Pelangi di Balik Mendung
“Biar miskin kau harus
tetap sekolah”
Kata-kata
itu bukanlah keluar dari mulut para motivator tersohor level nasional atau pun
internasional yang sering menghiasi layar kaca atau majalah yang kita baca.
Kata-kata itu keluar dari mulut seorang laki-laki paruh baya,yang mengenyam
pendidikan tak lebih dari sekolah dasar, dari seorang laki-laki yang telah
menghambakan kekuatan tubuhnya pada bos keturunan cina selama lebih dari tiga
puluh tahun, dari seorang laki-laki yang dengan bangga kupanggil Ia dengan
Ayah.
Aku
mengerti, bahwa tak ada yang mampu di janjikan oleh ayahku jika harus
berhubungan dengan materi. Namun kata-katanya lima tahun yang lalu itu, telah
menjadi titik balik bagiku. Ketika aku hampir menyerah melawan waktu, kata-kata
itu terputar jelas dalam kepalaku, belaian lembut dipundakku waktu itu pun
seketika dapat kurasakan. Dan sepersekian detik setelah mengingat momen itu,
rasa takut pada roda waktu pun lenyap, tertelan senyum yang mengembang dengan
semangat berapi-api.
Lima
tahun yang lalu, adalah awal dari semua mimpiku, dan menjadi batu pertama sebagai
pondasi, yang sekarang membawaku pada kondisi seperti ini. Sering aku
mengingatnya, dan tak ada yang mengira bahwa cerita sedih dulu itu, sekarang
telah menjadi cerita yang indah untuk diceritakan kembali.
Karena
itu lah, aku kuceritakan disini, terlalu indah kawan, terlalu indah jika harus
kunikmati sendiri.
v
Aku
kelas tiga Madrasyah Aliyah Negeri waktu itu. Lulus dengan nilai rata-rata yang
cukup tinggi. Walaupun bukan yang tertinggi disekolahku, tapi nilaiku waktu itu
berhasil masuk di jajaran sepuluh besar. Selama tiga tahun di Madrasyah Aliyah
aku selalu berhasil meraih juara satu dikelas,dan juara satu di tingkat
sekolah, dan selama tiga tahun itu pula aku berhasil meraih prestasi
mengharumkan nama sekolah ditingkat Kota sampai di tingkat provinsi. Semuanya
kuraih dengan amat terpaksa. Kenapa? Karena hanya dengan melakukan itu semua
aku bisa mendapatkan beasiswa, bisa sekolah dengan gratis tanpa biaya
sedikitpun hanya itu tujuanku.
Namun,
seketika setelah lulus sekolah aku merasa semua yang kuraih itu percuma. Ketika
jalanku menuju universitas kurasa mulai buntu. Tak ada biaya kawan,itu lah
alasan klasik untuk pelajar miskin sepertiku. Beasiswa penuh yang kuikuti belum
juga ada kabar beritanya, sementara deadline penerimaan mahasiswa baru
semakin di ujung waktu.
Sementara
itu teman-temanku sewaktu Madrasyah Aliyah tengah sibuk memilih univeristas
yang hendak mereka masuki. Aku memilih menyerah.
Kuputuskan
untuk kembali kekampung halaman dengan semangat yang semakin merunduk, dan tatapan
yang tak lagi gagah pada masa depan. Jangankan memimpikan duduk di kelas
sebagai mahasiswa, untuk mendaftar masuk perguruan tinggi saja aku tak punya
uang. Saat itu pula lah, aku merasa berada dititik terendah nadir kehidupan.
Suatu
sore, kuhabiskan waktuku bersama ayahku di beranda belakang rumah. Perlu kalian
tahu, ayahku adalah ayah pendiam diseluruh didunia, Ia bukanlah sosok yang
banyak bicara. Namun waktu itu, entah mengapa aku dan dia menjadi sangat
terbuka. Aku bercerita banyak hal dengannya, termasuklah tentang impianku yang
ingin bersekolah hingga level
tertinggi.
“Kejarlah
yang kau cita-citakan Nak, walaupun kita miskin, bukan berarti kau tak boleh
sekolah. Kau harus tetap sekolah”
Aku
terdiam mendengar kata-kata itu. Ia yang semula mengusap-ngusap bahuku, lalu
seketika memelukku erat. Aku sangat menikmati waktu itu,walaupun tak sampai
dalam hitungan menit. Bagiku, itu adalah waktu terbaik yang pernah kulewati
bersamanya. Terbaik, karena sampai saat ini aku tak bisa melupakannya.
