JASA AUDIT LAPORAN KEUANGAN HISTORIS | JASA AUDIT REVIU | JASA ASSURANCE LAINNYA | KONTAK BISNIS : 0856 5416 9903 / 0811 575 787

Kaki Penantang Seri 3 : Menuju Surabaya

Menuju Surabaya
Gue masih menunggu ditempat yang sama, masih dengan kopi susu gelas kedua yang kembali Gue seruput. Selain pasangan, kopi susu adalah teman yang pas ketika hujan. Setiap tegukan seperti meneguk kenangan, entah itu pahit atau manis, ketika diteguk semuanya menjadi sama, manis. Beban rasanya lepas, melayang, dibawa angin yang menjadi pendamping hujan.
Suara yang mengaung dari pengeras suara merusak ketenangan Gue. Samar-samar dari suara nyaring itu Gue tangkap ruapanya berupa informasi tentang bis menuju Surabaya yang udah nyampe diterminal dan siap berangkat dalam sepuluh menit, calon penumpang yang udah beli tiket, diperintah untuk langsung ke bis. Gue pun beranjak, lari-lari kecil, sambil berusaha mencocokan nomor mobil yang ada ditiket Gue.
Bis itu pun Gue temukan setelah beberapa kali salah. Gue masuk, nyari nomor kursi, Gue simpen tas dibagasi, Gue pun duduk dengan nyaman. Satu kursi disampin Gue masih kosong, mungkin orangnya telat untuk beberapa menit. Di ujung pintu Gue liat seseorang tergesa, pandangannya nanar, lalu berhenti tepat didepan Gue. Disimpennya barangnya, lalu dia duduk disamping Gue. Gue Cuma senyum, dia gak ngebalas. #Kampret.
Gue berusaha duduk dengan nyaman, dari jendela bis Gue bisa ngeliat satu-satu bis mulai menjauh dari terminal, hingga akhirnya bis yang Gue tumpangi mulai bergerak perlahan, namun pasti mulai menjauh dari terminal, hingga akhirnya keriuhan terminal tak lagi terdengar ditelinga, keramaiannya pun udah luput dari mata. Menjauh, dan semakin jauh.
Tiba-tiba sesuatu terlintas dipikiran Gue. Ajaib memang, dalam kondisi kayak gini otak Gue rasanya lebih encer dari biasanya. Sekarang Gue tahu kenapa dulu Gue gak jadi juara kelas ketika sekolah, atau kenapa Gue gak lulus kuliah dengan IPK yang waaah, Gue salah metode belajar, andai aja dulu Gue belajar sambil bengong mungkin Gue udah jadi juara kelas, dan lulus dengan IPK tinggi, lalu disukai banyak cewek, pacaran, menikah,dan punya banyak anak.
 Tentang pergi jauh dan ketempat baru, tentang itulah yang tiba-tiba Gue pikirkan, lalu Gue kait-kaitin dengan kehidupan asmara Gue. Gue gak Cuma sekali (Dibaca sering) ditinggalin cewek yang Gue sayang, pertama-tama Gue sedih, galau, makan gak teratur, tidur gak nyenyak, jawab ujian salah-salah (yang satu ini emang Gue gak belajar sih), tapi akhirnya setelah melewati hari-hari yang penuh kesedihan dan keprihatinan itu Gue bisa balik lagi kayak gini, Gue bisa ngelanjutin hidup lagi. Caranya satu, Gue pergi jauh dari kenangan pahit itu, bukan dengan melupakan, tapi dengan mencari dermaga baru.
Sama seperti yang Gue lakuin sekarang, Bandung mungkin sedang gak bersahabat untuk Gue, Surabaya yang menjadi tujuan Gue, mungkin bakal sama pada  ujungnya, tapi paling tidak Gue udah berusaha, dan pasti masih ada kenyamanan di Surabaya. Gue yakin itu.
v   
Malam dalam Perjalanan
Bis kembali melaju. Setelah satu jam sebelumnya, bis sempat berhenti disebuah rumah makan di Kabupaten Sumedang, sang sopir sepertinya sudah lama menjadi pelanggan rumah makan itu, lantaran ketika supir bis turun, Gue saksiin dengan mata kepala Gue sendiri, Ia disambut hangat oleh yang empunya warung makan. Tapi apalah perduli Gue, Gue bukan anaknya, bukan tentangganya, dan Dia bukan ibu kos yang suka nagihin uang kosan setiap bulan ke Gue.
Bagi Gue keramah tamahan itu nomor dua, yang terpenting adalah kesempatan emas yang datang ke Gue. Setelah berjam-jam menunggu, Gak bakal kesempatan ini Gue lepasin begitu aja. Gak akan. Gue turun dari bis, Gue berlari cepat,dan langsung ke WC umum, ini lah maksud Gue dengan kesempatan yang gak bakal Gue lepas. Beberapa menit, akhirnya Gue bisa menarik lepas lega. Akhirnya. 
Bis melaju kecang, semakin jauh meninggalkan Sumedang, merangkak menunju Surabaya. Anak muda yang sejak dari terminal duduk disamping Gue asyik dengan gadgetnya, nada pesannya gak berhenti berbunyi, aah mungkin dari pacarnya. Gue cek hp, gak ada pesan yang masuk, Gue lupa kalau Gue jomblo.
“Sabirin” ucap Gue membelah dingin suasana.
“Iya Kang, nama saya Adri” balasnya dingin.
