Belajarlah dari Matematika
Kulihat
senyum itu terlempar ke langit, membalas mendung yang sejak kemarin menjadi
kelambu sang siang. Senyum itu melibas luka lama, menjadi pemanis pahitnya
perjuangan, dan menjadi penyemangat ketika cobaan datang dan hampir saja membuatnya menyerah.
“Anda
mau menjutkan cerita?” tanyaku mengambil waktu sang anak selatan yang sedang
bermesra-mesra dengan masa lalunya.
“Tentu.”
Jawabnya lugas.
“Berhari-hari
aku berdebar. Tidur tak nyenyak, makan tak kenyang” lanjut sang anak selatan.
“Yang
akan kuceritakan ini adalah satu diantara
momen terbaik yang pernah terjadi dalam
hidupku” lanjutnya.
“Apa
itu?” tanyaku.
“Pengumuman
lulus ujian nasional SMP, ihh berdebar aku mengucapkannya” “Kenapa?”tanyaku
penasaran.
“Kamu
tahu kan sebuah mata pelajaran yang disebut dengan matematika itu?, kamu juga
pasti tahu berapa banyak anak indonesia yang jika ditanya apakah menyenangi
Matematika dan jawabannya pasti tidak.”
Aku
mengangguk. Karena harus kuakui secara terang-terangan, bahwa aku pun akan
menjawab “tidak” jika ditanya apa kah meyenangi matematika atau tidak.
“Sejak
SD aku takut dengan yang namanya matematika, aku lebih rela dimarahi, dipukul
di telapak tangan dengan penggaris, dicubit hingga biru dibagian perut atau
lengan, aku lebih berani menerima semua hukuman itu, ketimbang mengerjakan
tugas matematika.” Cerita sang anak selatan terhenti.
“SMP
lebih parah lagi. Tiap kali pelajaran matematika, setiap itu pula aku berdiri
didepan kelas, lantaran tak pernah becus harus mengerjakan soal di depan kelas.
Kalau guru bosan melihat aku didepan kelas, aku disuruh berdiri dihalaman,
hormat pada tiang bendera yang telah lama kehilangan istrinya. Sang bendera
minggat bersama laki-laki lain yang lebih menjulang, gagah dan putih.”
“Bu
Evi, berwajah manis dan jilbab yang besar itu adalah guru matematika yang
sering kubuat kehilangan kesabaran. Cubitannya adalah cubitan maut, kecil namun
sakitnya terasa hingga ketulang. Bekas merahnya mampu bertahan hingga seminggu,
percis seperti iklan pewangi pakaian.”
“Bu
evi apakah sempat bosan menghukukum Bapak?”
“Hahahahahha”
tawa sang anak selatan pun pecah.
“aku
tak tahu kalau tentang itu. Kemungkinan tidak. Buktinya hingga hedak ujian
nasional aku masih sempat disemprotnya.
“Menurutku
Bu Evi pantas menjadi guru teladan se-kabupaten”
“
Bu Evi adalah seorang yang terlahir seabagai seorang guru, bukan guru yang
diciptakan diperguruan tinggi.”
“Aku
adalah yang paling sering dihukum, aku pula yang berhasil membuatnya menangis
lantaran kebodohanku pada pelajaran matematika. Rumus luas segitiga pun aku tak
tahu,bahkan sampai kelas tiga SMP.”
“Masih
jelas dalam memoriku, pada malam sebelum ujian matematika. Bu Evi rela mengayuh
sepeda tujuh kilometer hanya untuk kerumahku. Beliau sangat takut aku tak
lulus. Hanya Bu Evilah yang meragukanku. Lantaran Dia paham betul kemampuanku.”
“Kalau
bahasa inggris, IPA, Bahasa indonesia, ibu percaya sama kamu. Tapi kalau
matematika, maaf ibu meragukanmu Nak” kata Bu evi waktu itu.
“Sampai
larut malam beliau mengajarkanku. Beliau baru pulang, setelah menemukan
keyakinan pada pandanganku. Beliau yakin benar aku bisa waktu itu.”
Ujian
matematika tak seperti yang kubayankan, aku kira aku akan bisa melewatinya
dengan mudah. Badanku basah karena keringat, aku kebingungan dan semuanya
terasa lenyap dari pikiranku. Tiba-tiba aku lupa cara berhitung, dan lupa hasil
9 x 9 itu berapa?
Bu
evi menunggu dengan cemas diluar ruangan. Mungkin dari sekian banyak muridnya,
aku lah yang berhasil membuatnya sangat khawatir.
Jam
ujian berkahir. Aku tak berani mentap wajah Bu Evi.
Aku
pun lulus dengan nilai matematika 4.33 yang berdiri gagah di sembar kertas
putih. Sebuah angka trio yang keramat, dan berhasil merubah semuanya.
“Kau
berhasil Nak, kelak kau harus lebih menyukai matematika,bukan karena tuntutan
kau harus lulus dimata pelajaran itu, tapi karena kau membutuhkan ilmu
matematika.”
Aku
tertegun dalam keramaian. Bu Evi menatapku dengan senyum bangga.
Sejak
itu pula, matematika menjadi pelajaran yang kugemari. Bukan karena aku ingin
terpilih mewakili sekolah di olimpiade matematika, tapi karena aku perlu dengan
ilmu berhitung itu.
Seperti
seorang suami yang tak sanggup jika ditinggal istrinya. Begitulah Bu Evi
mengadaikan pelajaran matematika.
“Ini
bukan hanya tentang sesederhana pelajaran matematika, tapi bagaimana cara kita
meyukai sesuatu. Apa pun itu. Sukailah, karena kita sama-sama saling
membutuhkan. Bukan karena sesuatu yang hanya ingin kau peroleh, tanpa kita
merelakan sesuatu dari hidup kita.”
“Jika
kita menyukai sesuatu, berarti kita rela kehilangan sesuatu dari hidup kita. Kita
suka matematika, berarti kita siap kehilangan waktu lebih banyak untuk belajar
matematika.”
“Jika kita menyukai sesuatu,
berarti kita rela kehilangan sesuatu dari hidup kita”, kata-kata
inilah yang sangat menginpirasi dari sang anak selatan. Aku terdiam beberapa
saat. Mengingat sesuatu yang buruk yang baru saja terjadi dalam hidupku.
“Kenapa
kamu diam?” tanya sang anak selatan.
Aku
terkejut dan tersenyum malu.
“Kehilangan bukan berhenti hidup kita berhenti.
Kehilangan sama artinya dengan kita akan segera menemukan yang baru”
– anak selatan-


Comments
Post a Comment