JASA AUDIT LAPORAN KEUANGAN HISTORIS | JASA AUDIT REVIU | JASA ASSURANCE LAINNYA | KONTAK BISNIS : 0856 5416 9903 / 0811 575 787

Kutitipkan Ia padaMu Tuhan.



Namaku Ema, 20 tahun, seorang mahasiswi dari salah satu universitas terkenal di pulau jawa. Sekilas, aku terlihat sama seperti mahasiswi-mahasiswi lainnya. Bahkan kurasa, aku punya banyak kelebihan dari pada mereka, aku cantik, pintar, dan aku hampir punya semuanya. Aku punya lingkungan yang baik, teman-teman yang baik dan yang terpenting, aku memiliki Ibu yang luar biasa kasih sayangnya. Hanya satu keresahan yang kumiliki, keresahan ini sebenarnya sangat kurahasikan, dan sudah kutelan sendiri pahitnya selama bertahun-tahun. Hanya saja kali ini, aku sudah tak kuasa menahannya, karena kurasa, kalian pun pantas tahu dengan kisahku.
v   
     Kudapati ayahku sudah terbaring lemah tak sadarkan diri. Badanku lemas, mulutku kaku, lalu air mataku berderai. Kutanyakan pada Ibu, sebenarnanya ada apa dengan ayah? Ibu tak mampu menjawab, air matanya tak berhenti. Kutanyakan pada semua keluarga yang berkumpul, mereka menatapku dengan segan, tak satu pun diantara mereka yang berani menjawab.
     Lalu kunikmati kesedihanku tepat disamping ayahku.
     Tak lama, kusaksikan jemari ayahku bergerak, mulutnya berisyarat seperti hendak berbicara. Digenggamnya tanganku, ditariknya perlahan kearahnya, lalu kudekatkan telingaku padanya. Walau berbisik, suara ayah tak sedikit pun samar dipendengearanku.
     “Tanyakan pada Ibumu Nak” ucap ayahku terbata-bata.
     Aku tersentak mendengar ucapan Ayah. Aku semakin dibuat bingung. Sebenarnya ada rahasia apa ini. Ada apa denganku. Apakah ayah dan Ibu takut aku terkena penyakit jantung, hingga semuanya harus dirahasiakan dariku.
     Aku lalu menemui Ibu diruang tunggu. Disitu kudapati Ibu tengah melipat air matanya. Kulihat semua keluara juga berkumpul diruang tunggu, satu persatu mereka berusaha menenangkan Ibuku.
     “Ibu, Ayah menyuruhku untuk bertanya pada Ibu. Tapi, Ayah tak memberi tahu tentang apa yang harus kutanyakan. Aku mohon Ibu, ceritakan saja semuanya padaku, apa pun itu, aku sudah siap mendengarnya.”
     Ibuku justru semakin lemah, air matanya semakin berderai, tangisannya tersedu-sedu. Ia tak mampu menjawab walau hanya sepatah kata. Kuingat waktu itu, mata Ibu menatapku dengan getir. Ibu lalu berlari menuju ruangan tempat ayah terbaring lemah. Kuikuti langkahnya, sampai di sana, tangisan Ibuku justru semakin menjadi.
     Kupinta Ibu untuk tetap tenang, aku hanya ingin semuanya baik-baik saja. Aku hanya ingin tahu apa yang semestinya aku ketahui.
     “Ibu ada apa ini, kenapa Ibu sebegitu sedihnya. Ada apa sebenarnya denganku Ibu?” tanyaku lembut.
     Mendengar pertanyaanku, kesedihan Ibuku justru semakin tak terbendung. Kupeluk Ibu erat-erat, tangisnya kembali pecah dalam pelukanku.
     Sepersekian detik kemudian, tiba-tiba saja sepasang suami istri yang selama ini kukenal sebagai Om dan Tante hadir dalam ruangan yang berurai kesedihan itu. Ada yang beda ketika mereka dengan kehadiran mereka, seperti embun dipagi hari. Tiba-tiba saja ruangan tempat Ayahku dirawat menjadi lebih tenang.
     Laki-laki lembut yang kupanggil dengan Om itu lalu mengusap bahuku, mencoba menenangkanku. Ada yang beda memang, ketika tangannya perlahan menyentuh bahuku, ada sesuatu yang selama ini tak mampu kurasakan pada Ayahku sendiri. Entah mengapa aku menjadi lebih tenang. Tante, ya Dia yang kupanggil dengan tante itu, mencoba menenangkan Ibuku. Kusaksikan, perlahan tangisan Ibu mulai hilang, walaupun sedikit, tapi senyum ibuku sudah mulai terlukis.
     Kulupakan semua tentang pertanyaanku, tentang apa yang dibicarakan oleh Ayahku. Tiba-tiba saja aku menjadi tidak perduli dengan rasa penasaranku sendiri.
v   

