Malang Terbang ke Bulan...
27 agustus
2015-08-2015
Perjalanan
ini bukan lah perjalanan yang kurencanakan sebelumnya. Ini adalah perjalanan
yang sebetulnya diberontak oleh pikiranku, namun di dukung kuat oleh hatiku.
Aku memilih apa yang dikatakan oleh hatiku, sebab kata orang, kata hati itu
seperti bisikan Tuhan. Seperti masuknya nya hidayah yang bisa menyadarkan
seorang manusia, bahkan tak perduli sepekat apa catatan hidupnya.
Aku
pun berangkat menuju sebuah kota yang tak pernah kujejaki sebelumnya. Sumpah.
Waktu kecil pun aku tak pernah bermimpi akan berada di kota ini. Namun sekarang
dalam hitungan jam, aku akan berada di sana, mengejar sesuatu yang mungkin menurut
orang lain, yang kulakukan adalah sebuah bentuk kegilaan. Tak apa. Aku memang
sudah gila.
Malang
kawan, itu lah kota tujuanku. Kenapa Malang? Nanti kalian akan tahu alasannya.
Sebelumnya..aku
adalah seorang mahasiswa di salah satu universitas di kota bandung. Bandung ke
Malang, perjalanan yang lumayan jauh tapi masih terhitung dekat karena letaknya
yang masih dipulau Jawa. Butuh 12 Jam menuju malang jika dari bandung dengan
kereta api sedangkan dengan bis butuh sekitar 16 jam perjalanan. Ya, kalau
menggunakan pesawat hanya butuh kurang lebih 2 jam gitulah. Menggunakan pesawat
tak masuk dalam rencananku kawan.
Dua
jam sebelum perjalanan, aku tak tahu jam berapa pastinya, yang kuingat, aku
baru saja selesai makan siang, dan baru saja menyelesaikan urusan kampusku.
Nah
disinilah kawan asal muasalnya peristiwa perjalanan dua hariku di malang. Perjalanan singkat namun begitu memesona.
Sama seperti terpesonanya aku dengan kota malang. Kota yang rapi dan bersih.
Harus kuakui, dari sekian banyak kota yang telah kusinggahi, malang adalah yang
paling indah. Seindah gadis-gadisnya. #aseeek.
Perjalananku
ini dilatarbelakangi alasan klasik. Aku yakin kalian pun sering menyaksikannya
ditelevisi,sinetron, FTV, atau di layar lebar sekalipun. Alasannya sangat
klasik. Cinta kawan. Itulah alasannya.
Aku
tak menyangka bahwa akhirnya perjalanan karena cinta ini telah kulakukan.
Sebelumnya aku sama seperti kalian, mengganggap bahwa yang seperti ini hanya
akan ada di televisi. Dan sekarang, aku tak mampu mengelak. Harus kuakui,bahwa
ada perjalanan seperti itu. Dan sejarah telah mencatatnya, aku lah salah satu
pelakunya.
Kisahku
mungkin tak akan seromantis Romeo dan Juliet, atau Habibi Ainun jika di
Indonesia, namun aku yakin, kisahku cukuplah akan memberikan pelajaran kepada
para pencinta selanjutnya, jika mereka memang telah dibuat mabuk oleh dewa
amor, hanya satu pesanku, “Perjuangkanlah” kalau memang kalian mencintainya.
Tak perduli sekeras apa pun, atau sekecil apapun peluang kalian untuk bersama,
tapi, jika telah memperjuangkannya aku yakin kelak di masa tua atau sebelum
mati kalian tak akan menyesal.
Baiklah
akan kumulai ceritaku...
Seminggu
sebelum perjalananku. Aku dan si Dia, terlibat pertengkaran yang sangat
hebat. Hubungan jarak jauh membuat kami
sulit menyelesaikan masalah dengan baik. Padahal kami sudah berkomitmen.
Terkadang masalah kecil pun menjadi sangat besar, dan mempengaruhi kualitas
hubungan kami.
Aku
yang memulai dalam masalah ini. Aku telah bermain api. Seminggu pula aku
dicambuk rasa bersalah. Tidurku tak pernah nyenyak, makanku pun semakin tak
teratur. Alhasil berat badanku pun turun drastis.
Cinta
kawan... mau berkata apa? Kuat betul pengaruhnya.
Tepat
tanggal 27 agustus, 2015, aku sudah tak bisa menunggu lagi. Tiap hari aku
ditikam rasa bersalah. Sakit betul rasanya.