“Mahasiswa?”
“Iya Kang” jawabnya sambil menyebut nama salah satu univeristas terkenal di kota Bandung.
Gue tahu nama kampus itu, dan Gue tahu anak muda ini bukan anak muda sembarangan. Berdasarkan statistik Gak mudah untuk diterima di kampus itu. Gue kagum.
“Akang?”
“Saya juga masih mahasiswa, nyambil kerja sih”
Sengaja nggak Gue jelasin lagi kalau Gue mahasiswa S-2, gak mau nyombong, dan gak mau di bilang tua. Secara, Gue baru 24 tahun.
“Jurusan apa lu Dri?”
“Teknik Kang, Teknik industri”
“Keren atuh”
Gue semakin minder.
“Udah mau lulus?”
“Belum Kang, sebentar lagi, mudah-mudahan” ditutupnya dengan senyum.
Begitulah, sampe akhirnya suasana mencair. Percakapan Gue ama dia panjang lebar kesana kemari. Gue jadi tahu asalnya dari mana, sekarang semester berapa, Gue tatap matanya, Dia natap mata Gue, kita pegangan tangan, pelukan, pacaran lalu menikah. Gak, gak, jangan ngayal sejauh itulah. Meskipun pengalaman Gue ditolak dan ditinggalin cewek diatas rata-rata, Gue tetaplah laki-laki normal, jantan dan tangguh.
“Sering pulang kampung?”
Dia ketawa sebelum menjawab pertanyaan Gue. Gue kebingungan, barang  kali Gue salah nanya atau apa.
“Gak Kang, belum siap, belum lulus soalnya. Terakhir pulang 2 tahun yang lalu.” Jawabnya santai.
Dua tahun kawan. Dua tahun bukan waktu yang singkat. Gue gak tahu dan Gue gak yakin bisa kayak Andri. Gue yang baru-baru di Bandung aja suka kangen sama orang tua Gue, kadang-kadang justru ngerasa gak betah, dan lebih sering kepengen pulangnya dari pada betahnya. Ini anak, malah gak pulang selama dua tahun.
“Kenapa gak pulang aja dulu. Kasian atuh orang tuanya kangen.”
“Gak tega kang, kalau pulang belum bawa kabar kalau saya belum lulus. Pengennya saya sih, pas pulang, sekalian pengen ngajak mereka ke Bandung, buat ke acara wisuda saya Kang. Makanya sekarang saya tunda dulu niatan pulangnya”
Sesederhana itu sebenarnya tujuan Andri. Dia cuma pengen orang tuanya ke acara wisuda Dia, udah itu aja. Seperti kebanyakan cita-cita mahasiswa di Indonesia, bahkan sama seperti impian Gue ketika masih S-1 dulu.
Kalau Gue mungkin gak menemui halangan berarti. Gue lulus tepat waktu, ya walaupun dengan IPK yang pas-pasan, yang pas banget buat ngelamar kerja. Ya kalian tahulah itu berapa. Gak perlu Gue perjelas kan?
Nah, beda dengan kasus Andri. Sebenarnya dari segi angkatan Gue gak beda jauh sama Andri. Gue angkatan 2010, Andri 2011. Cuma satu tahun. Harusnya sih, dia emang udah lulus kalau menurut perhitungan normal. Tapi kan selalu aja ada, segala sesuatu yang gak masuk perhitungan manusia, tapi tiba-tiba terjadi begitu aja. Begitulah yang kejadian sama Andri. Sebagai pendatang baru di kota Bandung, dulu Ia sempat kelabakan, salah pergaulan, seringnya keluar malam, kuliah pun berantakan. Lebih banyak bolosnya dari pada masuknya. Alhasil nilanya pun jadi tak beraturan. Lebih banyak C dan D nya dari B apa lagi A nya.
Namun suatu ketika, undangan wisuda dari teman seangkatannya diterimanya. Ia baru sadar, kalau Dia melewatkan banyak hal. Melewatkan waktu-waktu perkuliahan yang harusnya diikutinnya. Gak cuma itu, suatu ketika Ibunya menelpon, juga memberi kabar yang sama, tentang beberapa saudara sepupunya yang seusia dengannya, yang juga masuk kuliah ditahun yang sama, udah pada wisuda. Tinggal dia, sejak itu seperti ada sesuatu yang menampar kedua belah pipinya, yang lalu membuatnya sadar, kalau ternyata sudah terlalu banyak yang Dia sia-siakan.
Dia pun kembali pada jalan yang benar, kembali pada hakikatnya seorang mahasiswa sejati. Walaupun harus dengan tertatih-tatih. Paling tidak, sekarang Dia sudah pada garis yang benar.
Kita mengenal istilah, lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali. Nah begitulah menurut Gue tentang kejadian yang dialami Andri. Dia udah mencoba berbalik arah, dan itu sudah lebih baik dari pada Dia gak mencoba sama sekali. Gue yakin, selalu ada jalan untuk setiap niat baik, seperti niat Andri, dan Gak mungkin Tuhan gak ngasik kemudahan untuk niat setiap anak yang ingin ngebahagiain orang tuanya.
Gue yakin Andri bakal bisa ngelewatin semuanya. Gue kasih nomor HP Gue ke Dia, ketika Dia wisuda nanti, Gue minta di undang, karena Gue mau menjadi saksi dari usaha keras yang gak pernah mengkhianati.

Comments

Posting Terpopuler