JASA AUDIT LAPORAN KEUANGAN HISTORIS | JASA AUDIT REVIU | JASA ASSURANCE LAINNYA | KONTAK BISNIS : 0856 5416 9903 / 0811 575 787

Malang Terbang ke Bulan...

27 agustus 2015-08-2015
Perjalanan ini bukan lah perjalanan yang kurencanakan sebelumnya. Ini adalah perjalanan yang sebetulnya diberontak oleh pikiranku, namun di dukung kuat oleh hatiku. Aku memilih apa yang dikatakan oleh hatiku, sebab kata orang, kata hati itu seperti bisikan Tuhan. Seperti masuknya nya hidayah yang bisa menyadarkan seorang manusia, bahkan tak perduli sepekat apa catatan hidupnya.
Aku pun berangkat menuju sebuah kota yang tak pernah kujejaki sebelumnya. Sumpah. Waktu kecil pun aku tak pernah bermimpi akan berada di kota ini. Namun sekarang dalam hitungan jam, aku akan berada di sana, mengejar sesuatu yang mungkin menurut orang lain, yang kulakukan adalah sebuah bentuk kegilaan. Tak apa. Aku memang sudah gila.
Malang kawan, itu lah kota tujuanku. Kenapa Malang? Nanti kalian akan tahu alasannya.
Sebelumnya..aku adalah seorang mahasiswa di salah satu universitas di kota bandung. Bandung ke Malang, perjalanan yang lumayan jauh tapi masih terhitung dekat karena letaknya yang masih dipulau Jawa. Butuh 12 Jam menuju malang jika dari bandung dengan kereta api sedangkan dengan bis butuh sekitar 16 jam perjalanan. Ya, kalau menggunakan pesawat hanya butuh kurang lebih 2 jam gitulah. Menggunakan pesawat tak masuk dalam rencananku kawan.
Dua jam sebelum perjalanan, aku tak tahu jam berapa pastinya, yang kuingat, aku baru saja selesai makan siang, dan baru saja menyelesaikan urusan kampusku.
Nah disinilah kawan asal muasalnya peristiwa perjalanan dua hariku di malang.  Perjalanan singkat namun begitu memesona. Sama seperti terpesonanya aku dengan kota malang. Kota yang rapi dan bersih. Harus kuakui, dari sekian banyak kota yang telah kusinggahi, malang adalah yang paling indah. Seindah gadis-gadisnya. #aseeek.
Perjalananku ini dilatarbelakangi alasan klasik. Aku yakin kalian pun sering menyaksikannya ditelevisi,sinetron, FTV, atau di layar lebar sekalipun. Alasannya sangat klasik. Cinta kawan. Itulah alasannya.
Aku tak menyangka bahwa akhirnya perjalanan karena cinta ini telah kulakukan. Sebelumnya aku sama seperti kalian, mengganggap bahwa yang seperti ini hanya akan ada di televisi. Dan sekarang, aku tak mampu mengelak. Harus kuakui,bahwa ada perjalanan seperti itu. Dan sejarah telah mencatatnya, aku lah salah satu pelakunya.
Kisahku mungkin tak akan seromantis Romeo dan Juliet, atau Habibi Ainun jika di Indonesia, namun aku yakin, kisahku cukuplah akan memberikan pelajaran kepada para pencinta selanjutnya, jika mereka memang telah dibuat mabuk oleh dewa amor, hanya satu pesanku, “Perjuangkanlah” kalau memang kalian mencintainya. Tak perduli sekeras apa pun, atau sekecil apapun peluang kalian untuk bersama, tapi, jika telah memperjuangkannya aku yakin kelak di masa tua atau sebelum mati kalian tak akan menyesal.
Baiklah akan kumulai ceritaku...
Seminggu sebelum perjalananku. Aku dan si Dia, terlibat pertengkaran yang sangat hebat.  Hubungan jarak jauh membuat kami sulit menyelesaikan masalah dengan baik. Padahal kami sudah berkomitmen. Terkadang masalah kecil pun menjadi sangat besar, dan mempengaruhi kualitas hubungan kami.
Aku yang memulai dalam masalah ini. Aku telah bermain api. Seminggu pula aku dicambuk rasa bersalah. Tidurku tak pernah nyenyak, makanku pun semakin tak teratur. Alhasil berat badanku pun turun drastis.
