ABANG
Seorang
Pemuda tengah beringas dengan sisa-sisa tenaganya. Meraup cangkul, lalu di
hujamkannya ke tanah. Begitu berulang-ulang, hingga langit sore yang memerah
tak mampu lagi menuggunya. Sore kala itu pun menyerah, lalu disulam menjadi
malam, yang perlahan mulai gelap. Pemuda itu masih menari dengan pekerjaanya.
Sang
Adik yang di bawanya bersama, merengek minta pulang, lantaran takut dengan
gelap yang makin meraja. Barulah Ia sadar, jika hari sudah benar-benar
meninggalkannnya. Ia berkemas, di gendongnya sang adik di pundaknya. Lalu melangkahlah
dua bersaudara yang ditinggal Ayah dan Ibunya tiga tahun yang lalu itu,
melangkah dalam gelap yang kian pekat.
Jangan
dikira, sebidang tanah yang baru saja dikerjakan oleh pemuda itu adalah
miliknya. Dia hanya bekerja sebagai buruh kasar, bekerja apa saja, entah
seberat apa, baginya tak ada kadar yang bisa membatasi tenaganya. Bagi pemuda
itu yang terpenting adalah rupiah yang dihasilkan dari peluhnya. Karena dengan
rupiah itu, artinya hidupnya dan hidup adiknya akan bersambung terus, seperti
episode di sinetron-sinetron. Karena dengan rupiah itu, pemuda itu tak perlu
takut jika adiknya harus putus sekolah, sebab dari rupiah-rupiah yang seolah
mengalir seperti peluhnya itu, Ia masih mampu membayar uang sekolah, dan membeli
perlengkapan sekolah untuk adiknya.
Sampai
dirumah, Pemuda itu tak bisa langsung istirahat dari letih. Sebab, dua perut
yang tengah keroncongan harus segera di isi, biar berhenti bunyinya. Diturunkan
adiknya, lalu Ia beranjak ke dapur, memasak apa yang bisa dimasaknya. Walau pun
menu mereka jarang berganti, kedua bersaudara itu tetap lahap.
“Bang,
Jalal besok gak mau sekolah lagi ya?” tanya sang adik yang memecah keheningan
mereka malam itu.
Sang
Abang yang memang indah perangainya. Terkenal seisi kampung dengan sifatnya
yang pendiam, berwajah teduh, lalu menanyai lembut Adiknya;
“Kenapa
Lal? Pelajarannya susah atau apa?”
“Mmmm
Gak Bang, Jalal mau bantu Abang kerja. Mau cari uang sendiri Bang, biar Jalal
gak minta lagi dengan Abang”
Sang
Abang merekah senyumnya mendengar jawaban Adiknya, lalu berkatalah dia sambil
mengelus lembut kepala Adiknya itu;
“Jalal,
badanmu kan kecil, jadi nda bisa
kerja berat-berat, bisa-bisa patah nanti tanganmu. Kalau Jalal berhenti
sekolah, memang Jalal mau jadi macam Abang?, badannya gelap, kurus, bodoh?,
jalal mau?”
Sang
Adik berpikir singkat, lalu digelengkannya kepalanya.
“Abang
sekolahkan Jalal, biar Jalal nda jadi
macam Abang. Cukup Abang jak yang
macam ini.” Ucap pemuda itu, dipeluknya sang adik yang masih lugu kala itu.
Dikecupnya kening adiknya.
“Jalal
harus jadi “orang”” Lanjutnya lagi.
Dua
bersaudara itu pun dibuai malam. Meletakan mimpi mereka diantara bintang yang
melayang di langit. Sayang, buaian malam memang tak selalu penuh mereka
rasakan. Pukul 02.00 dini hari, dua beradik itu sudah terbangun dari mimpi
mereka yang belum sampai pada klimaksnya. Sang Abang sudah harus bersiap-siap
pergi kekebun karet kepunyaan bos besar yang ada di kampung mereka. Sepagi itu,
sang Abang sudah harus memberantas hutan, menebas rasa dingin menusuk tulang,
melawan embun yang menetes pelan dari langit. Sepagi itu sang Abang sudah harus
mencari rupiah.