Siang
di tanggal yang sama. Kuputuskan untuk segera keterminal dekat kosanku di
bandung. Sumpah. Ini adalah perjalanan yang aku tahu maksudnya tapi aku tak
pernah ini akan berhasil atau tidak. Karena, dia, gadis yang telah menaklukan
hatiku ini, telah marah besar. Semua jenis alat komunikasi kami telah
diputuskannya, atau mungkin hubungan kami pun telah diakhirinya. Namun yang
membuatku masih kuat memperjuangkannya adalah kata pisah yang tak pernah keluar
dari mulutnya. Dia hanya mengatakan,dia begitu sakit, sangat sakit.
Ketika
ia mengatakan itu, aku hanya bisa diam, membayangkan betapa teganya aku karena
telah melukai perasaannya. Seperti ada tamparan keras di kedua pipiku.
Merah,dan berdarah rasanya. Terakhir, ia sambil menangis ketika menutup
teleponnya. Sembari mengatakan bahawa aku adalah laki-laki terjahat yang pernah
dikenalnya.
Aku
terdiam. Semakin tenggelam ke dalam amarahnya.
Siang
pukul dua tiga puluh, seperti itu lah yang tertulis ditiket keberangkatanku.
Keesokan harinya, barulah aku akan sampai di kota malang. Bis meluncur,
perasaanku goncang. Ragu dan takut. Sepenuh perjalanan perasaanku dipenuhi
kembimbangan. Takut kalau aku ternyata tak bisa bertemu dengannnya. Takut kalau
dia sudah tak menginginkanku lagi. Takut. Aku dibunuh rasa takutku. Perjalanan
panjang Bandung- Malang yang kutempuh berjam-jam itu : hanya berapa menit
mataku tertutup,sisanya mataku terjaga karena rasa takut.
Malam
hari,saat perjalanan,sengaja kukirim pesan singkat padanya. Kukatakan bahwa aku
dalam perjalanan menuju malang, aku ingin bertemu dengannya, dan meminta maaf
atas semua kesalahanku. Sampai pagi hari, pesan singkatku tak berbalas. Aku
semakin khwatir. Paginya, bis yang kutumpangi tiba di Tuban, sebuah kota yang
menyambut kedatangaku dengan desiran ombak. Di Tuban, aku mencoba
menghubunginya lagi. Kukatakan kalau aku sudah sampai Tuban. Kembali, pesanku
tak segera terbalas.
Detik
waktu kembali membawaku semakin jauh dari kota Bandung, dan kembali membawaku
menjauh dari Tuban. Pukul sembilan pagi, di lamongan kalau tidak salah.
Akhirnya dia membalas pesanku.
“Aneh banget sih kamu”
Hanya
itu.
“Aneh kenapa?,aku ke malang mau ketemu kamu.
Aku mau memperbaiki hubungan kita?” Balasku.
“Hubungan yang mana? Aku rasa sudah berakhir
beberapa hari yang lalu, tak ada yang spesial, kedatangamu hanya menambah luka
saja.”
Balasan
itu yang kuterima. Hampir saja aku menyerah. Hampir saja.
“Kau tidak pernah mengatakan pisah denganku.
Aku hanya ingin ketemu kamu. Jam 10 mungkin aku akan sampai di terminal
arjosari” balasku.
“Iya, sampai berjumpa”
Balasan
terakhir itu sedikit memberi harapan padaku. Walaupun aku tak pernah tahu
percisnya. Apakah dia akan memaafkanku atau tidak. Aku sudah melakukan
perjalanan sejauh ini. Sedikitpun aku tak akan berbalik.
Satu
jam sebelum shalat jumat, akhirnya aku sampai di Malang. Terminal Arjosari
adalah tempat pertama di kota Malang yang akan mengingatku. Bahwa langkahku
telah sampai disana.
“Kalau kamu datangnya siang. Lebih baik kita
ketemunya setelah kamu shalat jumat. Dari Arjosari, kamu bisa shalat
dimesjid Sabilllah tak jauh dari
terminal.” Pesan singkat darinya kembali kuterima.
Kuikuti
petunjuknya darinya dengan senyum mengembang. Paling tidak Dia masih menyimpan
sedikit perhatian padaku. Walaupun aku tak tahu, seperti apa sekarang jenis
perhatiaannya. Apakah masih menganggapku sebagai orang yang spesial atau hanya
karena menaggapku tamunya saja.
