Kutitipkan Ia padaMu Tuhan.
Namaku Ema, 20 tahun, seorang
mahasiswi dari salah satu universitas terkenal di pulau jawa. Sekilas, aku
terlihat sama seperti mahasiswi-mahasiswi lainnya. Bahkan kurasa, aku punya
banyak kelebihan dari pada mereka, aku cantik, pintar, dan aku hampir punya
semuanya. Aku punya lingkungan yang baik, teman-teman yang baik dan yang
terpenting, aku memiliki Ibu yang luar biasa kasih sayangnya. Hanya satu
keresahan yang kumiliki, keresahan ini sebenarnya sangat kurahasikan, dan sudah
kutelan sendiri pahitnya selama bertahun-tahun. Hanya saja kali ini, aku sudah
tak kuasa menahannya, karena kurasa, kalian pun pantas tahu dengan kisahku.
v
Kudapati
ayahku sudah terbaring lemah tak sadarkan diri. Badanku lemas, mulutku kaku,
lalu air mataku berderai. Kutanyakan pada Ibu, sebenarnanya ada apa dengan
ayah? Ibu tak mampu menjawab, air matanya tak berhenti. Kutanyakan pada semua
keluarga yang berkumpul, mereka menatapku dengan segan, tak satu pun diantara
mereka yang berani menjawab.
Lalu
kunikmati kesedihanku tepat disamping ayahku.
Tak
lama, kusaksikan jemari ayahku bergerak, mulutnya berisyarat seperti hendak
berbicara. Digenggamnya tanganku, ditariknya perlahan kearahnya, lalu
kudekatkan telingaku padanya. Walau berbisik, suara ayah tak sedikit pun samar
dipendengearanku.
“Tanyakan
pada Ibumu Nak” ucap ayahku terbata-bata.
Aku
tersentak mendengar ucapan Ayah. Aku semakin dibuat bingung. Sebenarnya ada
rahasia apa ini. Ada apa denganku. Apakah ayah dan Ibu takut aku terkena penyakit
jantung, hingga semuanya harus dirahasiakan dariku.
Aku
lalu menemui Ibu diruang tunggu. Disitu kudapati Ibu tengah melipat air
matanya. Kulihat semua keluara juga berkumpul diruang tunggu, satu persatu
mereka berusaha menenangkan Ibuku.
“Ibu,
Ayah menyuruhku untuk bertanya pada Ibu. Tapi, Ayah tak memberi tahu tentang
apa yang harus kutanyakan. Aku mohon Ibu, ceritakan saja semuanya padaku, apa
pun itu, aku sudah siap mendengarnya.”
Ibuku
justru semakin lemah, air matanya semakin berderai, tangisannya tersedu-sedu.
Ia tak mampu menjawab walau hanya sepatah kata. Kuingat waktu itu, mata Ibu
menatapku dengan getir. Ibu lalu berlari menuju ruangan tempat ayah terbaring
lemah. Kuikuti langkahnya, sampai di sana, tangisan Ibuku justru semakin
menjadi.
Kupinta
Ibu untuk tetap tenang, aku hanya ingin semuanya baik-baik saja. Aku hanya
ingin tahu apa yang semestinya aku ketahui.
“Ibu
ada apa ini, kenapa Ibu sebegitu sedihnya. Ada apa sebenarnya denganku Ibu?”
tanyaku lembut.
Mendengar
pertanyaanku, kesedihan Ibuku justru semakin tak terbendung. Kupeluk Ibu
erat-erat, tangisnya kembali pecah dalam pelukanku.
Sepersekian
detik kemudian, tiba-tiba saja sepasang suami istri yang selama ini kukenal
sebagai Om dan Tante hadir dalam ruangan yang berurai kesedihan itu. Ada yang
beda ketika mereka dengan kehadiran mereka, seperti embun dipagi hari.
Tiba-tiba saja ruangan tempat Ayahku dirawat menjadi lebih tenang.
Laki-laki
lembut yang kupanggil dengan Om itu lalu mengusap bahuku, mencoba
menenangkanku. Ada yang beda memang, ketika tangannya perlahan menyentuh
bahuku, ada sesuatu yang selama ini tak mampu kurasakan pada Ayahku sendiri.
