JASA AUDIT LAPORAN KEUANGAN HISTORIS | JASA AUDIT REVIU | JASA ASSURANCE LAINNYA | KONTAK BISNIS : 0856 5416 9903 / 0811 575 787

Belajarlah dari Matematika

Kulihat senyum itu terlempar ke langit, membalas mendung yang sejak kemarin menjadi kelambu sang siang. Senyum itu melibas luka lama, menjadi pemanis pahitnya perjuangan, dan menjadi penyemangat ketika cobaan datang dan  hampir saja membuatnya menyerah.
“Anda mau menjutkan cerita?” tanyaku mengambil waktu sang anak selatan yang sedang bermesra-mesra dengan masa lalunya.
“Tentu.” Jawabnya lugas.
“Berhari-hari aku berdebar. Tidur tak nyenyak, makan tak kenyang” lanjut sang anak selatan.
“Yang akan kuceritakan ini  adalah satu diantara momen terbaik yang pernah terjadi dalam  hidupku” lanjutnya.
“Apa itu?” tanyaku.
“Pengumuman lulus ujian nasional SMP, ihh berdebar aku mengucapkannya” “Kenapa?”tanyaku penasaran.
“Kamu tahu kan sebuah mata pelajaran yang disebut dengan matematika itu?, kamu juga pasti tahu berapa banyak anak indonesia yang jika ditanya apakah menyenangi Matematika dan jawabannya pasti tidak.”
Aku mengangguk. Karena harus kuakui secara terang-terangan, bahwa aku pun akan menjawab “tidak” jika ditanya apa kah meyenangi matematika atau tidak.
“Sejak SD aku takut dengan yang namanya matematika, aku lebih rela dimarahi, dipukul di telapak tangan dengan penggaris, dicubit hingga biru dibagian perut atau lengan, aku lebih berani menerima semua hukuman itu, ketimbang mengerjakan tugas matematika.” Cerita sang anak selatan terhenti.
“SMP lebih parah lagi. Tiap kali pelajaran matematika, setiap itu pula aku berdiri didepan kelas, lantaran tak pernah becus harus mengerjakan soal di depan kelas. Kalau guru bosan melihat aku didepan kelas, aku disuruh berdiri dihalaman, hormat pada tiang bendera yang telah lama kehilangan istrinya. Sang bendera minggat bersama laki-laki lain yang lebih menjulang, gagah dan putih.”
“Bu Evi, berwajah manis dan jilbab yang besar itu adalah guru matematika yang sering kubuat kehilangan kesabaran. Cubitannya adalah cubitan maut, kecil namun sakitnya terasa hingga ketulang. Bekas merahnya mampu bertahan hingga seminggu, percis seperti iklan pewangi pakaian.”
“Bu evi apakah sempat bosan menghukukum Bapak?”
“Hahahahahha” tawa sang anak selatan pun pecah.
“aku tak tahu kalau tentang itu. Kemungkinan tidak. Buktinya hingga hedak ujian nasional aku masih sempat disemprotnya.
“Menurutku Bu Evi pantas menjadi guru teladan se-kabupaten”
“ Bu Evi adalah seorang yang terlahir seabagai seorang guru, bukan guru yang diciptakan diperguruan tinggi.”
“Aku adalah yang paling sering dihukum, aku pula yang berhasil membuatnya menangis lantaran kebodohanku pada pelajaran matematika. Rumus luas segitiga pun aku tak tahu,bahkan sampai kelas tiga SMP.”
“Masih jelas dalam memoriku, pada malam sebelum ujian matematika. Bu Evi rela mengayuh sepeda tujuh kilometer hanya untuk kerumahku. Beliau sangat takut aku tak lulus. Hanya Bu Evilah yang meragukanku. Lantaran Dia paham betul kemampuanku.”
“Kalau bahasa inggris, IPA, Bahasa indonesia, ibu percaya sama kamu. Tapi kalau matematika, maaf ibu meragukanmu Nak” kata Bu evi waktu itu.
“Sampai larut malam beliau mengajarkanku. Beliau baru pulang, setelah menemukan keyakinan pada pandanganku. Beliau yakin benar aku bisa waktu itu.”
Ujian matematika tak seperti yang kubayankan, aku kira aku akan bisa melewatinya dengan mudah. Badanku basah karena keringat, aku kebingungan dan semuanya terasa lenyap dari pikiranku. Tiba-tiba aku lupa cara berhitung, dan lupa hasil 9 x 9 itu berapa?
Bu evi menunggu dengan cemas diluar ruangan. Mungkin dari sekian banyak muridnya, aku lah yang berhasil membuatnya sangat khawatir.
Jam ujian berkahir. Aku tak berani mentap wajah Bu Evi.
Aku pun lulus dengan nilai matematika 4.33 yang berdiri gagah di sembar kertas putih. Sebuah angka trio yang keramat, dan berhasil merubah semuanya.
“Kau berhasil Nak, kelak kau harus lebih menyukai matematika,bukan karena tuntutan kau harus lulus dimata pelajaran itu, tapi karena kau membutuhkan ilmu matematika.”
Aku tertegun dalam keramaian. Bu Evi menatapku dengan senyum bangga.
Sejak itu pula, matematika menjadi pelajaran yang kugemari. Bukan karena aku ingin terpilih mewakili sekolah di olimpiade matematika, tapi karena aku perlu dengan ilmu berhitung itu.
Seperti seorang suami yang tak sanggup jika ditinggal istrinya. Begitulah Bu Evi mengadaikan pelajaran matematika.
“Ini bukan hanya tentang sesederhana pelajaran matematika, tapi bagaimana cara kita meyukai sesuatu. Apa pun itu. Sukailah, karena kita sama-sama saling membutuhkan. Bukan karena sesuatu yang hanya ingin kau peroleh, tanpa kita merelakan sesuatu dari hidup kita.”
“Jika kita menyukai sesuatu, berarti kita rela kehilangan sesuatu dari hidup kita. Kita suka matematika, berarti kita siap kehilangan waktu lebih banyak untuk belajar matematika.”
“Jika kita menyukai sesuatu, berarti kita rela kehilangan sesuatu dari hidup kita”, kata-kata inilah yang sangat menginpirasi dari sang anak selatan. Aku terdiam beberapa saat. Mengingat sesuatu yang buruk yang baru saja terjadi dalam hidupku.
“Kenapa kamu diam?” tanya sang anak selatan.
Aku terkejut dan tersenyum malu.



“Kehilangan bukan berhenti hidup kita berhenti. Kehilangan sama artinya dengan kita akan segera menemukan yang baru”

– anak selatan-

Comments

Posting Terpopuler