Dari
terminal aku langsung bertolak ke mesjid Sabilillah.
Kurang
lebih satu jam aku menunggu dalam diam, dan seribu skenario dari mana akan
kumulai pembicaraanku. Dia pun datang, dengan sepeda motornya. Diparkirnya sepeda
motornya, dan menoleh kearahku.
Tak
ada senyum seperti dulu yang sering kusaksikan setiap hari. Kekecewaan jelas
tersirat dari wajahnya. Sekejap itu pula aku tak mampu berbicara apa-apa.
“Aku
minta maaf” hanya ini yang mampu lepas dari mulutku selama sepuluh menit.
Kami
pun diam. Lama sekali.
“Mau
makan?” tanyaku melebur diam.
“Aku
sudah kenyang”
“Ayolah,
bawa aku keliling malang sebentar sebelum aku pulang”
“Kamu
mau langsung pulang?”
“Iya”
jawabku ringan.
Perjalanan
enam belas jam itu pun terasa percuma. Lantaran pikiranku yang raib ketika Ia
di dekatku. Aku sadar bahwa sudah ada yang berbeda selama seminggu ini. Aku tak
tahu percisnya. Tapi aku jelas merasakannya. Dari cara bicaranya, dari caranya
menjaga sikapnya dariku, dan dari caranya membuka pesan dari handphonenya.
Aku
menarik nafas panjang. Perasaanku lega, dan sakit. Mungkin kenyataan itu lah
yang harus kuterima.
Karena
tak tahu kota Malang, dan tak tahu aku harus naik apa untuk ke stasiun.
Kuputuskan untuk meminta tolong padanya untuk mengantarkanku. Itu pun kalau dia
tidak sibuk. Dia bersedia.
Stasiun
Malang sesak di jejali penumpang yang sibuk antri membeli tiket. Raut wajah
mereka berupa-rupa. Ada yang cemas, takut kehabisan. Ada yang terlihat santai dan tetap
keren, mungkin karena perjalanannya masih lama. Sementara aku sendiri, termasuk
dengan orang yang memasang wajah takut.
“Terimaksih
sudah mengantarkanku” suaraku berat.
Dia
tak menjawab.
“Kalau
kamu masih ada kesibukan, kamu silakan lanjutkan. Aku bisa sendiri kok.”
Suaraku makin berat.
“Aku
tidak setega kamu” jawabnya.
Pelan,
tapi menohok ulu hatiku. Aku tahu dia berusaha menayangkan kembali kesalahanku.
Aku tak membalas apa-apa. Diamku adalah pengakuan, karena aku jelas salah dalam
hal ini.
Aku
pun ikut dalam barisan panjang berharap mendapatkan tiket kereta api untuk
meluncur ke bandung hari ini juga. Semula Dia duduk dikursi tunggu. Giliranku
makin dekat. Kulihat dari pantulan kaca loket Ia mendekat padaku. Aku gerogi.
“Yakin
mau pulang hari ini?, gak besok aja”
Aku
mulai bimbang. Ragu. Ragu kalau tetap disini aku justru merasakan perih.
“Iya,
aku yakin” jawabku bohong.
Sejujurnya
aku ingin berlama-lama di kota Malang. Aku rindu dengan senyumnya. Aku ingin
lebih lama menghabiskan waktu dengannya. Aku rindu suaranya dan aku rindu aroma
parfumnya yang sampai ke hidungku, ketika angin meniup pelan.
“KTPnya
mas” kata petugas.
Petugas
tiket itu menghancurkan lamunanku. Lalu keberikan KTPku.
“Tujuan
ke bandung hari ini” kataku berat.
“Gak
besok aja pulangnya?” katanya sambil menatapku, lalu Ia berbalik arah dan
kembali menunggu dikursi tunggu.
Tatapannya
tak mampu kuhindari. Sumpah, andai Dia tahu, bahwa sejujurnya aku ingin lebih lama
di kota Malang. Sayang, aku tak mampu
mengucapkannya.
“Tiket apa jenis apa mas?” tanya sang petugas
tiket lagi.
Tak
kuhiraukan. Hingga Iamengulanginya untuk yang kedua, dan yang ketiga.
“Mas,
maaf mas, antrian masih panjang” Aku diingatkan.
“Gak
jadi mas. Maaf KTP saya.” Kataku yakin.