Cinta kawan... mau berkata apa? Kuat betul pengaruhnya.
Tepat tanggal 27 agustus, 2015, aku sudah tak bisa menunggu lagi. Tiap hari aku ditikam rasa bersalah. Sakit betul rasanya.
Siang di tanggal yang sama. Kuputuskan untuk segera keterminal dekat kosanku di bandung. Sumpah. Ini adalah perjalanan yang aku tahu maksudnya tapi aku tak pernah ini akan berhasil atau tidak. Karena, dia, gadis yang telah menaklukan hatiku ini, telah marah besar. Semua jenis alat komunikasi kami telah diputuskannya, atau mungkin hubungan kami pun telah diakhirinya. Namun yang membuatku masih kuat memperjuangkannya adalah kata pisah yang tak pernah keluar dari mulutnya. Dia hanya mengatakan,dia begitu sakit, sangat sakit.
Ketika ia mengatakan itu, aku hanya bisa diam, membayangkan betapa teganya aku karena telah melukai perasaannya. Seperti ada tamparan keras di kedua pipiku. Merah,dan berdarah rasanya. Terakhir, ia sambil menangis ketika menutup teleponnya. Sembari mengatakan bahawa aku adalah laki-laki terjahat yang pernah dikenalnya.
Aku terdiam. Semakin tenggelam ke dalam amarahnya.
Siang pukul dua tiga puluh, seperti itu lah yang tertulis ditiket keberangkatanku. Keesokan harinya, barulah aku akan sampai di kota malang. Bis meluncur, perasaanku goncang. Ragu dan takut. Sepenuh perjalanan perasaanku dipenuhi kembimbangan. Takut kalau aku ternyata tak bisa bertemu dengannnya. Takut kalau dia sudah tak menginginkanku lagi. Takut. Aku dibunuh rasa takutku. Perjalanan panjang Bandung- Malang yang kutempuh berjam-jam itu : hanya berapa menit mataku tertutup,sisanya mataku terjaga karena rasa takut.
Malam hari,saat perjalanan,sengaja kukirim pesan singkat padanya. Kukatakan bahwa aku dalam perjalanan menuju malang, aku ingin bertemu dengannya, dan meminta maaf atas semua kesalahanku. Sampai pagi hari, pesan singkatku tak berbalas. Aku semakin khwatir. Paginya, bis yang kutumpangi tiba di Tuban, sebuah kota yang menyambut kedatangaku dengan desiran ombak. Di Tuban, aku mencoba menghubunginya lagi. Kukatakan kalau aku sudah sampai Tuban. Kembali, pesanku tak segera terbalas.
Detik waktu kembali membawaku semakin jauh dari kota Bandung, dan kembali membawaku menjauh dari Tuban. Pukul sembilan pagi, di lamongan kalau tidak salah. Akhirnya dia membalas pesanku.
Aneh banget sih kamu”
Hanya itu.
“Aneh kenapa?,aku ke malang mau ketemu kamu. Aku mau memperbaiki hubungan kita?” Balasku.
“Hubungan yang mana? Aku rasa sudah berakhir beberapa hari yang lalu, tak ada yang spesial, kedatangamu hanya menambah luka saja.”
Balasan itu yang kuterima. Hampir saja aku menyerah. Hampir saja.
“Kau tidak pernah mengatakan pisah denganku. Aku hanya ingin ketemu kamu. Jam 10 mungkin aku akan sampai di terminal arjosari” balasku.
“Iya, sampai berjumpa”
Balasan terakhir itu sedikit memberi harapan padaku. Walaupun aku tak pernah tahu percisnya. Apakah dia akan memaafkanku atau tidak. Aku sudah melakukan perjalanan sejauh ini. Sedikitpun aku tak akan berbalik.
Satu jam sebelum shalat jumat, akhirnya aku sampai di Malang. Terminal Arjosari adalah tempat pertama di kota Malang yang akan mengingatku. Bahwa langkahku telah sampai disana.
Kalau kamu datangnya siang. Lebih baik kita ketemunya setelah kamu shalat jumat. Dari Arjosari, kamu bisa shalat dimesjid  Sabilllah tak jauh dari terminal.” Pesan singkat darinya kembali kuterima.
