JASA AUDIT LAPORAN KEUANGAN HISTORIS | JASA AUDIT REVIU | JASA ASSURANCE LAINNYA | KONTAK BISNIS : 0856 5416 9903 / 0811 575 787

“Biar miskin, kau harus tetap sekolah”


Itulah yang ayahku katakan, ketika aku baru saja menyelesaikan ujian akhir sekolah dibangku SMA. Kau tahu kawan apa yang kurasakan saat itu?
Aku bak embun kawan. Seperti embun yang tertelan perlahan oleh mentari. Bahkan aku tak mampu melakukan sesuatu untuk ayahku saat itu. Aku hanya mampu menatap mata lembutnya yang mulai memerah namun kembali cerah, seolah tak ingin membawaku dalam kesedihan dan kesusahan hidup.
Ayahku kemudian menatapku dengan tatapannya yang lembut nan dalam, seolah membuang keraguan yang ada dalam diriku, dan ingin mempertegas bahwa ucapannya tadi bukanlah omong kosong atau sekadar untuk menghiburku.
Kutatap Ayahku dari ujung kepala hingga ujung kaki, tak kuliat satu hiasan pun pada dirinya yang bisa Ia jual untuk pendidikanku. Ayahku, lelaki lembut itu bukanlah tipe orang suka memakai perhiasan, Dia tidak menggunakan jam tangan, bahkan cincin kawin pun tidak.
Kubayangkan lagi Ibuku, mereka sama, Ibuku juga tak punya perhiasan dijari manisnya. Aku pun mulai ragu dengan ucapan Ayahku.
Lelaki lembut itu lalu menepuk bahuku, tubuh kecilku dipeluknya dengan erat, dan saat itu lah aku yakin, bahwa Ayahku tak akan berbual dengan ucapannya.
Dan akhirnya, aku bisa melanjutkan pendidikan diperkuliahan. Bagaimana bisa? Aku yakin, saat Lelaki lembut itu memelukku, dalam hatinya Dia pasti berdoa, dan Allah telah mendengar dan mengabulkan doanya.
Aku lulus sebagai penerima beasiswa bidikmisi yang kuikuti diam-diam tanpa sepengetahuan Ayah dan Ibuku. Saat itu aku hanya meminta doa mereka tanpa menjelaskan maksudku. Saat itu, aku hanya ingin ada kabar gembira tentang beasiswa itu yang akan kubagi pada mereka, dan jika gagal, maka sedih itu akan kumakan sendiri. Cukuplah bagiku, mereka tak perlu ikut campur dalam kedukaanku.
Kalian tahu apa yang terjadi ketika kukabari mereka? Aku tak mendengar sedikitpun tangis, namun bisa kulihat jelas dua bola mata mereka memerah menahan air mata. Ibuku, wanita penyayang itu tak mampu berkata, Ayahku seperti biasa, Dia diam, dan tersenyum. Lalu mereka memelukku serempak. Aku pun tenggelam. Tenggelam dalam mimpi yang dulu pernah ayahku utarakan, dan tak kusangka mimpi itu telah menjadi nyata.
Aku, si anak miskin itu bisa sekolah.
Siapalah yang akan mengira, jika anak kampung sepertiku bisa kuliah, lalu siapa pula yang akan mengira jika aku, anak kampung yang dibesarkan dari dua orang tua yang tak berharta benda, sekarang bisa melanjutkan studi S-2 dengan beasiswa penuh. Kawan impian mana yang tidak akan terwujud jika orang tua kita turut andil didalamnnya. Allah tidak akan tega tidak mengdengar dan tidak mengabulkan doa tulus orang tua untuk anaknnya. Bukankah sudah sering dikatakan, jika doa kedua orang tua itu tanpa pembatas langit. Lalu kenapa kita harus ragu?
Dan sekarang aku telah ada dikota bandung kawan. Sedang kunikmati keindahan kota serta keramahan orangnya. Disinilah aku akan menuntut ilmu, disinilah aku akan belajar, dan disinilah akan kubuat kedua orang tuaku bangga.
            Kuakui aku setiap hari, aku merindukan mereka, merindukan Ayahku yang pendiam dan lembut, merindukan Ibuku yang penyayang, yang selalu didepan jika aku dan saudara-saudaraku dalam kesulitan. Lebih dari itu, aku sangat merindukan aroma tubuh mereka ketika memelukku, aku rindu senyum mereka yang indah.
            Ayah dan Ibu terimakasih banyak, aku ingat betul ketika kalian mengantarkan kepergianku ke kota bandung. Kusaksikan sembunyi-sembunyi Ibu menyeka air mata Ibu. Ayah, kusaksikan matamu memerah, namun tak ada air mata yang jatuh, Ayah disaat itu aku yakin kau tak ingin ragu dengan pilihanku. Tapi tahu kah kau ayah, tak berapa lama berpaling dari kalian, air mataku deras berderai. Ketika kuputuskan keluar lagi dari ruang tunggu keberangkatan, saat itu aku tak ingin jauh dari kalian, dan pelukan terakahir dari kalian saat itu, telah membuatku yakin, bahwa aku harus pergi jika ingin membuat kalian bangga. Aku harus pergi jika ingin nasib keluarga kita lebih baik.
            Semoga ini adalah awal jalan yang indah. Ayah, Ibu, terimakasih banyak. Aku adalah anak yang paling beruntung karena dibesarkan oleh kalian. Cara kalian mengajarkanku selama ini memang tak pernah kudapat sejauh aku pernah sekolah. Tapi makna tersirat dari apa yang telah kalian lakukan untukku jauh lebih berharga.
            Aku sangat menyayangi kalian. Tetaplah sehat, dan berumur panjang agar aku bisa berbagi keindahan kota bandung, dan luasnya dunia yang akan kujejaki pada kalian.

Salam rindu dari kota Bandung.

 -Anak Selatan-

Comments

Posting Terpopuler