“Hey,
aku gak jadi pulang hari ini, aku pulang besok.”
Kulihat
Dia sedikit terkejut. Entah itu ekspresi senang atau apa. Aku tak tahu pasti.
Sebab seperti ada raut wajah yang disembunyikannya.
“Besok,
sambil menunggu keberangkatan, kamu mau ajak aku kemana?” tanyaku langsung pada
poinnya. Dengan kata lain : “Please besok ajak aku jalan-jalan dong.”
“Aku
ajak kamu keliling Malang”
Hatiku
berbunga-bunga mendengarnya. Kulemparkan pandanganku kearah langit kota malang
yang mulai sendu. Tiba-tiba langit malang berlukiskan pelangi. Indah sekali.
Senang sekali aku menatapnya.
“Ayo,
aku antar kamu ke penginapan. Di dekat sini ada yang murah kok” katanya lembut.
Maka
makin berbunga-bungalah pandanganku. Mawar-mawar berterbangan, melintas di atas
kepalaku. Aku berjalan pelan. Masih tak percaya.
Sepeda
motor kami pun melaju. Tak sampai lima menit, aku sampai dipenginapan. Setelah
cocok dan memastikan tempatku bermalam malam ini, Ia pun pamit.
“Tunggulah sebentar, ngobrol-ngobrol dulu, aku
kan kangen sama kamu.” Harusnya ini yang kukatakan. Tapi, Lidahku kelu, tak
mampu menahan kepergiannya. Antara segan atau apa lah namanya. Dari jauh,
kusaksikan punggungnya semakin jauh, hingga tak terlihat lagi.
“Besok,
pagi-pagi sekali aku akan mejemputmu.” Katanya sebelum Ia pergi semakin jauh.
v
Malamnya,
saat di langgar yang tak jauh dari tempatku
menginap, whatsup berbunyi.
Kubuka, dan pesan dari Dia pun keterima. Sudah lama sekali aplikasi pesan ini
tak memberiku pemberitahuan jika ada pesan. Sebab seminggu, whatsup ku dibloknya. Aku hampir tak
bisa menghubunginya, kecuali hanya dengan pesan singkat.
“Jalan-jalanlah, kau bisa ke arah balai
kota, tak jauh dari tempatmu menginap, maaf aku tak bisa menemanimu, aku harus
menemani Ibuku” senang betul aku membacanya, tak masalah lah tentang isi
pesannya, yang penting adalah: Dia sudah mau menghubungiku lebih dulu. Sumpah,
aku senang sekali.
Malam
hari di Kota Malang pun kulewati dengan selama dua jam menikmati Indahnya cahaya
lampu dari gedung balai kota Malang. Alun-alun malang di malam hari pun tak
kalah memesona. Rapi dan bersih. Kota malang, , langit malam kota malang yang
dipenuhi bintik-bintik bintang, hawanya yang sejuk, dan sikapnya yang menjadi
baik adalah hadiah malam pertama dikota malang yang tak berhenti membuatku
semakin takjub.
Paginya,
28-08-2015.
Pagi-pagi
sekali, setelah pulang dari langgar. Aku lansung membersihkan diri. Mandi, lalu
kugunakan pakaian yang sudah dua hari melekat dibadan. Bedanya, hari ini parfumnya
kusemprotkan lebih banyak dari biasanya, ya kalian tahulah seperti apa aroma
pakaian yang tak diganti selama dua hari.
Dia
datang hanya selisih beberapa seperti apa yang dia ucapkan kemaren sore. Dari
jauh kupandangi wajahnya. Aku tersenyum dalam hati. Sayangnya, Ia masih tampak
benci denganku. Wajahnya datar, seperti tak ada yang spesial untuk hari ini.
Padahal biasanya Dia selalu bersemangat saat kuajak jalan-jalan. Jika kuajak
esok pagi, malamnya katanya dia tak bisa tidur, memikirkn betapa indahnya hari
esok itu. Dan hari ini terbalik, aku yang tak bisa tidur, memikirkan betapa
indahya hari terakhir di kota Malang karena ditemani olehnya.
“Kita
sarapan dulu, di sini ada kok tempat yang enak untuk sarapan.” Katanya sahdu.
Masih seperti dulu, ketika kami masih berbahagia setiap hari.