Kuikuti petunjuknya darinya dengan senyum mengembang. Paling tidak Dia masih menyimpan sedikit perhatian padaku. Walaupun aku tak tahu, seperti apa sekarang jenis perhatiaannya. Apakah masih menganggapku sebagai orang yang spesial atau hanya karena menaggapku tamunya saja.
Dari terminal aku langsung bertolak ke mesjid Sabilillah.
Kurang lebih satu jam aku menunggu dalam diam, dan seribu skenario dari mana akan kumulai pembicaraanku. Dia pun datang, dengan sepeda motornya. Diparkirnya sepeda motornya, dan menoleh kearahku.
Tak ada senyum seperti dulu yang sering kusaksikan setiap hari. Kekecewaan jelas tersirat dari wajahnya. Sekejap itu pula aku tak mampu berbicara apa-apa.
“Aku minta maaf” hanya ini yang mampu lepas dari mulutku selama sepuluh menit.
Kami pun diam. Lama sekali.
“Mau makan?” tanyaku melebur diam.
“Aku sudah kenyang”
“Ayolah, bawa aku keliling malang sebentar sebelum aku pulang”
“Kamu mau langsung pulang?”
“Iya” jawabku ringan.
Perjalanan enam belas jam itu pun terasa percuma. Lantaran pikiranku yang raib ketika Ia di dekatku. Aku sadar bahwa sudah ada yang berbeda selama seminggu ini. Aku tak tahu percisnya. Tapi aku jelas merasakannya. Dari cara bicaranya, dari caranya menjaga sikapnya dariku, dan dari caranya membuka pesan dari handphonenya.
Aku menarik nafas panjang. Perasaanku lega, dan sakit. Mungkin kenyataan itu lah yang harus kuterima.
Karena tak tahu kota Malang, dan tak tahu aku harus naik apa untuk ke stasiun. Kuputuskan untuk meminta tolong padanya untuk mengantarkanku. Itu pun kalau dia tidak sibuk. Dia bersedia.
Stasiun Malang sesak di jejali penumpang yang sibuk antri membeli tiket. Raut wajah mereka berupa-rupa. Ada yang cemas, takut  kehabisan. Ada yang terlihat santai dan tetap keren, mungkin karena perjalanannya masih lama. Sementara aku sendiri, termasuk dengan orang yang memasang wajah takut.
“Terimaksih sudah mengantarkanku” suaraku berat.
Dia tak menjawab.
“Kalau kamu masih ada kesibukan, kamu silakan lanjutkan. Aku bisa sendiri kok.” Suaraku makin berat.
“Aku tidak setega kamu” jawabnya.
Pelan, tapi menohok ulu hatiku. Aku tahu dia berusaha menayangkan kembali kesalahanku. Aku tak membalas apa-apa. Diamku adalah pengakuan, karena aku jelas salah dalam hal ini.
Aku pun ikut dalam barisan panjang berharap mendapatkan tiket kereta api untuk meluncur ke bandung hari ini juga. Semula Dia duduk dikursi tunggu. Giliranku makin dekat. Kulihat dari pantulan kaca loket Ia mendekat padaku. Aku gerogi.
“Yakin mau pulang hari ini?, gak besok aja”
Aku mulai bimbang. Ragu. Ragu kalau tetap disini aku justru merasakan perih.
“Iya, aku yakin” jawabku bohong.
Sejujurnya aku ingin berlama-lama di kota Malang. Aku rindu dengan senyumnya. Aku ingin lebih lama menghabiskan waktu dengannya. Aku rindu suaranya dan aku rindu aroma parfumnya yang sampai ke hidungku, ketika angin meniup pelan.
“KTPnya mas” kata petugas.
Petugas tiket itu menghancurkan lamunanku. Lalu keberikan KTPku.
“Tujuan ke bandung hari ini” kataku berat.
“Gak besok aja pulangnya?” katanya sambil menatapku, lalu Ia berbalik arah dan kembali menunggu dikursi tunggu.
Tatapannya tak mampu kuhindari. Sumpah, andai Dia tahu, bahwa sejujurnya aku ingin lebih lama di kota Malang.  Sayang, aku tak mampu mengucapkannya.
 “Tiket apa jenis apa mas?” tanya sang petugas tiket lagi.
Tak kuhiraukan. Hingga Iamengulanginya untuk yang kedua, dan yang ketiga.
