JASA AUDIT LAPORAN KEUANGAN HISTORIS | JASA AUDIT REVIU | JASA ASSURANCE LAINNYA | KONTAK BISNIS : 0856 5416 9903 / 0811 575 787

“Es lilin” itu awalnya


“Saya pernah jualan Es lilin selama saya sekolah dasar” Lanjut cerita sang anak selatan.
Perasaanku campur aduk saat mendengar pernyataan sang anak selatan, antara percaya atau tidak, antara rasa tidak mungkin yang kemudian bermetafora menjadi kagum.
“Bagaimana ceritanya?” tanyaku penasaran.
Cerita itu dibuka dengan senyum oleh sang anak selatan. Senyum yang seperti mengingatkan bahwa Dia sudah melewati banyaknya kegetiran hidup.
“Saya terlahir dari keluarga yang miskin. Ayah saya seorang buruh kasar, dan Ibu saya adalah seorang petani yang menumpang bertani ke tanah orang lain. Saya dan dan tujuh saudara saya tak punya alasan untuk tergantung pada mereka. Kami tak mau menambah kesusahan hidup mereka. Sudah cukup kasih sayang mereka yang luar biasa itu. Karena itu lah untuk mengabulkan keinginan kami sendiri, kami harus membelinya dengan uang kami sendiri, tanpa merepotkan mereka.”
Sang anak selatan menghela nafas panjang.
“Saat itu tetangga saya yang berbaik hati, saya memanggilnya dengan Mak Ati. Dia yang meminta saya untuk berjualan Es lilin yang dibuatnya. Tak pikir panjang, saya pun mengiyakan. Jadilah es lilin itu saya jajakan kesekolah. Setiap pagi, sebelum berangkat kesekolah saya mampir kerumah beliau untuk mengambil es lilin yang akan saya jual. Hasilnya lumayan. Saat itu saya diupah depalapan ratus sampai seribu rupiah.”
“Lalu anda apakan uangnya?”
“Saya tabung” jawabnya lugas.
“Nah kalau bulan puasa, saya jualan es batu untuk orang-orang yang ingin segera menghilangkan dahaga setelah seharian berpuasa. Setiap sore menjelang berbuka, saya keliling kampung menjajakan es batu itu. Lumayan, uangnya bisa saya tabung untuk membeli baju lebaran.”
“Ketika SMP saya berjualan permen,”
“Permen?” tanyaku heran.
“Iya permen. Kenapa? Kamu ragu?” tanya sang anak selatan.
“Saya sulit percaya. Bagaimana anda bisa berjulan permen ketika itu”
“Ketika itu sudah tak mungkin lagi saya jualan Es. Mak Ati, beliau beserta keluarga mendapat musibah. Karena itu lah saya akhirnya berjualan permen.”
“Kenapa permen? Kenapa bukan yang lainnya?” tanyaku.
“Karena hanya julan permen yang saya mampu dengan modal sendiri.”
“Anda modal sendiri?” tanyaku semakin tak percaya.
“Iya.” Jawabnya singkat.
“Ketika itu saya kebingunangan. Karena musibah yang dialami Mak Ati, juga berimbas pada saya. Karena itu lah, saat itu saya berpikir bagaimana caranya agar saya masih tetap bisa punya penghasilan. Walaupun sedikit. Lalu terpikirlah untuk mengambil sedikit dari celengan saya. Berbekal receh demi receh itu saya putuskan untuk pergi kepasar, membeli permen, besoknya saya jual berbagai jenis permen disekolah”
“Laku?” tanyaku semakin tak percaya level dua.
“Alhamdulillah, tiap hari tidak pernah tidak habis. Jadi setiap hari pula saya kepasar untuk membeli permen baru. Setiap hari pula saya harus menempuh jarak empat belas kilometer dengan bersepeda.”
Sang anak selatan, semakin tak mampu kuduga. Bagaiamana mungkin permen itu bisa laku, bahkan setiap hari bisa habis. Kupadamkan niatku untuk bertanya tentang bagaimana cara Beliau menjualnya. Sampai disini saja mulutku sudah menganga mendengar ceritanya.
Percaya atau tidak, saat ini, aku telah mendengarnya sendiri, bukan dari orang lain.
Senyum sang anak selatan kembali terukir sempurna.
Kuperhatikan senyum itu dengan seksama. Maknanya dalam, ada rasa syukur didalamnya, rasa syukur atas nikmat Tuhan yang sudah memberinya jalan hidup yang luar biasa. Yang sekarang telah menjadi cerita indah yang pantas untuk diceritakan. Ditepuknya bahuku.
“Apa yang kau bayangkan?” tanya sang anak selatan.
“Saya kagum dengan jalan yang telah anda lalui” jawabku ringkas, sambil mentatapnya dengan hormat.
Sang anak selatan kembali tersenyum. Kali ini Ia melontarkan senyumnya ke atas, menghadap langit.
“Sesungguhnya bukan hasil dari keberhasilan seseorang yang patut kita contoh. Tapi, proses mereka untuk menjadi berhasil. Banyak orang-orang berhasil diluar sana telah melampaui proses yang tak kita kira sulitnya.”
“Saya baru sedikit malaluinya. Carilah tokoh yang berhasil dan yang kau kagumi, pelajari bagaimana proses Ia mendapatkan keberhasilannya.” Ucapannya berhenti, matanya masih memandang agungnya langit.
“Suatu saat bukan tidak mungkin, kau lah yang akan bercerita tentang kesusksesanmu” Dilemparkannya tatapannya padaku.
Aku mengangguk, bertambah pula kekagumanku padanya. Kutatap langit seperti sang anak selatan. Kulihat ada bayanganku disana. Bayangan keberhasilan yang selama ini aku impikan dalam diam.
Tiba-tiba aku menjadi sangat bersemangat.


-Anak Selatan-

Comments

Posting Terpopuler