     Dua hari kemudian, keadaan ayahku semakin tak membaik. Terhitung genap dua hari sudah Ayahku tak sadarkan diri. Tak seperti hari biasanya, sudah dua hari ini pula, Ayah seolah enggan berkomunikasi dengan kami. Biasanya, jari jemari Ayah selalu bergerak, seperti mengajak kami untuk bicara. Dua hari ini, Ayah hanya diam, jemarinya pun sudah tak mampu lagi Ia gerakan. Aku, dan Ibu pun semakin dihantui rasa cemas.
     Jujur, aku tak mampu membayangkan diriku menjadi anak yatim. Aku juga tak sanggup membayangkan Ibuku tinggal seorang diri. Aku tak mampu membayangkan betapa susahnya kami tanpa Ayah.
     “Tuhan kami masih membutuhkan Ayah. Janganlah kau ambil Dia terlalu cepat Tuhan. Sembuhkan lah Ayah hamba Tuhan”. Dalam hati doa seperti ini lah yang terus bergumam. Bahkan saat aku tak mampu terjaga, dalam fantasi, aku pun berdoa seperti itu.
     Aku sangat takut kehilangan Ayahku.
     Siangnya, kondisi Ayah berbalik. Perlahan detak jantung Ayah kembali normal. Kuketahui itu, dari alat yang terletak gagah disamping ayahku. Seperti keajaiban dari kantong ajaibnya doraemon, secepat itu pula kondisi Ayah mulai membaik. Jari jemarinya sudah bisa Ia gerakan,bahkan untuk bicara Ayah juga sudah mampu, walaupun nada suaranya pelan.
     Dua hari berlalu, kondisi Ayah sudah hampir pulih. Rencananya sore hari Ayah sudah bisa kembali kerumah. Perasaanku senang tak terkira, itu artinya, besok ketika pagi mulai meraja, sudah akan ada Ayah yang akan menemaniku ketika sarapan, dan sudah akan ada Ayah yang akan mengecup keningku setiap pagi.
     Sore itu menjadi sore yang sangat kutunggu.
v   