“Mas, maaf mas, antrian masih panjang” Aku diingatkan.
“Gak jadi mas. Maaf KTP saya.” Kataku yakin.
“Hey, aku gak jadi pulang hari ini, aku pulang besok.”
Kulihat Dia sedikit terkejut. Entah itu ekspresi senang atau apa. Aku tak tahu pasti. Sebab seperti ada raut wajah yang disembunyikannya.
“Besok, sambil menunggu keberangkatan, kamu mau ajak aku kemana?” tanyaku langsung pada poinnya. Dengan kata lain : “Please besok ajak aku jalan-jalan dong.”
“Aku ajak kamu keliling Malang”
Hatiku berbunga-bunga mendengarnya. Kulemparkan pandanganku kearah langit kota malang yang mulai sendu. Tiba-tiba langit malang berlukiskan pelangi. Indah sekali. Senang sekali aku menatapnya.
“Ayo, aku antar kamu ke penginapan. Di dekat sini ada yang murah kok” katanya lembut.
Maka makin berbunga-bungalah pandanganku. Mawar-mawar berterbangan, melintas di atas kepalaku. Aku berjalan pelan. Masih tak percaya.
Sepeda motor kami pun melaju. Tak sampai lima menit, aku sampai dipenginapan. Setelah cocok dan memastikan tempatku bermalam malam ini, Ia pun pamit.
 “Tunggulah sebentar, ngobrol-ngobrol dulu, aku kan kangen sama kamu.” Harusnya ini yang kukatakan. Tapi, Lidahku kelu, tak mampu menahan kepergiannya. Antara segan atau apa lah namanya. Dari jauh, kusaksikan punggungnya semakin jauh, hingga tak terlihat lagi.
“Besok, pagi-pagi sekali aku akan mejemputmu.” Katanya sebelum Ia pergi semakin jauh.
v   
Malamnya, saat di langgar yang tak jauh dari tempatku  menginap, whatsup berbunyi. Kubuka, dan pesan dari Dia pun keterima. Sudah lama sekali aplikasi pesan ini tak memberiku pemberitahuan jika ada pesan. Sebab seminggu, whatsup ku dibloknya. Aku hampir tak bisa menghubunginya, kecuali hanya dengan pesan singkat.
“Jalan-jalanlah, kau bisa ke arah balai kota, tak jauh dari tempatmu menginap, maaf aku tak bisa menemanimu, aku harus menemani Ibuku” senang betul aku membacanya, tak masalah lah tentang isi pesannya, yang penting adalah: Dia sudah mau menghubungiku lebih dulu. Sumpah, aku senang sekali.
Malam hari di Kota Malang pun kulewati dengan selama dua jam menikmati Indahnya cahaya lampu dari gedung balai kota Malang. Alun-alun malang di malam hari pun tak kalah memesona. Rapi dan bersih. Kota malang, , langit malam kota malang yang dipenuhi bintik-bintik bintang, hawanya yang sejuk, dan sikapnya yang menjadi baik adalah hadiah malam pertama dikota malang yang tak berhenti membuatku semakin takjub.
Paginya, 28-08-2015.
Pagi-pagi sekali, setelah pulang dari langgar. Aku lansung membersihkan diri. Mandi, lalu kugunakan pakaian yang sudah dua hari melekat dibadan. Bedanya, hari ini parfumnya kusemprotkan lebih banyak dari biasanya, ya kalian tahulah seperti apa aroma pakaian yang tak diganti selama dua hari.
Dia datang hanya selisih beberapa seperti apa yang dia ucapkan kemaren sore. Dari jauh kupandangi wajahnya. Aku tersenyum dalam hati. Sayangnya, Ia masih tampak benci denganku. Wajahnya datar, seperti tak ada yang spesial untuk hari ini. Padahal biasanya Dia selalu bersemangat saat kuajak jalan-jalan. Jika kuajak esok pagi, malamnya katanya dia tak bisa tidur, memikirkn betapa indahnya hari esok itu. Dan hari ini terbalik, aku yang tak bisa tidur, memikirkan betapa indahya hari terakhir di kota Malang karena ditemani olehnya.
“Kita sarapan dulu, di sini ada kok tempat yang enak untuk sarapan.” Katanya sahdu. Masih seperti dulu, ketika kami masih berbahagia setiap hari.
