Kaki Penantang: Seri 7 : Selesai dan Baru dimulai (1)
Gue emang sempat kecewa karena
peristiwa kemarin malam. Tapi yang sudah, biar lah menjadi sudah, jangan pernah
membuatnya hadir lagi di saat ini, karena rasanya pasti bakalan sama. Sakit.
Lagi pula, masih banyak tempat yang belum Gue kunjungi di Surabaya. Masih
beberapa tempat di list Gue yang belum tercoret, life must go on, begitulah bahasa kerennya.
Lagi pula, malam ini malam tahun baru
kawan. Ya nggak asyik aja kalau misalnya Gue akhiri tahun 2015 dengan perasaan
kecewa. Hari ini, Gue pengen bikin pencapain terakhir di tahun 2015. Biar suatu
saat kalau Gue udah menikah, dan punya anak, dan kebetulan lagi nonton berita
tentang Surabaya, Gue bisa bilang dengan bangga ke anak Gue, “Ayah pernah ke
sini Nak” sambil menepuk pundaknya. Sempurna bukan.
Gue ambil tas kecil Gue, Gue cek lagi
satu-satu barang-barang yang harus Gue bawa untuk hari ini, mulai dari dompet
dengan segala isinya yang semakin menipis, parfum shalat alias yang harganya cuma
5000an, powerbank, dan kamera hasil
pinjeman teman Gue dikampus, yang ngekos nggak jauh dari kosan Gue, sebungkus
rokok telah menjadi upeti agar Dia mau minjemin kameranya. Dan berhasil
pemirsa, hanya dengan sebungkus rokok.
Temen Gue yang telah menerima persinggahan
(dibaca numpangin Gue selama di Surabaya) dengan senang hati pun turut menjadi
korban peminjaman barang. Kemaren Gue minjem sepedanya, sekarang Gue pinjem
sepeda motornya.
Hidup Gue gini amat ya, serba minjem.
Hahaha. Tapi itulah cara bertahan hidup untuk perantau seperti Gue. Seperti
sudah menjadi garis tangan kalau Gue bakal nyusahin orang lain.
“Jangan kayak orang lain, pakai aja”
kata temen Gue menenangkan.
“Bensinya Lu yang isi ya.”
“Tenang, pasti, full lah pokoknya” jawab Gue tulus.
“Oh ya, sekalian diservisin, cuciin,
jangan lupa cicilannya bulan ini ya, bayar pajaknya kalau nggak keberatan.
Ingat, ini motor Gue satu-satunya, jangan Lu bawa ke pegadaian.”
“HAHAHAHA”
“Nggak bakal lah, paling Gue sewain
lagi ke orang-orang. Lumayan buat biaya perjalanan ke kota selanjutnya.” Ucap
Gue bercanda, walaupun sebenarnya Gue nggak lagi bercanda, rasanya pengen Gue jual
aja ni motor.
Tarikan pelan gas motor membawa Gue
menjauh. Menembus perlahan kemacematan yang mulai membuat pengendara mengalami
semacam tekanan pada otak dan perasaan mereka. Klakson bersaut-saut, lampu
merah mulai tak dihiraukan. Menerobos, ya mulai ada yang menerobos, pengendara
yang tak tahu aturan itu benar-benar tak tahu malu, tak tahu adat di jalan
raya, dan pengendara itu Gue. Untungnya nggak ada polisi, Gue pun bebas dari
penilangan yang bakal ngebuat Gue kehabisan isi dompet, apa lagi kalau pakai
sistem damai. Ya, pembaca yang budiman tahulah maksud saya apa. Kalau tahu,
jangan di ulangi ya, menyuap dan yang disuap itu sama-sama salah, kalau
sesekali dan lagi kepepet ya bolehlah. HAHAHAHA.
Berkat googlemap, Gue bebas dari yang namanya tersesat. Nggak lucu juga
kayaknya seorang pemuda matang yang hampir busuk kayak Gue kesasar dan nggak
inget jalan pulang. Jadi dimomen ini, Gue pengen ngucapain terimakasih buat
pencipta Googlemap, ya walaupun Gue
nggak tahu siapa namanya, karena keseibukan Gue, jadi Gue nggak sempet nyari di
mbah google, ya intinya terimakasih aja. Berkat Lu, entah siapa nama Lu, Gue
nggak tersesat di Surabaya.
