JASA AUDIT LAPORAN KEUANGAN HISTORIS | JASA AUDIT REVIU | JASA ASSURANCE LAINNYA | KONTAK BISNIS : 0856 5416 9903 / 0811 575 787

ABANG


Seorang Pemuda tengah beringas dengan sisa-sisa tenaganya. Meraup cangkul, lalu di hujamkannya ke tanah. Begitu berulang-ulang, hingga langit sore yang memerah tak mampu lagi menuggunya. Sore kala itu pun menyerah, lalu disulam menjadi malam, yang perlahan mulai gelap. Pemuda itu masih menari dengan pekerjaanya.
Sang Adik yang di bawanya bersama, merengek minta pulang, lantaran takut dengan gelap yang makin meraja. Barulah Ia sadar, jika hari sudah benar-benar meninggalkannnya. Ia berkemas, di gendongnya sang adik di pundaknya. Lalu melangkahlah dua bersaudara yang ditinggal Ayah dan Ibunya tiga tahun yang lalu itu, melangkah dalam gelap yang kian pekat.
Jangan dikira, sebidang tanah yang baru saja dikerjakan oleh pemuda itu adalah miliknya. Dia hanya bekerja sebagai buruh kasar, bekerja apa saja, entah seberat apa, baginya tak ada kadar yang bisa membatasi tenaganya. Bagi pemuda itu yang terpenting adalah rupiah yang dihasilkan dari peluhnya. Karena dengan rupiah itu, artinya hidupnya dan hidup adiknya akan bersambung terus, seperti episode di sinetron-sinetron. Karena dengan rupiah itu, pemuda itu tak perlu takut jika adiknya harus putus sekolah, sebab dari rupiah-rupiah yang seolah mengalir seperti peluhnya itu, Ia masih mampu membayar uang sekolah, dan membeli perlengkapan sekolah untuk adiknya.
Sampai dirumah, Pemuda itu tak bisa langsung istirahat dari letih. Sebab, dua perut yang tengah keroncongan harus segera di isi, biar berhenti bunyinya. Diturunkan adiknya, lalu Ia beranjak ke dapur, memasak apa yang bisa dimasaknya. Walau pun menu mereka jarang berganti, kedua bersaudara itu tetap lahap.
“Bang, Jalal besok gak mau sekolah lagi ya?” tanya sang adik yang memecah keheningan mereka malam itu.
Sang Abang yang memang indah perangainya. Terkenal seisi kampung dengan sifatnya yang pendiam, berwajah teduh, lalu menanyai lembut Adiknya;
“Kenapa Lal? Pelajarannya susah atau apa?”
“Mmmm Gak Bang, Jalal mau bantu Abang kerja. Mau cari uang sendiri Bang, biar Jalal gak minta lagi dengan Abang”
Sang Abang merekah senyumnya mendengar jawaban Adiknya, lalu berkatalah dia sambil mengelus lembut kepala Adiknya itu;
“Jalal, badanmu kan kecil, jadi nda bisa kerja berat-berat, bisa-bisa patah nanti tanganmu. Kalau Jalal berhenti sekolah, memang Jalal mau jadi macam Abang?, badannya gelap, kurus, bodoh?, jalal mau?”
Sang Adik berpikir singkat, lalu digelengkannya kepalanya.
“Abang sekolahkan Jalal, biar Jalal nda jadi macam Abang. Cukup Abang jak yang macam ini.” Ucap pemuda itu, dipeluknya sang adik yang masih lugu kala itu. Dikecupnya kening adiknya.
“Jalal harus jadi “orang”” Lanjutnya lagi.
Dua bersaudara itu pun dibuai malam. Meletakan mimpi mereka diantara bintang yang melayang di langit. Sayang, buaian malam memang tak selalu penuh mereka rasakan. Pukul 02.00 dini hari, dua beradik itu sudah terbangun dari mimpi mereka yang belum sampai pada klimaksnya. Sang Abang sudah harus bersiap-siap pergi kekebun karet kepunyaan bos besar yang ada di kampung mereka. Sepagi itu, sang Abang sudah harus memberantas hutan, menebas rasa dingin menusuk tulang, melawan embun yang menetes pelan dari langit. Sepagi itu sang Abang sudah harus mencari rupiah.
