JASA AUDIT LAPORAN KEUANGAN HISTORIS | JASA AUDIT REVIU | JASA ASSURANCE LAINNYA | KONTAK BISNIS : 0856 5416 9903 / 0811 575 787

Kaki Penantang: Seri 7 : Selesai dan Baru dimulai (1)

Gue emang sempat kecewa karena peristiwa kemarin malam. Tapi yang sudah, biar lah menjadi sudah, jangan pernah membuatnya hadir lagi di saat ini, karena rasanya pasti bakalan sama. Sakit. Lagi pula, masih banyak tempat yang belum Gue kunjungi di Surabaya. Masih beberapa tempat di list Gue yang belum tercoret, life must go on, begitulah bahasa kerennya.
Lagi pula, malam ini malam tahun baru kawan. Ya nggak asyik aja kalau misalnya Gue akhiri tahun 2015 dengan perasaan kecewa. Hari ini, Gue pengen bikin pencapain terakhir di tahun 2015. Biar suatu saat kalau Gue udah menikah, dan punya anak, dan kebetulan lagi nonton berita tentang Surabaya, Gue bisa bilang dengan bangga ke anak Gue, “Ayah pernah ke sini Nak” sambil menepuk pundaknya. Sempurna bukan.
 Gue ambil tas kecil Gue, Gue cek lagi satu-satu barang-barang yang harus Gue bawa untuk hari ini, mulai dari dompet dengan segala isinya yang semakin menipis, parfum shalat alias yang harganya cuma 5000an, powerbank, dan kamera hasil pinjeman teman Gue dikampus, yang ngekos nggak jauh dari kosan Gue, sebungkus rokok telah menjadi upeti agar Dia mau minjemin kameranya. Dan berhasil pemirsa, hanya dengan sebungkus rokok.
 Temen Gue yang telah menerima persinggahan (dibaca numpangin Gue selama di Surabaya) dengan senang hati pun turut menjadi korban peminjaman barang. Kemaren Gue minjem sepedanya, sekarang Gue pinjem sepeda motornya.
Hidup Gue gini amat ya, serba minjem. Hahaha. Tapi itulah cara bertahan hidup untuk perantau seperti Gue. Seperti sudah menjadi garis tangan kalau Gue bakal nyusahin orang lain.
“Jangan kayak orang lain, pakai aja” kata temen Gue menenangkan.
“Bensinya Lu yang isi ya.”
“Tenang, pasti, full lah pokoknya” jawab Gue tulus.
“Oh ya, sekalian diservisin, cuciin, jangan lupa cicilannya bulan ini ya, bayar pajaknya kalau nggak keberatan. Ingat, ini motor Gue satu-satunya, jangan Lu bawa ke pegadaian.”
“HAHAHAHA”
“Nggak bakal lah, paling Gue sewain lagi ke orang-orang. Lumayan buat biaya perjalanan ke kota selanjutnya.” Ucap Gue bercanda, walaupun sebenarnya Gue nggak lagi bercanda, rasanya pengen Gue jual aja ni motor.
Tarikan pelan gas motor membawa Gue menjauh. Menembus perlahan kemacematan yang mulai membuat pengendara mengalami semacam tekanan pada otak dan perasaan mereka. Klakson bersaut-saut, lampu merah mulai tak dihiraukan. Menerobos, ya mulai ada yang menerobos, pengendara yang tak tahu aturan itu benar-benar tak tahu malu, tak tahu adat di jalan raya, dan pengendara itu Gue. Untungnya nggak ada polisi, Gue pun bebas dari penilangan yang bakal ngebuat Gue kehabisan isi dompet, apa lagi kalau pakai sistem damai. Ya, pembaca yang budiman tahulah maksud saya apa. Kalau tahu, jangan di ulangi ya, menyuap dan yang disuap itu sama-sama salah, kalau sesekali dan lagi kepepet ya bolehlah. HAHAHAHA.
Berkat googlemap, Gue bebas dari yang namanya tersesat. Nggak lucu juga kayaknya seorang pemuda matang yang hampir busuk kayak Gue kesasar dan nggak inget jalan pulang. Jadi dimomen ini, Gue pengen ngucapain terimakasih buat pencipta Googlemap, ya walaupun Gue nggak tahu siapa namanya, karena keseibukan Gue, jadi Gue nggak sempet nyari di mbah google, ya intinya terimakasih aja. Berkat Lu, entah siapa nama Lu, Gue nggak tersesat di Surabaya.
