JASA AUDIT LAPORAN KEUANGAN HISTORIS | JASA AUDIT REVIU | JASA ASSURANCE LAINNYA | KONTAK BISNIS : 0856 5416 9903 / 0811 575 787

Kaki Penantang Seri 8

Kenal dong pastinya sama walikota Surabaya?. Yups benar sekali wahai pembaca yang budiman, Ibu Risma. Sosok walikota perempuan yang berhasil mengambil hati rakyat dengan kepemimpinannya yang tegas, tanpa kompromi dan yang nggak takut mecat pegawai pemerintah yang nggak bener kerjanya. Belakangan, menurut hasil pemilihan kepala daerah kemarin, Bu Risma terpilh lagi. Hmmm, menurut Gue wajar sih untuk pemimpin sekelas beliau.
Ngomongin soal Bu Risma, abis dari tugu pahlawan Gue mau ke kantor walikota Surabaya. Bukan mau ketemu beliau, cuma mau liat-liat bentar. Emangnya siapa Gue sampe Bu Risma mau ngeluangin waktunya buat Gue. Ets, tapi kabarnya Bu Risma bersedia kok menerima keluh kesah masyarakatnya, malah sering turun ke jalan, bukan buat demo, tapi buat denger aspirasi rakyatnya secara langsung. Bener-bener contoh pemimpin yang baik. Ini bukan lagi kampanye ya, bukan lagi promosi juga, sumpah Gue nggak dibayar buat nulis yang kayak gini, ini tulus dari hati Gue.
Nah akhirnya Gue nyampe di Kantor Walikota Surabaya, meskipun tadi sempet kelewatan lalu Gue kepaksa buat mutar balik. Tapi nggak apa-apa, Gue udah di sini sekarang. Didepan kantor walikota Surabaya. Pas Gue sampe disana, ada beberapa Bapak-bapak dan Ibu-ibu yang lagi ngajak anak mereka jalan-jalan, ikut mampir juga didepan kantor walikota, “mumpung sore hari terakhir ditahun 2015”, mungkin begitu pikiran mereka. Beberapa anak-anak malah sudah asik mandi dari air mancur yang seolah-olah keluar dari dalam tanah di depan kantor walikota Surabaya. Senyum mereka manis, tawa mereka pecah, orang tua mereka mengawasi dari jauh, ikut tersenyum karena menyaksikan anak-anak tengah bahagia.
Kantor walikota Surabaya? Tercoret.
Perjalanan kembali berlanjut. Tahu museum Kapal Selam yang di Surabaya? Kalau belum tahu, silakan pembaca yang santun lagi rajin buat googling. HEHEHE. Sudah? Masih nyari? Ok, Gue tunggu.
Gimana? Udah nemu belum?
Oh ya udahlah, Gue lanjut aja ceritanya, intinya Museum Kapal Selam itu tujuan Gue selanjutnya.
Hari mulai petang. Langit sore mulai makin memerah. Tahun 2015 pun semakin di ujung tanduk. Hanya tinggal beberapa jam lagi.
Gue sampai di Museum Kapal Selam tepat ketika adzan magrib baru selesai dikumandangkan untuk beberapa saat. Gue ambil posisi parkir yang kosong, membeli tiket, masuk, lalu nyari mushalla buat shalat magrib. Gue emang nggak terlalu rajin shalat, Gue akui itu, tapi kalau ninggalin shalat magrib rasanya gimana gitu. Nah yang kayak beginian bukan untuk ditiru dirumah ya pembaca yang budiman. Shalat mah wajib untuk kita yang muslim. Gue ambil wudhu, Gue pun shalat.
Setelah mengadu tentang beberapahal, dan mengucap syukur atas nikmat hari ini kepada Sang Pencipta, Gue pun keluar dari mushalla kecil tapi cukup bersih dan rapi yang disedikan pengelola Museum Kapal Selam. Gue pasang kembali sepatu Gue, tenang yang ini, sepatu Gue sendiri, Gue beli dengan hasil keringat Gue sendiri, setelah melalu proses tawar menawar yang sengit tentunya. HAHAHA.