Entah mengapa aku menjadi lebih tenang. Tante, ya Dia yang kupanggil dengan
tante itu, mencoba menenangkan Ibuku. Kusaksikan, perlahan tangisan Ibu mulai
hilang, walaupun sedikit, tapi senyum ibuku sudah mulai terlukis.
Kulupakan
semua tentang pertanyaanku, tentang apa yang dibicarakan oleh Ayahku. Tiba-tiba
saja aku menjadi tidak perduli dengan rasa penasaranku sendiri.
v
Dua
hari kemudian, keadaan ayahku semakin tak membaik. Terhitung genap dua hari
sudah Ayahku tak sadarkan diri. Tak seperti hari biasanya, sudah dua hari ini
pula, Ayah seolah enggan berkomunikasi dengan kami. Biasanya, jari jemari Ayah
selalu bergerak, seperti mengajak kami untuk bicara. Dua hari ini, Ayah hanya
diam, jemarinya pun sudah tak mampu lagi Ia gerakan. Aku, dan Ibu pun semakin
dihantui rasa cemas.
Jujur,
aku tak mampu membayangkan diriku menjadi anak yatim. Aku juga tak sanggup
membayangkan Ibuku tinggal seorang diri. Aku tak mampu membayangkan betapa
susahnya kami tanpa Ayah.
“Tuhan kami masih membutuhkan Ayah.
Janganlah kau ambil Dia terlalu cepat Tuhan. Sembuhkan lah Ayah hamba Tuhan”.
Dalam hati doa seperti ini lah yang terus bergumam. Bahkan saat aku tak mampu
terjaga, dalam fantasi, aku pun berdoa seperti itu.
Aku
sangat takut kehilangan Ayahku.
Siangnya,
kondisi Ayah berbalik. Perlahan detak jantung Ayah kembali normal. Kuketahui
itu, dari alat yang terletak gagah disamping ayahku. Seperti keajaiban dari
kantong ajaibnya doraemon, secepat itu pula kondisi Ayah mulai membaik. Jari
jemarinya sudah bisa Ia gerakan,bahkan untuk bicara Ayah juga sudah mampu,
walaupun nada suaranya pelan.
Dua
hari berlalu, kondisi Ayah sudah hampir pulih. Rencananya sore hari Ayah sudah
bisa kembali kerumah. Perasaanku senang tak terkira, itu artinya, besok ketika
pagi mulai meraja, sudah akan ada Ayah yang akan menemaniku ketika sarapan, dan
sudah akan ada Ayah yang akan mengecup keningku setiap pagi.
Sore
itu menjadi sore yang sangat kutunggu.
v
Sepanjang
hari di kampus, bayangan Ayah tak bisa kulepaskan. Sungguh Aku tak sabar untuk
segera pulang ke rumah. Karena Ayah pasti sudah menungguku dirumah.
Akhirnya,
jam kuliah pun selesai. Saatnya untuk pulang. Entah mengapa aku tak pernah
sebahagia ini jika jam perkuliahan sudah berakhir. Senyum Ayah adalah penyebab
dari semua ini. Aku ingin segera menyaksikan senyum Ayah yang menyambutku
ketika aku sampai dirumah. Kecupan kening dari Ayah, itu adalah penyebab kedua,
kenapa aku ingin segera pulang.
Sesampai
dirumah, kusaksikan rumah lowong. Tak ada satupun penghuni kudapati. Ayah, Ia
belum ada dirumah. Kususuri seisi rumah, tetap tak kudapati seorang pun.
Kucek
handphonku, ada banyak pesan yang
masuk. Memang sejak aku berkendara tadi, hpku
selalu bergetar. Hanya saja aku tak menghiraukannya, rasa rinduku terhadap ayah
jauh lebih besar dari rasa penasaranku terhadap getaran hpku. Kubuka, ada banyak pesan yang masuk. Terutama pesan dari
Ibuku.
“Nak
kerumah sakit sekarang” itu saja isinya pesan dari Ibuku. Tak ada penjelasan
lain.
“Ada
apa ini?” tanya benakku.
Kucoba
telepon Ibuku, namun Ibu tak menjawab teleponku.