“Iya” jawabku pelan. “Iya” disini sama dengan : “Aku gak nyangka kamu bahkan masih seperthatian ini ke Aku”. Untuk yang satu ini aku gak tahu namanya, mungking ini yang disebut tingkat GR level dua belas”.
Sepeda motorpun meluncur, dan detik-detik yang sangat kunikmati bahkan aku ragu detik-detik seperti ini akan terulang lagi atau tidak itu pun bermula. Namun yang jelas, setiap detik yang kulewati bersamanya waktu itu, sudah masuk dalam katagori detikan waktu yang tak akan kulupakan.
Dalam perjalanan kami masih tampak canggung. Terutama aku. Aku tak tahu harus memulai percakapan dari mana. Semuanya seperti pertama kali aku bertemu dengannya.
“Ke kampusku mau gak?” tanyanya bersemangat dan memecah keheningan.
“Boleh, tunjukan arahnya padaku”
                Dia pun bersemangat menjadi penunjuk arah. Belok kiri, lurus, belok kiri, terus ke kanan. Pembincaraan pun menjadi ringan. Di atas motor, suasana mulai mencair, walaupun aku sadar, bahwa perasaanku mengatakan, keadaan masih belum baik-baik saja.
Kami pun tiba di kampusnya, di kampus dia semakin bersemangat mengajakku berkeliling.
“Aku udah kayak tour guide ya?” tanyanya lalu senyumnya pun terlukis.
Itu adalah senyum pertama yang kulihat setelah sekian lama. Tetap. Senyumnya tetap manis dan indah. Seperti air di anak sungai yang mengalir dengan tenang. Seperti itulah perasaanku. Beberapa saat, aku semakin merindukan susasana seperti dulu. Dimana tawa kami selalu lepas. Ia bercerita  tanpa henti, aku pun mendengarkannya dengan setia.
“Kemaren lho aku jatuh.”
“Jatuh dimana?” tanyaku khwatir.
“Nanti aku tunjukin ke kamu tempatnya.”
“Pokoknya aku malu banget. Aku diketawain sama banyak orang.”
“kok bisa?”
“Begini lho,aku dateng, terus nyari parkirnyakan susah. Nah dapetnya di sana.” Katanya sambil menunju ke arah sepeda motornya waktu itu parkir.
“Terus kok kamu bisa jatuh?” tanyaku penasaran.
Ketewanya pun pecah. Lama sekali. Seperti Ia tak sanggup untuk melanjutkan ceritanya.
“Kan ada bunga gitu, terus aku lompat. Aku gak liat, kalau diantara tanaman bunga itu ternyata ada kawatnya,yang memang sengaja dipasang untuk ngehalangin orang yang mau lompat gitu. Tapi karena udah keburu, mau jalan muter juga bakal jauh,jadi aku lompat. Kakiku nyangkut. Terus aku jatuh dech, kayak gini ni.” Ceritanya sambil mempraktekan posisi dia terjatuh. Tergeletak kayak korban tabrak lari.
Ketawaku pun pecah. Tak sanggup aku membanyangkannya.
v   

Perjalanan kami pun berlanjut di museum alat-alat perang zaman dulu di kota malang. Aku lupa percisnya nama dari museum itu. Untungnya aku sempat mengambil beberapa gambar di sini. Gambarku, gambar senjata, gambar mobil tempo dulu, dan gambar dirinya tentunya. Gambarnya yang ku ambil dengan sembunyi-sembunyi.
“Kamu laper gak?”
“hmm, lumayan sih.”
“Aku mau ajak kamu ke tempat makan yang paling rame di sini.” Dia lalu menoleh kearah jam tangan yang dulu dibelinya bersamaku. Aku juga yang memilihkan jam itu.
“Waahh kalau jam segini, antriannya pasti udah panjang banget ni” katanya ragu.
Kami pun beranjak. Diperjalanan kami sempat singgah di alun-alun kota Malang yang semalam kukunjungi. Di sini kami sempat main catur yang disedikan pengelola taman bacaan keliling, dan hasilnya, aku kalah. Permainannya semakin bagus sejak kami tak bertemu lagi. Kalau dulu, aku bisa dengan mudah mengalahkannya, tapi sekarang berbalik, dia yang bisa mengalahkanku tanpa perlawanan. Dia tertawa puas. Aku pun puas karena kembali bisa menyaksikan tawa lepasnya.