Sang Adik selalu tak mau di tinggal sendiri, Ia selalu meminta ikut kemana pun Abangnya pergi. Wajar saja, sebab mereka sudah tak punya siapa-siapa lagi. Sang Adik hanya memiliki Abangnya. Dan sang Abang hanya memiliki Adiknya.
Sampai di kebun karet. Sang Abang akan mencarikan tempat yang nyaman, agar adiknya dapat melanjutkan mimpinya, baru setelah itu, Ia bisa bekerja dengan tenang. Nanti di pukul 05.00 pagi, mereka sudah bersiap-siap pulang kerumah, melangkah dengan tergopoh-gopoh. Sang Adik harus segera kesekolah, harus kembali melangkah dengan jarak yang tak dekat dari rumah mereka.
Kembali sang Abang akan menggendong adiknya di pundak. Dengan begitu Sang Adik, akan lebih semangat untuk kesekolah. Meraih mimpi yang rasanya masih terlalu besar untuk anak seusianya. Mimpi yang dulu disematkan kedua orang tua mereka sebelum tiada, juga mimpi sang Abang yang turut tertunas berkat peluh demi peluh yang telah dikorban Abangnya untuk dirinya. Tak kan lah Dia tak berniat untuk membalasnya.
v   
Begitulah setiap hari sang Abang mengantarkannya kesekolah. Hingga Ia semakin besar, berat badannya semakin berisi, hingga sang Abang tak mampu lagi untuk menggendongnya dipundak. Hingga akhirnya sang adik tuntas pula sekolah dasarnya, dan tuntas pula sekolah menengah pertamanya, lalu sang Adik memutuskan untuk pergi, merantau ke kota, belajar di sana.
Semula sang Abang menolak, Usia sang Adik yang sangat belia adalah salah satu alasannya. Tak tega jika Ia harus membiarkan adiknya seorang diri di kota. Siapa yang akan mengurusnya. Siapa pula yang akan mengantarkannya ke sekolah seperti yang selalu dilakukannya setiap pagi.
Kebersamaan kawan, sebenarnya itu alasannya. Sebab ketika Sang Adik mengutarakan niatnya yang hendak sekolah ke kota. Bayang-bayang lama, yang dulu mulai muncul kembali di pikiran abangnya. Bayang saat dimana dulu sang Abang selalu menggendongnya di pundak, bayang dimana dulu mereka selalu melangkah tergopoh-gopoh jika hendak kesekolah. Bayang adiknya yang dulu sempat bertanya ketika kedua orang tua mereka dipopong dengan keranda oleh penduduk kampung, katanya;
“Bang mau pergi kemana Bapak dengan Emmak Bang?, nanti mereka pulang lagi nda Bang?”
Sang Abang waktu itu tak mampu menjawab. Ia hanya mampu memeluk Adiknya, seraya berucap;
“Ada Abang Adikku, Abang tak akan membiarkan Jalal sendiri”
Tapi tak disangkanya, hari ini adiknya akan meninggalkan Ia sendiri. Tak pula di sangkanya, hari ini dia akan mengantarkan Adiknya itu menuju Kota. Sungguh sang Abang masih belum bisa mengira, jika akhirnya, jika Ia dan Adiknya itu akan berpisah.
Lepas pula lafal salam dari mulut Adiknya. Berbekas pula bekas ciuman tangan Adiknya. Terlafal pula doa dari dalam hatinya, adalah untuk kebaikan Adiknya selama di Kota, kelancaran, kemudahan rizki, kesehatan yang selalu melekat pada diri Adiknya, serta yang terpenting adalah kemudahan Adiknya dalam memahami ilmu-ilmu yang akan diberikan oleh guru-gurunya disana.