Sang
Adik selalu tak mau di tinggal sendiri, Ia selalu meminta ikut kemana pun
Abangnya pergi. Wajar saja, sebab mereka sudah tak punya siapa-siapa lagi. Sang
Adik hanya memiliki Abangnya. Dan sang Abang hanya memiliki Adiknya.
Sampai
di kebun karet. Sang Abang akan mencarikan tempat yang nyaman, agar adiknya
dapat melanjutkan mimpinya, baru setelah itu, Ia bisa bekerja dengan tenang.
Nanti di pukul 05.00 pagi, mereka sudah bersiap-siap pulang kerumah, melangkah
dengan tergopoh-gopoh. Sang Adik harus segera kesekolah, harus kembali
melangkah dengan jarak yang tak dekat dari rumah mereka.
Kembali
sang Abang akan menggendong adiknya di pundak. Dengan begitu Sang Adik, akan
lebih semangat untuk kesekolah. Meraih mimpi yang rasanya masih terlalu besar
untuk anak seusianya. Mimpi yang dulu disematkan kedua orang tua mereka sebelum
tiada, juga mimpi sang Abang yang turut tertunas berkat peluh demi peluh yang
telah dikorban Abangnya untuk dirinya. Tak kan lah Dia tak berniat untuk
membalasnya.
v
Begitulah
setiap hari sang Abang mengantarkannya kesekolah. Hingga Ia semakin besar,
berat badannya semakin berisi, hingga sang Abang tak mampu lagi untuk
menggendongnya dipundak. Hingga akhirnya sang adik tuntas pula sekolah
dasarnya, dan tuntas pula sekolah menengah pertamanya, lalu sang Adik memutuskan
untuk pergi, merantau ke kota, belajar di sana.
Semula
sang Abang menolak, Usia sang Adik yang sangat belia adalah salah satu
alasannya. Tak tega jika Ia harus membiarkan adiknya seorang diri di kota.
Siapa yang akan mengurusnya. Siapa pula yang akan mengantarkannya ke sekolah
seperti yang selalu dilakukannya setiap pagi.
Kebersamaan
kawan, sebenarnya itu alasannya. Sebab ketika Sang Adik mengutarakan niatnya
yang hendak sekolah ke kota. Bayang-bayang lama, yang dulu mulai muncul kembali
di pikiran abangnya. Bayang saat dimana dulu sang Abang selalu menggendongnya
di pundak, bayang dimana dulu mereka selalu melangkah tergopoh-gopoh jika hendak kesekolah. Bayang adiknya yang dulu
sempat bertanya ketika kedua orang tua mereka dipopong dengan keranda oleh
penduduk kampung, katanya;
“Bang
mau pergi kemana Bapak dengan Emmak Bang?, nanti mereka pulang lagi nda Bang?”
Sang
Abang waktu itu tak mampu menjawab. Ia hanya mampu memeluk Adiknya, seraya
berucap;
“Ada
Abang Adikku, Abang tak akan membiarkan Jalal sendiri”
Tapi
tak disangkanya, hari ini adiknya akan meninggalkan Ia sendiri. Tak pula di
sangkanya, hari ini dia akan mengantarkan Adiknya itu menuju Kota. Sungguh sang
Abang masih belum bisa mengira, jika akhirnya, jika Ia dan Adiknya itu akan
berpisah.
Lepas
pula lafal salam dari mulut Adiknya. Berbekas pula bekas ciuman tangan Adiknya.
Terlafal pula doa dari dalam hatinya, adalah untuk kebaikan Adiknya selama di
Kota, kelancaran, kemudahan rizki, kesehatan yang selalu melekat pada diri
Adiknya, serta yang terpenting adalah kemudahan Adiknya dalam memahami
ilmu-ilmu yang akan diberikan oleh guru-gurunya disana.
