambat dari pada
tidak sama sekali. Nah begitulah menurut Gue tentang kejadian yang dialami
Andri. Dia udah mencoba berbalik arah, dan itu sudah lebih baik dari pada Dia
gak mencoba sama sekali. Gue yakin, selalu ada jalan untuk setiap niat baik,
seperti niat Andri, dan Gak mungkin Tuhan gak ngasik kemudahan untuk niat
setiap anak yang ingin ngebahagiain orang tuanya.
Gue yakin Andri bakal bisa ngelewatin semuanya. Gue
kasih nomor HP Gue ke Dia, ketika Dia wisuda nanti, Gue minta di undang, karena
Gue mau menjadi saksi dari usaha keras yang gak pernah mengkhianati.

Comments
Post a Comment