Hari itu Sang Abang hanya mampu menahan air matanya, lalu dibiarkannya matanya memerah, baru setelah wajah Adiknya digiring menjauh oleh bis, setelah itu semua, barulah air matanya tertumpah. Belum sepuluh menit sang Adik berlalu, rindu yang menderu telah menusuk ulu hatinya. Ia merindu, benar-benar merindu.
Sehari setelah itu, usaha Abangnya kian keras. Jam kerjanya semakin berlipat, bahkan hanya beberapa jam yang disisakannya untuk istirahat. Sebagian besar penghasilannya di simpannya di bawah kasur tempat Ia tidur, dua seminggu sekali uang itu lalu dikirimkan ke Adiknya ke kota. Begitu terus menerus, hingga tak terhitung lagi untuk yang kesekian kalinya.
Tetap tak berubah, Sang Abang usahanya tetap keras, kerjanya juga makin berat, senyumnya pun tetap tak berubah, lebih lagi ketika Ia memasukan rupiah demi rupiah yang dikumpulkannya ke dalam amplop-senyumnya tetap merekah, lalu berbekal sekolah yang hanya lulus SD, di tuliskannya di badan Amplop itu “teruntuk Adikku yang Abang sayang”, lalu ditulis kalimat pendek dibawahnya ;
“Mudah-mudahan uang ini cukup”
Dihantarkannya lah amplop itu ke kantor Pos yang letaknya di ujung kampung. Tersendak-sendak nafasnya ketika menahan letih mengayuh sepeda, begitu terus sepanjang bulan, berulang-ulang dilakukannya. Penjaga pos pun sampai mengenali wajahnya, dan tak perlu lagi untuk bertanya lantaran sang petugas sudah hafal betul kemana tujuan amplop coklat itu akan dikirim.
Hampir setahun sang Abang ditinggal pergi, entah apa kabar Adiknya di Kota-Ia tak tahu betul. Sebab sang Adik jarang sekali mengiriminya surat. Sore itu, untuk sore yang kesekian kalinya, sang Abang hanya menatap merah sore seorang diri. Membayangkan apa yang dilakukan Adiknya disana, berharap Adiknya akan baik-baik saja.
Sore kian memerah, tapi matanya tetap tak beralih. Tatapannya semakin dalam keatas langit. Berusaha mengejar bintang yang tak akan muncul karena belum waktunya.
“Abaang!!!”
Suara itu bergulir lembut di pendengarannya. Menoleh lah pemuda itu kebelakang. Dilihatnya dipekarangan, seseorang yang tiba-tiba saja tumbuh besar, menggendong tas di punggungnya, membincing sekantong plastik hitam ditangan kirinya, dan ditangan kanannya, ada selembaran kertas yang tak diketahuinya. Itu Adiknya—Jalal, adik yang sudah lama dirindukannya.
Sore itu menjadi lebih indah. Hingga malam yang mulai mengintip terlihat cemburu. Kunang-kunang tiba-tiba saja hadir, melengkapkan keindahan yang dua bersaudara itu rasakan. Kunang-kunang itu menari dibuai angin, dan terang dalam pekat, kemudian dengan sendirinya menyapu rindu yang selama ini bersemayam dalam raga dua bersaudara anak manusia yang sudah lama menyandang yatim piatu itu.
“Abang, aku berhasil jadi juara kelas di sana Bang” Adiknya membuka percakapan.
Sang Abang tak menyaut, Ia hanya tersenyum bangga. Peluh yang selama ini Ia teteskan tak berakhir percuma. Adiknya telah berhasil membalasnya. Ia tersenyum senang dan bahagia, walau tak terungkap dari bibirnya.
“Ini Bang nilai Jalal” ucapnya.