Hari
itu Sang Abang hanya mampu menahan air matanya, lalu dibiarkannya matanya
memerah, baru setelah wajah Adiknya digiring menjauh oleh bis, setelah itu
semua, barulah air matanya tertumpah. Belum sepuluh menit sang Adik berlalu,
rindu yang menderu telah menusuk ulu hatinya. Ia merindu, benar-benar merindu.
Sehari
setelah itu, usaha Abangnya kian keras. Jam kerjanya semakin berlipat, bahkan
hanya beberapa jam yang disisakannya untuk istirahat. Sebagian besar
penghasilannya di simpannya di bawah kasur tempat Ia tidur, dua seminggu sekali
uang itu lalu dikirimkan ke Adiknya ke kota. Begitu terus menerus, hingga tak
terhitung lagi untuk yang kesekian kalinya.
Tetap
tak berubah, Sang Abang usahanya tetap keras, kerjanya juga makin berat,
senyumnya pun tetap tak berubah, lebih lagi ketika Ia memasukan rupiah demi
rupiah yang dikumpulkannya ke dalam amplop-senyumnya tetap merekah, lalu
berbekal sekolah yang hanya lulus SD, di tuliskannya di badan Amplop itu
“teruntuk Adikku yang Abang sayang”, lalu ditulis kalimat pendek dibawahnya ;
“Mudah-mudahan
uang ini cukup”
Dihantarkannya
lah amplop itu ke kantor Pos yang letaknya di ujung kampung. Tersendak-sendak
nafasnya ketika menahan letih mengayuh sepeda, begitu terus sepanjang bulan,
berulang-ulang dilakukannya. Penjaga pos pun sampai mengenali wajahnya, dan tak
perlu lagi untuk bertanya lantaran sang petugas sudah hafal betul kemana tujuan
amplop coklat itu akan dikirim.
Hampir
setahun sang Abang ditinggal pergi, entah apa kabar Adiknya di Kota-Ia tak tahu
betul. Sebab sang Adik jarang sekali mengiriminya surat. Sore itu, untuk sore
yang kesekian kalinya, sang Abang hanya menatap merah sore seorang diri.
Membayangkan apa yang dilakukan Adiknya disana, berharap Adiknya akan baik-baik
saja.
Sore
kian memerah, tapi matanya tetap tak beralih. Tatapannya semakin dalam keatas
langit. Berusaha mengejar bintang yang tak akan muncul karena belum waktunya.
“Abaang!!!”
Suara
itu bergulir lembut di pendengarannya. Menoleh lah pemuda itu kebelakang.
Dilihatnya dipekarangan, seseorang yang tiba-tiba saja tumbuh besar,
menggendong tas di punggungnya, membincing sekantong plastik hitam ditangan
kirinya, dan ditangan kanannya, ada selembaran kertas yang tak diketahuinya.
Itu Adiknya—Jalal, adik yang sudah lama dirindukannya.
Sore
itu menjadi lebih indah. Hingga malam yang mulai mengintip terlihat cemburu.
Kunang-kunang tiba-tiba saja hadir, melengkapkan keindahan yang dua bersaudara
itu rasakan. Kunang-kunang itu menari dibuai angin, dan terang dalam pekat,
kemudian dengan sendirinya menyapu rindu yang selama ini bersemayam dalam raga
dua bersaudara anak manusia yang sudah lama menyandang yatim piatu itu.
“Abang, aku berhasil jadi juara kelas di
sana Bang” Adiknya membuka percakapan.
Sang
Abang tak menyaut, Ia hanya tersenyum bangga. Peluh yang selama ini Ia teteskan
tak berakhir percuma. Adiknya telah berhasil membalasnya. Ia tersenyum senang
dan bahagia, walau tak terungkap dari bibirnya.
“Ini Bang nilai Jalal” ucapnya.
Berpindah tanganlah beberapa lembar kertas
yang tadi dibawanya. Sang Abang yang sejujurnya tak mengerti apa-apa,mencoba
menerawang angka-angka yang tertulis di selembar kertas itu. Ia hanya
mengangguk berpura-pura paham. Satu-satunya yang Ia pahami adalah Adiknya
memiliki kemampuan diatas rata-rata, Adiknya pintar, itu artinya mimpi Adiknya
tak boleh putus, Adiknya harus terus sekolah.