Gue pun masuk ke Museum. Nah, museumnya itu adalah sebuah Kapal Selam yang dulunya sempat digunakan oleh tentara angkatan laut kita. Rupanya masih gagah, seperti perjuangan yang dulu pernah mereka lakukan. Gagah hingga sekarang, walaupun mungkin hanya sedikit yang mengenang mereka. Gue pun tenggelam dalam pikiran seperti apa dulu perjuangan yang telah mereka lakukan, sambil mengambil beberapa gambar tentunya.
Diujung tour singkat itu, kita dipertontonkan video mengenai sejarah Kapal Selam itu. Ya, karena nggak terlalu cerdas, dan lebih dominan ke pelupa, Gue pun lupa semua jalan ceritanya. Maaf ya pembaca yang budiman. Begini saja, kalau suatu saat ada waktu dan ada rezeki nggak ada salahnya buat berkunjung ke sana, biar pembaca yang budiman tahu bagaimana ceritanya, dan bagaimana gagah rupanya kapal selamnya. Mungkin bisa saja kita cukup menulis di mbah google, tapi yakinlah, aslinya lebih keren dari pada gambarnya. So, berkunjunglah ke Surabaya, singgahlah ke Museum Kapal Selam. Lagi-lagi ini bukan bentuk promosi ya, Gue bukan duta pariwisata, Gue cuma punya satu kepentingan, yaitu biar kita nggak pernah lupa dengan sejarah, mengingat bahwa negeri ini berdiri karena sejarah yang termat panjang. Kenapa Gue jadi serius begini ya.
Tercoret. Museum Kapal Selam pun tuntas.
Perjalanan Gue di Surabaya tinggal menyisakan satu tempat. Sementara malam di Surabaya semakin gelap, dan tahun 2015 pun hampir berakhir. Gue mempercepat laju sepeda motor menuju Universitas Airlangga, tapi apa daya, kecepatan sepeda motor hanya tinggal 20 killometer perjam, jalanan makin sesak, itulah penyebabnya.
Butuh satu jam sebelum akhirnya Gue sampe di kampus C Universitas Airlangga. Nah kalau malem-malem bagus banget buat ngambil gambar di sini, soalnya gedungnya dikelilingi sama lampu-lampu gitu, jadi kalau kalau kita ambil gambarnya jadi kayak bangunan dari lampu-lampu. Cuma sayang, karena malem danau yang ada didepan gedung jadi nggak keliatan indahnya. Memang ya, untuk mendapatkan sesuatu perlu ada yang kita korbankan. Percis kayak sekarang, Gue bisa dapat indahnya ngambil gambar karena gedung kampus yang berhias lampu-lampu, tapi Gue nggak bisa nikmatin bahkan cuma untuk ngeliat danaunya karena malam yang semakin gelap. Ada pelajaran yang dapet Gue petik.
Gue mengambil posisi duduk, mencoba menikmati waktu. Disana di jalan raya, kemacetan sudah barang tentu bakal menjadi bumbu disetiap pergantian tahun. Orang-orang mencari tempat keramain dimana mereka akan menghitung waktu mundur bersama-sama dan kembang api akan meletup-letup diatas kepala mereka. Yang berpasangan akan bisa memeluk pasangan mereka, dan yang sendiri kayak Gue, cukuplah dengan menikmati percikan cahaya dari letupan kembang api.
Dan dari Kampus C Universitas Airlangga, Gue melihat percikan cahaya kembang api. Satu-satu saling susul. Indah sekali. Disini, tahun 2015 Gue akhiri, dan  Gue mulai untuk tahun 2016. “Semoga tahun ini akan bersahabat dengan Gue”, Batin Gue.

Perjalanan Gue pun tuntas di Kota Surabaya. Telah menunggu kota selanjutnya. Semarang, tunggu kedatangan Gue. 

Comments

Posting Terpopuler