Kami pun melanjutkan perjalanan ke tempat yang tadi Ia janjikan. Benar saja. Antrian pun sudah panjang. Kamipun harus antri hampir setengah jam untuk dua mangkok bakso yang katanya paling enak itu. Tak salah, bakso yang disajikan memang enak, aku yang bukan pecinta bakso saja bisa menyukainya, bagaimana yang seperti dia, pencinta bakso sejati.
Semangkok bakso yang enak itu pun habis.
Kami kembali melanjutkan perjalanan, kembali ke penginapan dan aku mulai merasakan haru.
Pukul satu siang, aku keluar dari penginapan, dan sebelum aku benar-benar kembali ke Bandung, kembali Ia mengajakku kesuatu tempat yang katanya bagus, dan tak kalah ramai.
“Serabi imut, kamu mau coba gak?”
“Boleh” jawabku bersemangat. Sebenanya bukan rasa lapar yang menjadi alasan aku menyetujui ajakannya,tapi karena ingin bersamanya. Itu alasan tepatnya.
Kupesan segelas kopi dan satu serabi imut dengan rasa kesukaanku, keju. Sedangkan Dia, segelas yogurt rasa melon dan serabi coklat yang di tambah sedikit mesis. Pembicaraan kami panjang disini. Dibawah perkiraanku, disini pula amarahnya kembali pecah. Seperti petir tanpa hujan. Perasaanku yang  sudah mulai tenang, kembali kacau. Bahkan aku tak tahu, apa aku harus kembali ke Bandung atau tidak sama sekali. Aku tak bisa menenangkannya. Di puncak emosinya, Dia langsung mengajakku ke stasiun, mungkin di stasiun Dia akan segera melepasku pulang. Dan membiarkanku busuk dengan rasa bersalah dan kenangan dengannya.
Tiba di stasiun. Ia tak langsung mengantarkanku. Berbalik, Ia justru mengajakku ke taman yang tak jauh dari stasiun. Disini pembincaraan kami panjang sekali. Banyak hal yang kami bicarakan. Ceritanya lepas. Bahkan Ia sempat mengajariku tentang jurusan kuliah yang di ambilnya, lucu sekali. Dia pun bercerita kalau dia sudah mulai mau menulis, aku senang mendengarnya. Semangatnya, dari dulu tidak pernah berubah.
“Aku juga mau les bahasa inggris aah, toeflku masih jelek soalnya” katanya penuh semangat.
Aku mengiyakan niatnya. Sempat juga kuberi dia saran seperti apa pilihan tempat les yang bagus. Dia mendengar dengan tetapan yang sama seperti dulu. Tatapan yang selalu menyenangkan untuk dipandang.
Di taman waktu terasa lambat, dan aku mensyukurinya. Paling tidak aku akan lebih lama bersama dengannya. Beberapa kali kulihat jam tangan hadiah darinya, jarum detiknya tak bergerak. Aku pun tersenyum.
 Detik demi detik ditaman depan stasiun Malang semakin kunikmati. Senyumnya lebih banyak mengembang di sini. Bibirnya tak henti berucap. Sayang detik jam semakin dekat. Seperempat sebelum pukul empat sore kami pun berpisah. Ia mengantarkanku ke muka gerbang. Kupegang tangannya ketika menyebrang, dan diciumnya tanganku di salam perpisahan. Kulihat dipandanginya aku sampai jauh. Aku pun begitu, beberapa kali aku menoleh ke belakang, kulihat Ia masih menunggu.
“Kapan-kapan ke Malang lagi ya” suaranya terdengar ditengah keramaian.
Kereta api pun bergerak dan aku mulai semakin jauh dengannya. Ruang dan waktu kami resmi berbeda. Aku di Bandung, dia Malang dan aku masih tak tahu ujung dari semuanya. Namun yang sering kudengar darinya, Ia begitu sakit hati, bahkan Dia tak tahu kapan akan sembuh. Seketika itu, aku merasakan sesal yang luar biasa.
Dalam gamang aku berharap bahwa semuanya akan kembali seperti dulu. Dibibirku mengembang senyum, terkenang masa lalu dengannya, bulir air mataku pun jatuh satu-satu.  

Aku menyesal.

-Anak Selatan-

Comments

Posting Terpopuler