“Biar miskin, kau harus tetap sekolah”
Itulah yang ayahku katakan, ketika
aku baru saja menyelesaikan ujian akhir sekolah dibangku SMA. Kau tahu kawan
apa yang kurasakan saat itu?
Aku bak embun kawan. Seperti embun
yang tertelan perlahan oleh mentari. Bahkan aku tak mampu melakukan sesuatu
untuk ayahku saat itu. Aku hanya mampu menatap mata lembutnya yang mulai
memerah namun kembali cerah, seolah tak ingin membawaku dalam kesedihan dan
kesusahan hidup.
Ayahku kemudian menatapku dengan
tatapannya yang lembut nan dalam, seolah membuang keraguan yang ada dalam
diriku, dan ingin mempertegas bahwa ucapannya tadi bukanlah omong kosong atau
sekadar untuk menghiburku.
Kutatap Ayahku dari ujung kepala
hingga ujung kaki, tak kuliat satu hiasan pun pada dirinya yang bisa Ia jual untuk
pendidikanku. Ayahku, lelaki lembut itu bukanlah tipe orang suka memakai
perhiasan, Dia tidak menggunakan jam tangan, bahkan cincin kawin pun tidak.
Kubayangkan lagi Ibuku, mereka sama,
Ibuku juga tak punya perhiasan dijari manisnya. Aku pun mulai ragu dengan
ucapan Ayahku.
Lelaki lembut itu lalu menepuk
bahuku, tubuh kecilku dipeluknya dengan erat, dan saat itu lah aku yakin, bahwa
Ayahku tak akan berbual dengan ucapannya.
Dan akhirnya, aku bisa melanjutkan
pendidikan diperkuliahan. Bagaimana bisa? Aku yakin, saat Lelaki lembut itu
memelukku, dalam hatinya Dia pasti berdoa, dan Allah telah mendengar dan
mengabulkan doanya.
Aku lulus sebagai penerima beasiswa
bidikmisi yang kuikuti diam-diam tanpa sepengetahuan Ayah dan Ibuku. Saat itu
aku hanya meminta doa mereka tanpa menjelaskan maksudku. Saat itu, aku hanya
ingin ada kabar gembira tentang beasiswa itu yang akan kubagi pada mereka, dan
jika gagal, maka sedih itu akan kumakan sendiri. Cukuplah bagiku, mereka tak
perlu ikut campur dalam kedukaanku.
Kalian tahu apa yang terjadi ketika
kukabari mereka? Aku tak mendengar sedikitpun tangis, namun bisa kulihat jelas
dua bola mata mereka memerah menahan air mata. Ibuku, wanita penyayang itu tak
mampu berkata, Ayahku seperti biasa, Dia diam, dan tersenyum. Lalu mereka
memelukku serempak. Aku pun tenggelam. Tenggelam dalam mimpi yang dulu pernah
ayahku utarakan, dan tak kusangka mimpi itu telah menjadi nyata.
Aku, si anak miskin itu bisa sekolah.
Siapalah yang akan mengira, jika anak
kampung sepertiku bisa kuliah, lalu siapa pula yang akan mengira jika aku, anak
kampung yang dibesarkan dari dua orang tua yang tak berharta benda, sekarang
bisa melanjutkan studi S-2 dengan beasiswa penuh. Kawan impian mana yang tidak
akan terwujud jika orang tua kita turut andil didalamnnya. Allah tidak akan
tega tidak mengdengar dan tidak mengabulkan doa tulus orang tua untuk anaknnya.
Bukankah sudah sering dikatakan, jika doa kedua orang tua itu tanpa pembatas
langit. Lalu kenapa kita harus ragu?
Dan sekarang aku telah ada dikota
bandung kawan. Sedang kunikmati keindahan kota serta keramahan orangnya.
Disinilah aku akan menuntut ilmu, disinilah aku akan belajar, dan disinilah
akan kubuat kedua orang tuaku bangga.
Kuakui
aku setiap hari, aku merindukan mereka, merindukan Ayahku yang pendiam dan
lembut, merindukan Ibuku yang penyayang, yang selalu didepan jika aku dan
saudara-saudaraku dalam kesulitan. Lebih dari itu, aku sangat merindukan aroma
tubuh mereka ketika memelukku, aku rindu senyum mereka yang indah.
Ayah
dan Ibu terimakasih banyak, aku ingat betul ketika kalian mengantarkan
kepergianku ke kota bandung. Kusaksikan sembunyi-sembunyi Ibu menyeka air mata
Ibu. Ayah, kusaksikan matamu memerah, namun tak ada air mata yang jatuh, Ayah
disaat itu aku yakin kau tak ingin ragu dengan pilihanku. Tapi tahu kah kau
ayah, tak berapa lama berpaling dari kalian, air mataku deras berderai. Ketika
kuputuskan keluar lagi dari ruang tunggu keberangkatan, saat itu aku tak ingin
jauh dari kalian, dan pelukan terakahir dari kalian saat itu, telah membuatku
yakin, bahwa aku harus pergi jika ingin membuat kalian bangga. Aku harus pergi
jika ingin nasib keluarga kita lebih baik.
Semoga
ini adalah awal jalan yang indah. Ayah, Ibu, terimakasih banyak. Aku adalah anak
yang paling beruntung karena dibesarkan oleh kalian. Cara kalian mengajarkanku
selama ini memang tak pernah kudapat sejauh aku pernah sekolah. Tapi makna
tersirat dari apa yang telah kalian lakukan untukku jauh lebih berharga.
Aku
sangat menyayangi kalian. Tetaplah sehat, dan berumur panjang agar aku bisa berbagi
keindahan kota bandung, dan luasnya dunia yang akan kujejaki pada kalian.
Salam rindu dari kota Bandung.
-Anak Selatan-



Comments
Post a Comment