“Iya”
jawabku pelan. “Iya” disini sama dengan : “Aku gak nyangka kamu bahkan masih
seperthatian ini ke Aku”. Untuk yang satu ini aku gak tahu namanya, mungking
ini yang disebut tingkat GR level dua belas”.
Sepeda
motorpun meluncur, dan detik-detik yang sangat kunikmati bahkan aku ragu
detik-detik seperti ini akan terulang lagi atau tidak itu pun bermula. Namun
yang jelas, setiap detik yang kulewati bersamanya waktu itu, sudah masuk dalam
katagori detikan waktu yang tak akan kulupakan.
Dalam
perjalanan kami masih tampak canggung. Terutama aku. Aku tak tahu harus memulai
percakapan dari mana. Semuanya seperti pertama kali aku bertemu dengannya.
“Ke
kampusku mau gak?” tanyanya bersemangat dan memecah keheningan.
“Boleh,
tunjukan arahnya padaku”
Dia pun bersemangat menjadi
penunjuk arah. Belok kiri, lurus, belok kiri, terus ke kanan. Pembincaraan pun
menjadi ringan. Di atas motor, suasana mulai mencair, walaupun aku sadar, bahwa
perasaanku mengatakan, keadaan masih belum baik-baik saja.
Kami
pun tiba di kampusnya, di kampus dia semakin bersemangat mengajakku
berkeliling.
“Aku
udah kayak tour guide ya?” tanyanya
lalu senyumnya pun terlukis.
Itu
adalah senyum pertama yang kulihat setelah sekian lama. Tetap. Senyumnya tetap
manis dan indah. Seperti air di anak sungai yang mengalir dengan tenang.
Seperti itulah perasaanku. Beberapa saat, aku semakin merindukan susasana
seperti dulu. Dimana tawa kami selalu lepas. Ia bercerita tanpa henti, aku pun mendengarkannya dengan setia.
“Kemaren
lho aku jatuh.”
“Jatuh
dimana?” tanyaku khwatir.
“Nanti
aku tunjukin ke kamu tempatnya.”
“Pokoknya
aku malu banget. Aku diketawain sama banyak orang.”
“kok
bisa?”
“Begini
lho,aku dateng, terus nyari parkirnyakan susah. Nah dapetnya di sana.” Katanya
sambil menunju ke arah sepeda motornya waktu itu parkir.
“Terus
kok kamu bisa jatuh?” tanyaku penasaran.
Ketewanya
pun pecah. Lama sekali. Seperti Ia tak sanggup untuk melanjutkan ceritanya.
“Kan
ada bunga gitu, terus aku lompat. Aku gak liat, kalau diantara tanaman bunga
itu ternyata ada kawatnya,yang memang sengaja dipasang untuk ngehalangin orang
yang mau lompat gitu. Tapi karena udah keburu, mau jalan muter juga bakal
jauh,jadi aku lompat. Kakiku nyangkut. Terus aku jatuh dech, kayak gini ni.” Ceritanya
sambil mempraktekan posisi dia terjatuh. Tergeletak kayak korban tabrak lari.
Ketawaku
pun pecah. Tak sanggup aku membanyangkannya.
v
Perjalanan
kami pun berlanjut di museum alat-alat perang zaman dulu di kota malang. Aku
lupa percisnya nama dari museum itu. Untungnya aku sempat mengambil beberapa
gambar di sini. Gambarku, gambar senjata, gambar mobil tempo dulu, dan gambar
dirinya tentunya. Gambarnya yang ku ambil dengan sembunyi-sembunyi.
“Kamu
laper gak?”
“hmm,
lumayan sih.”
“Aku
mau ajak kamu ke tempat makan yang paling rame di sini.” Dia lalu menoleh
kearah jam tangan yang dulu dibelinya bersamaku. Aku juga yang memilihkan jam
itu.
“Waahh
kalau jam segini, antriannya pasti udah panjang banget ni” katanya ragu.
Kami
pun beranjak. Diperjalanan kami sempat singgah di alun-alun kota Malang yang
semalam kukunjungi. Di sini kami sempat main catur yang disedikan pengelola
taman bacaan keliling, dan hasilnya, aku kalah. Permainannya semakin bagus
sejak kami tak bertemu lagi. Kalau dulu, aku bisa dengan mudah mengalahkannya,
tapi sekarang berbalik, dia yang bisa mengalahkanku tanpa perlawanan. Dia
tertawa puas. Aku pun puas karena kembali bisa menyaksikan tawa lepasnya.
