“Es lilin” itu awalnya
“Saya pernah jualan
Es lilin selama saya sekolah dasar” Lanjut cerita sang anak selatan.
Perasaanku campur
aduk saat mendengar pernyataan sang anak selatan, antara percaya atau tidak, antara
rasa tidak mungkin yang kemudian bermetafora menjadi kagum.
“Bagaimana
ceritanya?” tanyaku penasaran.
Cerita itu dibuka
dengan senyum oleh sang anak selatan. Senyum yang seperti mengingatkan bahwa
Dia sudah melewati banyaknya kegetiran hidup.
“Saya terlahir dari
keluarga yang miskin. Ayah saya seorang buruh kasar, dan Ibu saya adalah
seorang petani yang menumpang bertani ke tanah orang lain. Saya dan dan tujuh
saudara saya tak punya alasan untuk tergantung pada mereka. Kami tak mau
menambah kesusahan hidup mereka. Sudah cukup kasih sayang mereka yang luar
biasa itu. Karena itu lah untuk mengabulkan keinginan kami sendiri, kami harus
membelinya dengan uang kami sendiri, tanpa merepotkan mereka.”
Sang anak selatan
menghela nafas panjang.
“Saat itu tetangga
saya yang berbaik hati, saya memanggilnya dengan Mak Ati. Dia yang meminta saya
untuk berjualan Es lilin yang dibuatnya. Tak pikir panjang, saya pun
mengiyakan. Jadilah es lilin itu saya jajakan kesekolah. Setiap pagi, sebelum
berangkat kesekolah saya mampir kerumah beliau untuk mengambil es lilin yang
akan saya jual. Hasilnya lumayan. Saat itu saya diupah depalapan ratus sampai
seribu rupiah.”
“Lalu anda apakan
uangnya?”
“Saya tabung”
jawabnya lugas.
“Nah kalau bulan
puasa, saya jualan es batu untuk orang-orang yang ingin segera menghilangkan
dahaga setelah seharian berpuasa. Setiap sore menjelang berbuka, saya keliling
kampung menjajakan es batu itu. Lumayan, uangnya bisa saya tabung untuk membeli
baju lebaran.”
“Ketika SMP saya
berjualan permen,”
“Permen?” tanyaku
heran.
“Iya permen.
Kenapa? Kamu ragu?” tanya sang anak selatan.
“Saya sulit
percaya. Bagaimana anda bisa berjulan permen ketika itu”
“Ketika itu sudah
tak mungkin lagi saya jualan Es. Mak Ati, beliau beserta keluarga mendapat
musibah. Karena itu lah saya akhirnya berjualan permen.”
“Kenapa permen?
Kenapa bukan yang lainnya?” tanyaku.
“Karena hanya julan
permen yang saya mampu dengan modal sendiri.”
“Anda modal
sendiri?” tanyaku semakin tak percaya.
“Iya.” Jawabnya singkat.
“Ketika itu saya
kebingunangan. Karena musibah yang dialami Mak Ati, juga berimbas pada saya.
Karena itu lah, saat itu saya berpikir bagaimana caranya agar saya masih tetap
bisa punya penghasilan. Walaupun sedikit. Lalu terpikirlah untuk mengambil
sedikit dari celengan saya. Berbekal receh demi receh itu saya putuskan untuk
pergi kepasar, membeli permen, besoknya saya jual berbagai jenis permen
disekolah”
“Laku?” tanyaku
semakin tak percaya level dua.
“Alhamdulillah,
tiap hari tidak pernah tidak habis. Jadi setiap hari pula saya kepasar untuk
membeli permen baru. Setiap hari pula saya harus menempuh jarak empat belas
kilometer dengan bersepeda.”
Sang anak selatan,
semakin tak mampu kuduga. Bagaiamana mungkin permen itu bisa laku, bahkan
setiap hari bisa habis. Kupadamkan niatku untuk bertanya tentang bagaimana cara
Beliau menjualnya. Sampai disini saja mulutku sudah menganga mendengar
ceritanya.
Percaya atau tidak,
saat ini, aku telah mendengarnya sendiri, bukan dari orang lain.
Senyum sang anak selatan
kembali terukir sempurna.
Kuperhatikan senyum
itu dengan seksama. Maknanya dalam, ada rasa syukur didalamnya, rasa syukur
atas nikmat Tuhan yang sudah memberinya jalan hidup yang luar biasa. Yang
sekarang telah menjadi cerita indah yang pantas untuk diceritakan. Ditepuknya
bahuku.
“Apa yang kau
bayangkan?” tanya sang anak selatan.
“Saya kagum dengan
jalan yang telah anda lalui” jawabku ringkas, sambil mentatapnya dengan hormat.
Sang anak selatan
kembali tersenyum. Kali ini Ia melontarkan senyumnya ke atas, menghadap langit.
“Sesungguhnya bukan
hasil dari keberhasilan seseorang yang patut kita contoh. Tapi, proses mereka
untuk menjadi berhasil. Banyak orang-orang berhasil diluar sana telah melampaui
proses yang tak kita kira sulitnya.”
“Saya baru sedikit
malaluinya. Carilah tokoh yang berhasil dan yang kau kagumi, pelajari bagaimana
proses Ia mendapatkan keberhasilannya.” Ucapannya berhenti, matanya masih
memandang agungnya langit.
“Suatu saat bukan
tidak mungkin, kau lah yang akan bercerita tentang kesusksesanmu”
Dilemparkannya tatapannya padaku.
Aku mengangguk,
bertambah pula kekagumanku padanya. Kutatap langit seperti sang anak selatan.
Kulihat ada bayanganku disana. Bayangan keberhasilan yang selama ini aku
impikan dalam diam.
Tiba-tiba aku
menjadi sangat bersemangat.
-Anak Selatan-



Comments
Post a Comment