 Berpindah tanganlah beberapa lembar kertas yang tadi dibawanya. Sang Abang yang sejujurnya tak mengerti apa-apa,mencoba menerawang angka-angka yang tertulis di selembar kertas itu. Ia hanya mengangguk berpura-pura paham. Satu-satunya yang Ia pahami adalah Adiknya memiliki kemampuan diatas rata-rata, Adiknya pintar, itu artinya mimpi Adiknya tak boleh putus, Adiknya harus terus sekolah.
“Jalal harus masuk universitas.” Katanya sambil mengelus-ngelus lembut kepala Adiknya.
Indah sekali kata universitas itu, dalam benaknya entah itu kata apa. Entah bagaimana bentuknya, Ia pun belum pernah melihatnya. Lantaran seumur hidupnya, hanya bergulat dengan pekerjaan-pekerjaan berat. Tak berani pula Ia mengantarkan Adiknya sampai ke kota, katanya Ia takut dimakan oleh orang-orang kota.
“Mampu kah Jalal sampai masuk universitas Bang?” tanya sang Adik.
Sang Abang mengangguk. Itu artinya Ia akan berusaha lebih keras lagi. Harus bekerja semakin lupa waktu, harus berusaha lagi menghemat rupiah untuk sebuah kata;Universitas.
Beberapa saat hari-hari mereka menjadi sangat indah. Sebelum sang Adik pamit untuk kembali ke kota, sejak hari itu hari yang penuh dengan kerinduan pun kembali terulang. Sang Adik belajar dengan giat di kota, dan sang Abang, dikampung membanting tulang, bekerja serabutan agar bisa mengirimi Adiknya uang untuk sekolah. Begitu terus, hingga akhirnya tak terasa, sang Adik telah menyelesaikan sekolahnya.
Sang Adik telah tumbuh menjadi remaja yang pintar. Remaja yang menjadi kebanggaan sekolahnya. Beberapa kali mendapat penghargaan dari sekolah. Hingga akhirnya impian untuk bisa masuk universitas menjadi lebih mudah.
Ia lolos tanpa harus mengikuti test, dan sang Abang hanya perlu mengirimi setengah dari uang pendaftaran yang sebenarnya. Sang Adik pun akhirnya masuk universitas. Menjalani kehidupan seperti mahasiswa yang semakin sibuk dengan kegiatan-kegiatan ekstra kampus.
Di kampung Sang Abang semakin tak perduli dengan tubuhnya. Bekerja semau hati. Waktu tidurnya semakin tipis. Namun senyumnya tetap tak berubah. Lebih lagi ketika Ia bercerita ke orang-orang kampung jika adiknya berhasil masuk universitas. Senyumnya masih merekah, dan masih indah.
Begitulah waktu terus berjalan. Dahi pemuda itu semakin mengerut, tubuhnya kian kekar karena beban berat yang harus dikerjakannya setiap hari. Dan akhirnya Adiknya lulus, dan diterima sebagai pegawai negri sipil. Hidup Adiknya pun semakin membaik, kemudian berumah tangga. Punya anak yang lucu-lucu, tinggal dirumah yang nyaman, bisa sering-sering pergi ke kota untuk mengisi waktu libur.
Dan Abangnya, tak banyak yang berubah, Ia tetap harus bekerja keras, memeras keringat, berjemur disiang hari, dan melawan dingin ketika harus keluar saat dini hari.
Hidup Abangnya tetap tak berubah, masih tinggal di rumah satu-satunya warisan kedua orang tuanya. Itu pun sudah uzur usianya. Begitulah yang terjadi pada Abangnya, tetap tak berubah, senyumnya tetap indah. Dan rasa bangga terhadap Adiknya yang telah hidup nyaman, bahagia, selalu diucapkannya dalam hati. Walau terkadang Adiknya lupa memberi kabar, atau lupa menanyakan kabar tentangnya. Abangnya itu tetap perduli, baginya, Adiknya itu tetap adik yang dulu selalu di gendong di pundaknya. Yang selalu diantarkannya ketika hendak kesekolah.

            Begitulah terus, walau sebenarnya Ia sering merindukan Adiknya.

Comments

Posting Terpopuler