Aku
semakin khawatir.
Sepersekian
detik kemudian, kuterima kembali pesan dari ibu.
“Kesini
saja Nak” pesan Ibuku singkat.
Aku
langsung memacu sepeda motorku dengan rasa cemas yang memenuhi dadaku. Ingin
pecah rasanya. Sekuat tenaga aku berusaha menahannya, namun air mataku, sudah
tak mampu kutahan. Air mataku berderai sepanjang jalan. Bahkan angin jalanan
tak mampu menghentikannya.
Perjalanan
kerumah sakit terasa singkat. Sesampai disana, kudapati sudah banyak sekali
keluargaku yang berkumpul.
Perasaanku
semakin cemas.
Kuperhatikan,
semua mata mereka menatapku dengan rasa kasian dan iba. Dadaku kembali
berkecamuk. Kupercepat langkahku. Didepan pintu ruangan Ayahku dirawat, Om dan
tanteku saling berpelukan dengan air mata dikedua pipi mereka. Sesaat sebelum
masuk ruangan, mereka sempat menghentikan langkahku. Lalu memelukku dengan
erat.
Aku
semakin takut.
v
Aku pun masuk diruangan
tempat Ayahku dirawat. Seketika, ruangan itu seperti malam tanpa bulan. Gelap
gulita. Seperti malam, yang ditinggalkan sang pagi. Seperti mentari yang
tertelan selamanya. Kusaksikan, tubuh Ayahku sudah tertutup kain putih.
Seketika kaki lemah, mulutku kaku, dan air mataku, ia membanjiri pipiku.
Kucoba membangunkan
Ayahku, aku berteriak sejadi-jadinya memintanya untuk bangun. Kupinta Ia untuk
mengecup keningku lagi. Kukatakan jika aku sangat ingin melihat Ia tersenyum.
“Ayah bangun, bangun,
bangun” ucapku sembari menggerakan tubuhnya yang lemas.
Permintaanku tetap tak
didengarnya. Bahkan Air mataku yang tumpah, tak bisa membuatnya kembali
terbangun. Ayahku pergi. Ia pergi tanpa rasa iba pada tangisanku dan ibu. Namun
yang pasti Ayahku telah pergi ketempat yang lebih indah dengan senyum yang
terukir diwajah pucatnya.
v
Ayahmu
tiba-tiba saja koma, kami sudah berusaha semampu kami, namun Ayahmu tetap tak
tertolong. Seperti itu lah penjelasan dokter yang berusaha kuterima sampai
sekarang. Ayah memang sudah pergi sejak dua tahun yang lalu. Namun, hingga saat
ini Ayah masih ada didekatku. Bayang Ayah tak pernah lekang dalam benakku.
Bahkan setiap aku memejamkan mata, aku merasakan kehadiran Ayah disampingku.
Ayah,
kau memang telah jauh disana, aku juga sudah tak bisa melihat senyummu lagi,
aku juga tak akan pernah bisa mencium tanganmu lagi sebagai tanda sayang dan
hormatku padamu. Tapi, namamu selalu dalam doaku, setiap panggilan Tuhan
kuringi doaku yang panjang untukmu disana. Aku harap kau baik-baik saja, dan
ikut serta memanen doa yang kukirim setiap hari untukmu.
Ayah,
terhitung sudah enam kali aku menghantamkan alquran atas namamu, semoga disana
Ayah mendapat tempat yang luas dan menunggu hari akhir hanya dengan
beristirahat tenang, dan terbebas dari siksa kubur.
Ayah,
Aku yakin, saat ini kau pun tahu, jika aku sangat merindukanmu. Ayah, Tuhan itu
sangat bermurah hati padaku, karena setiap aku merindukanmu, Tuhan selalu
mengirimkan Ayah dimimpiku.
Ayah,
semoga Ayah baik-baik disana, karena Aku sudah meminta Tuhan untuk menjaga
Ayah.
Ayah, melalui similir angin,
kusampaikan rinduku.
Kuharap, sang angin akan berbaik hati
Lalu menyampaikan rinduku padamu.
(Bersambung)
-anak selatan-



Comments
Post a Comment