“Jalal harus masuk universitas.” Katanya
sambil mengelus-ngelus lembut kepala Adiknya.
Indah
sekali kata universitas itu, dalam benaknya entah itu kata apa. Entah bagaimana
bentuknya, Ia pun belum pernah melihatnya. Lantaran seumur hidupnya, hanya
bergulat dengan pekerjaan-pekerjaan berat. Tak berani pula Ia mengantarkan
Adiknya sampai ke kota, katanya Ia takut dimakan oleh orang-orang kota.
“Mampu kah Jalal sampai masuk
universitas Bang?” tanya sang Adik.
Sang
Abang mengangguk. Itu artinya Ia akan berusaha lebih keras lagi. Harus bekerja
semakin lupa waktu, harus berusaha lagi menghemat rupiah untuk sebuah
kata;Universitas.
Beberapa
saat hari-hari mereka menjadi sangat indah. Sebelum sang Adik pamit untuk
kembali ke kota, sejak hari itu hari yang penuh dengan kerinduan pun kembali
terulang. Sang Adik belajar dengan giat di kota, dan sang Abang, dikampung
membanting tulang, bekerja serabutan agar bisa mengirimi Adiknya uang untuk
sekolah. Begitu terus, hingga akhirnya tak terasa, sang Adik telah
menyelesaikan sekolahnya.
Sang
Adik telah tumbuh menjadi remaja yang pintar. Remaja yang menjadi kebanggaan
sekolahnya. Beberapa kali mendapat penghargaan dari sekolah. Hingga akhirnya
impian untuk bisa masuk universitas menjadi lebih mudah.
Ia
lolos tanpa harus mengikuti test, dan sang Abang hanya perlu mengirimi setengah
dari uang pendaftaran yang sebenarnya. Sang Adik pun akhirnya masuk
universitas. Menjalani kehidupan seperti mahasiswa yang semakin sibuk dengan kegiatan-kegiatan
ekstra kampus.
Di
kampung Sang Abang semakin tak perduli dengan tubuhnya. Bekerja semau hati.
Waktu tidurnya semakin tipis. Namun senyumnya tetap tak berubah. Lebih lagi
ketika Ia bercerita ke orang-orang kampung jika adiknya berhasil masuk
universitas. Senyumnya masih merekah, dan masih indah.
Begitulah
waktu terus berjalan. Dahi pemuda itu semakin mengerut, tubuhnya kian kekar
karena beban berat yang harus dikerjakannya setiap hari. Dan akhirnya Adiknya
lulus, dan diterima sebagai pegawai negri sipil. Hidup Adiknya pun semakin membaik,
kemudian berumah tangga. Punya anak yang lucu-lucu, tinggal dirumah yang
nyaman, bisa sering-sering pergi ke kota untuk mengisi waktu libur.
Dan
Abangnya, tak banyak yang berubah, Ia tetap harus bekerja keras, memeras
keringat, berjemur disiang hari, dan melawan dingin ketika harus keluar saat
dini hari.
Hidup
Abangnya tetap tak berubah, masih tinggal di rumah satu-satunya warisan kedua
orang tuanya. Itu pun sudah uzur usianya. Begitulah yang terjadi pada Abangnya,
tetap tak berubah, senyumnya tetap indah. Dan rasa bangga terhadap Adiknya yang
telah hidup nyaman, bahagia, selalu diucapkannya dalam hati. Walau terkadang
Adiknya lupa memberi kabar, atau lupa menanyakan kabar tentangnya. Abangnya itu
tetap perduli, baginya, Adiknya itu tetap adik yang dulu selalu di gendong di
pundaknya. Yang selalu diantarkannya ketika hendak kesekolah.
Begitulah terus, walau sebenarnya Ia
sering merindukan Adiknya.


Comments
Post a Comment