Kebun Binatang Surabaya jadi tempat persinggahan pertama. Sesampainya di KBS atau kebun binatang Surabaya yang Gue saksikan jauh dari yang pemberitaan tentang kebun binatang Surabaya belakangan ini, isu yang beredar diberbagai dunia maya dan dunia lain, yang katanya banyak hewan mati secara tiba-tiba. Kasusnya masuk di meja penyelidikan, dan belum pasti kelanjutannya. Entah memang nggak di lanjutin, atau memang Gue malas nyari berita terbarunya. Sepertinya alasan kedua lebih tepat ya pembaca yang berbudi pekerti luhur. Gue ambil gambar didepan patung buaya versus cicak, maaf, buaya versus hiyu maksud Gue, setelah mengambil  beberapa gambar Gue pun antri membeli tiket dan masuk ke KBS.
Kebun Binatang Surabaya pun tercoret dari list Gue.
Dua jam kemudian Gue pun berlalu dari KBS. Lengkingan sepeda motor membawa Gue menuju destinasi selanjutnya. Tugu pahalawan, i am coming.
Jalanan lowong, pengendara motor menepi, rintik hujan satu mulai jatuh, lalu tiba-tiba lebat. Gue memilih melanjutkan perjalanan, lagi pula cuma hujan ini nggak akan ngebuat Gue jadi tiba-tiba punya pacar. Hahaha.
Gue buka kaca helm, hujan  satu-satu mengenai muka. Seketika kenangan pun bergelabat, nanar sejauh mata memandang. Gue tetap melaju, sembari menikmati setitik kenangan manis.
Hujan menepi sekitar dua puluh menit kemudian. Jalanan kembali sesak, motor merapat, adu bunyi klakson siapa yang paling indah pun kembali bergema. Gue tetap melaju santai, sambil mengeringkan pakaian Gue yang kuyup, lalu perlahan menyapu kenangan yang memenuhi kepala Gue.
Tugu pahlawan itu tampak dari kejauhan, gagah walapun masih jauh dari awan. Akhirnya Gue berdiri didepannya, sambil mebayangkan peristiwa 10 November, perjuangan rakyat Surabaya demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Senjata mutahir menghadang, walaupun hanya dengan belati dan bambu rincing mereka sama sekali tak takut. Penjajah pun tersisih, rakyat Surabaya berhasil mengganyang, walaupun banyak darah mengalir, namun mereka tetap masih bisa tersenyum, karena artinya anak cucu mereka bakal aman nantinya, bebas dari penjajahan.
Sayangnya, perjuangan tinggallah perjuangan, perjuangan yang kini hanya tertinggal dibuku sejarah sekolah dasar. Indonesia tak benar-benar bebas dari penjajah, justru penjajah baru sulit sekali ditaklukan, sebab Ia berasal dari rumah sendiri, penjajah dari bangsa sendiri.
Seketika Gue mengambil sikap siap, tangan di dada, lagu Indonesia Raya pun keluar dari mulut Gue. Berpasang-pasang melirik sinis, Gue tetap berdiri, dan tetap menyanyikan lagu di Indonesia Raya. Setidaknya saat ini yang bisa Gue lakuin buat ngehargai setiap tetes darah yang keluar dari tubuh para pahlawan, walaupun Gue nggak pernah tahu mereka secara pasti. Beberapa orang mulai mengikuti tingkah Gue, nggak lama lagu Indonesia Raya pun menggema di Tugu Pahlawan, tanpa komando, lagu itu mengudara merdu.
Tugu Pahlawan, tercoret.

Gue pun berlalu menuju destinasi selanjutnya. Gue tarik gas perlahan, lalu pergi membawa rasa terimakasih kepada para pahlawan. “Semoga tempat kalian indah di alam sana, dan semoga kami tak pernah mengkhianati perjuangan kalian.”

Comments

Posting Terpopuler