Kebun Binatang Surabaya jadi tempat
persinggahan pertama. Sesampainya di KBS atau kebun binatang Surabaya yang Gue
saksikan jauh dari yang pemberitaan tentang kebun binatang Surabaya belakangan
ini, isu yang beredar diberbagai dunia maya dan dunia lain, yang katanya banyak
hewan mati secara tiba-tiba. Kasusnya masuk di meja penyelidikan, dan belum
pasti kelanjutannya. Entah memang nggak di lanjutin, atau memang Gue malas
nyari berita terbarunya. Sepertinya alasan kedua lebih tepat ya pembaca yang
berbudi pekerti luhur. Gue ambil gambar didepan patung buaya versus cicak,
maaf, buaya versus hiyu maksud Gue, setelah mengambil beberapa gambar Gue pun antri membeli tiket
dan masuk ke KBS.
Kebun Binatang Surabaya pun tercoret
dari list Gue.
Dua jam kemudian Gue pun berlalu dari
KBS. Lengkingan sepeda motor membawa Gue menuju destinasi selanjutnya. Tugu
pahalawan, i am coming.
Jalanan lowong, pengendara motor menepi,
rintik hujan satu mulai jatuh, lalu tiba-tiba lebat. Gue memilih melanjutkan
perjalanan, lagi pula cuma hujan ini nggak akan ngebuat Gue jadi tiba-tiba
punya pacar. Hahaha.
Gue buka kaca helm, hujan satu-satu mengenai muka. Seketika kenangan
pun bergelabat, nanar sejauh mata memandang. Gue tetap melaju, sembari
menikmati setitik kenangan manis.
Hujan menepi sekitar dua puluh menit
kemudian. Jalanan kembali sesak, motor merapat, adu bunyi klakson siapa yang
paling indah pun kembali bergema. Gue tetap melaju santai, sambil mengeringkan
pakaian Gue yang kuyup, lalu perlahan menyapu kenangan yang memenuhi kepala
Gue.
Tugu pahlawan itu tampak dari
kejauhan, gagah walapun masih jauh dari awan. Akhirnya Gue berdiri didepannya,
sambil mebayangkan peristiwa 10 November, perjuangan rakyat Surabaya demi
mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Senjata mutahir menghadang, walaupun
hanya dengan belati dan bambu rincing mereka sama sekali tak takut. Penjajah
pun tersisih, rakyat Surabaya berhasil mengganyang, walaupun banyak darah
mengalir, namun mereka tetap masih bisa tersenyum, karena artinya anak cucu
mereka bakal aman nantinya, bebas dari penjajahan.
Sayangnya, perjuangan tinggallah
perjuangan, perjuangan yang kini hanya tertinggal dibuku sejarah sekolah dasar.
Indonesia tak benar-benar bebas dari penjajah, justru penjajah baru sulit
sekali ditaklukan, sebab Ia berasal dari rumah sendiri, penjajah dari bangsa
sendiri.
Seketika Gue mengambil sikap siap,
tangan di dada, lagu Indonesia Raya pun keluar dari mulut Gue. Berpasang-pasang
melirik sinis, Gue tetap berdiri, dan tetap menyanyikan lagu di Indonesia Raya.
Setidaknya saat ini yang bisa Gue lakuin buat ngehargai setiap tetes darah yang
keluar dari tubuh para pahlawan, walaupun Gue nggak pernah tahu mereka secara
pasti. Beberapa orang mulai mengikuti tingkah Gue, nggak lama lagu Indonesia
Raya pun menggema di Tugu Pahlawan, tanpa komando, lagu itu mengudara merdu.
Tugu Pahlawan, tercoret.
Gue pun berlalu menuju destinasi
selanjutnya. Gue tarik gas perlahan, lalu pergi membawa rasa terimakasih kepada
para pahlawan. “Semoga tempat kalian
indah di alam sana, dan semoga kami tak pernah mengkhianati perjuangan kalian.”


Comments
Post a Comment