Kami
pun melanjutkan perjalanan ke tempat yang tadi Ia janjikan. Benar saja. Antrian
pun sudah panjang. Kamipun harus antri hampir setengah jam untuk dua mangkok
bakso yang katanya paling enak itu. Tak salah, bakso yang disajikan memang
enak, aku yang bukan pecinta bakso saja bisa menyukainya, bagaimana yang
seperti dia, pencinta bakso sejati.
Semangkok
bakso yang enak itu pun habis.
Kami
kembali melanjutkan perjalanan, kembali ke penginapan dan aku mulai merasakan
haru.
Pukul
satu siang, aku keluar dari penginapan, dan sebelum aku benar-benar kembali ke
Bandung, kembali Ia mengajakku kesuatu tempat yang katanya bagus, dan tak kalah
ramai.
“Serabi
imut, kamu mau coba gak?”
“Boleh”
jawabku bersemangat. Sebenanya bukan rasa lapar yang menjadi alasan aku
menyetujui ajakannya,tapi karena ingin bersamanya. Itu alasan tepatnya.
Kupesan
segelas kopi dan satu serabi imut dengan rasa kesukaanku, keju. Sedangkan Dia,
segelas yogurt rasa melon dan serabi coklat yang di tambah sedikit mesis.
Pembicaraan kami panjang disini. Dibawah perkiraanku, disini pula amarahnya
kembali pecah. Seperti petir tanpa hujan. Perasaanku yang sudah mulai tenang, kembali kacau. Bahkan aku
tak tahu, apa aku harus kembali ke Bandung atau tidak sama sekali. Aku tak bisa
menenangkannya. Di puncak emosinya, Dia langsung mengajakku ke stasiun, mungkin
di stasiun Dia akan segera melepasku pulang. Dan membiarkanku busuk dengan rasa
bersalah dan kenangan dengannya.
Tiba
di stasiun. Ia tak langsung mengantarkanku. Berbalik, Ia justru mengajakku ke
taman yang tak jauh dari stasiun. Disini pembincaraan kami panjang sekali.
Banyak hal yang kami bicarakan. Ceritanya lepas. Bahkan Ia sempat mengajariku
tentang jurusan kuliah yang di ambilnya, lucu sekali. Dia pun bercerita kalau
dia sudah mulai mau menulis, aku senang mendengarnya. Semangatnya, dari dulu
tidak pernah berubah.
“Aku
juga mau les bahasa inggris aah, toeflku masih jelek soalnya” katanya penuh
semangat.
Aku
mengiyakan niatnya. Sempat juga kuberi dia saran seperti apa pilihan tempat les
yang bagus. Dia mendengar dengan tetapan yang sama seperti dulu. Tatapan yang
selalu menyenangkan untuk dipandang.
Di
taman waktu terasa lambat, dan aku mensyukurinya. Paling tidak aku akan lebih
lama bersama dengannya. Beberapa kali kulihat jam tangan hadiah darinya, jarum
detiknya tak bergerak. Aku pun tersenyum.
Detik demi detik ditaman depan stasiun Malang
semakin kunikmati. Senyumnya lebih banyak mengembang di sini. Bibirnya tak
henti berucap. Sayang detik jam semakin dekat. Seperempat sebelum pukul empat
sore kami pun berpisah. Ia mengantarkanku ke muka gerbang. Kupegang tangannya
ketika menyebrang, dan diciumnya tanganku di salam perpisahan. Kulihat
dipandanginya aku sampai jauh. Aku pun begitu, beberapa kali aku menoleh ke
belakang, kulihat Ia masih menunggu.
“Kapan-kapan
ke Malang lagi ya” suaranya terdengar ditengah keramaian.
Kereta
api pun bergerak dan aku mulai semakin jauh dengannya. Ruang dan waktu kami
resmi berbeda. Aku di Bandung, dia Malang dan aku masih tak tahu ujung dari
semuanya. Namun yang sering kudengar darinya, Ia begitu sakit hati, bahkan Dia
tak tahu kapan akan sembuh. Seketika itu, aku merasakan sesal yang luar biasa.
Dalam
gamang aku berharap bahwa semuanya akan kembali seperti dulu. Dibibirku
mengembang senyum, terkenang masa lalu dengannya, bulir air mataku pun jatuh
satu-satu.
Aku
menyesal.
-Anak
Selatan-


Comments
Post a Comment