     Sepanjang hari di kampus, bayangan Ayah tak bisa kulepaskan. Sungguh Aku tak sabar untuk segera pulang ke rumah. Karena Ayah pasti sudah menungguku dirumah.
     Akhirnya, jam kuliah pun selesai. Saatnya untuk pulang. Entah mengapa aku tak pernah sebahagia ini jika jam perkuliahan sudah berakhir. Senyum Ayah adalah penyebab dari semua ini. Aku ingin segera menyaksikan senyum Ayah yang menyambutku ketika aku sampai dirumah. Kecupan kening dari Ayah, itu adalah penyebab kedua, kenapa aku ingin segera pulang.
     Sesampai dirumah, kusaksikan rumah lowong. Tak ada satupun penghuni kudapati. Ayah, Ia belum ada dirumah. Kususuri seisi rumah, tetap tak kudapati seorang pun.
     Kucek handphonku, ada banyak pesan yang masuk. Memang sejak aku berkendara tadi, hpku selalu bergetar. Hanya saja aku tak menghiraukannya, rasa rinduku terhadap ayah jauh lebih besar dari rasa penasaranku terhadap getaran hpku. Kubuka, ada banyak pesan yang masuk. Terutama pesan dari Ibuku.
     “Nak kerumah sakit sekarang” itu saja isinya pesan dari Ibuku. Tak ada penjelasan lain.
     “Ada apa ini?” tanya benakku.
     Kucoba telepon Ibuku, namun Ibu tak menjawab teleponku.
     Aku semakin khawatir.
     Sepersekian detik kemudian, kuterima kembali pesan dari ibu.
     “Kesini saja Nak” pesan Ibuku singkat.
     Aku langsung memacu sepeda motorku dengan rasa cemas yang memenuhi dadaku. Ingin pecah rasanya. Sekuat tenaga aku berusaha menahannya, namun air mataku, sudah tak mampu kutahan. Air mataku berderai sepanjang jalan. Bahkan angin jalanan tak mampu menghentikannya.
     Perjalanan kerumah sakit terasa singkat. Sesampai disana, kudapati sudah banyak sekali keluargaku yang berkumpul.
     Perasaanku semakin cemas.
     Kuperhatikan, semua mata mereka menatapku dengan rasa kasian dan iba. Dadaku kembali berkecamuk. Kupercepat langkahku. Didepan pintu ruangan Ayahku dirawat, Om dan tanteku saling berpelukan dengan air mata dikedua pipi mereka. Sesaat sebelum masuk ruangan, mereka sempat menghentikan langkahku. Lalu memelukku dengan erat.
     Aku semakin takut.
v   
Aku pun masuk diruangan tempat Ayahku dirawat. Seketika, ruangan itu seperti malam tanpa bulan. Gelap gulita. Seperti malam, yang ditinggalkan sang pagi. Seperti mentari yang tertelan selamanya. Kusaksikan, tubuh Ayahku sudah tertutup kain putih. Seketika kaki lemah, mulutku kaku, dan air mataku, ia membanjiri pipiku.
Kucoba membangunkan Ayahku, aku berteriak sejadi-jadinya memintanya untuk bangun. Kupinta Ia untuk mengecup keningku lagi. Kukatakan jika aku sangat ingin melihat Ia tersenyum.
“Ayah bangun, bangun, bangun” ucapku sembari menggerakan tubuhnya yang lemas.
Permintaanku tetap tak didengarnya. Bahkan Air mataku yang tumpah, tak bisa membuatnya kembali terbangun. Ayahku pergi. Ia pergi tanpa rasa iba pada tangisanku dan ibu. Namun yang pasti Ayahku telah pergi ketempat yang lebih indah dengan senyum yang terukir diwajah pucatnya.
v   
     Ayahmu tiba-tiba saja koma, kami sudah berusaha semampu kami, namun Ayahmu tetap tak tertolong. Seperti itu lah penjelasan dokter yang berusaha kuterima sampai sekarang. Ayah memang sudah pergi sejak dua tahun yang lalu. Namun, hingga saat ini Ayah masih ada didekatku. Bayang Ayah tak pernah lekang dalam benakku. Bahkan setiap aku memejamkan mata, aku merasakan kehadiran Ayah disampingku.
     Ayah, kau memang telah jauh disana, aku juga sudah tak bisa melihat senyummu lagi, aku juga tak akan pernah bisa mencium tanganmu lagi sebagai tanda sayang dan hormatku padamu. Tapi, namamu selalu dalam doaku, setiap panggilan Tuhan kuringi doaku yang panjang untukmu disana. Aku harap kau baik-baik saja, dan ikut serta memanen doa yang kukirim setiap hari untukmu.
     Ayah, terhitung sudah enam kali aku menghantamkan alquran atas namamu, semoga disana Ayah mendapat tempat yang luas dan menunggu hari akhir hanya dengan beristirahat tenang, dan terbebas dari siksa kubur.
     Ayah, Aku yakin, saat ini kau pun tahu, jika aku sangat merindukanmu. Ayah, Tuhan itu sangat bermurah hati padaku, karena setiap aku merindukanmu, Tuhan selalu mengirimkan Ayah dimimpiku.
     Ayah, semoga Ayah baik-baik disana, karena Aku sudah meminta Tuhan untuk menjaga Ayah.

Ayah, melalui similir angin, kusampaikan rinduku.
Kuharap, sang angin akan berbaik hati
Lalu menyampaikan rinduku padamu.

(Bersambung)



-anak selatan-

Comments

Posting Terpopuler