Kejadian
itu pula yang telah kembali menghidupkan mimpiku, mimpi yang sebelumnya telah
tertimbun nisan. Perlahan mimpiku kembali muncul ke permukaan, dan semakin
membuat segalanya menjadi mungkin.
Benar
saja, beberapa hari setelah itu aku pun mendapatkan kabar baik dari seorang
saudaraku dari kota, katanya Ia baru saja membaca surat kabar, dan ada namaku
disurat kabar itu. Kabar tentang namaku yang tertulis di kolom penerima
beasiswa penuh bidikmisi, ya kabar itu lah yang kuterima.
Tak
mampu kuceritakan disini bagaimana perasaanku waktu itu. Yang jelas, rasanya
indah sekali. Begitu memesona, dan yang kutahu waktu itu selangkah demi selangkah
impianku mulai mengudara.
Senyum
manis dan spesial dari ayah dan ibuku waktu itu adalah hadiah kedua yang
kuterima, ketika kuberi tahu mereka, bahwa aku lolos beasiswa untuk melanjutkan
pendidikanku di universitas. Mereka,
sepasang kekasih yang tidak familiar dengan kata universitas itu lalu serempak
memelukku.
Air
mataku berderai dalam pelukan hangat mereka waktu itu.
Aku
pun akhirnya melanjutkan pendidikanku sebagai mahasiswa Fakultas Ekonomi
Universitas Tanjungpura Pontianak, dan siapalah yang akan mengira, bahwa anak
kampung, dari keluarga miskin sepertiku, yang terperangkap di pelosok desa yang
jauh dari kata layak, akhirnya bisa melanjutkan pendidikan. Strata satu kawan,
mewah sekali kedengarannya.
Waktu
berputar cepat, dunia perkuliahan dengan segala dinamikanya itu pun selesai.
Tiga tahun sembilan bulan, dalam waktu sejauh itu, strata satu akhirnya tuntas
kulibas. Banyak hal yang kulami dalam waktu tiga tahun sembilan bulan itu, hal
baru yang tak pernah kubayangkan akan kualami, lucu memang jika harus ku ingat.
Mulai dari kebingungan di semester awal perkuliahan karena masih mencari jatidiri.
Bahkan Sempat jatuh di semester tiga.
Akan
kuceritakan sedikit, bahwa aku ini adalah seorang tipe mahasiswa yang perfect jika masalah nilai. Disemester tiga
nilai kujatuh, satu mata kuliah mendapat “C” waktu itu aku merasa dunia sangat
tidak adilnya. Namun, akhirnya aku mengerti bahwa bukan tentang nilai A, B,
atau C sekalipun yang paling penting. Terpenting dari semua itu adalah seberapa
paham aku terhadap matakuliah tersebut. Semester lima kuputuskan untuk
mengulang, dan alhamdulillah berhasil.
Selama
menempuh perkuliahan itu pula akhirnya aku bisa menjejaki pulau jawa mewakili
kampus dan mewakili nama daerah untuk mengikuti perlombaan di tingkat nasional
yang akhirnya membuat anak kampung sepertiku bisa naik pesawat terbang. Lucu
memang, tapi memang itu lah mimpi kebanyakan anak kampung sepertiku. Impian
sederhana namun mewah untuk kami. Bagi kami anak kampung yang hanya bisa
bersorak gembira ketika melihat pesawat terbang membelah awan, dan yang selalu
menggigit jari setelah menunjuk pesawat terbang lantaran takut dengan petuah
orang tua, bagi kami naik pesawat adalah sebuah kebanggaan.
Seperti
dalam sebuah film, selalu ada saja masalah yang tak terduga yang harus di
alamai sang tokoh utama. Aku adalah aktor utama untuk kehidupanku, dan masalah
itu muncul. Disemester lima waktu itu, kondisi kesehatan ayahku memburuk,
tiba-tiba saja Ia terkena serangan darah tinggi yang membuatnya terbaring lemah
selama beberapa hari, beberapa hari sebelum lebaran idul adha, aku masih
mengingat jelas kejadian itu, hingga akhirnya serangan darah tingginya waktu
itu membuat ayahku mengalami gangguan pada syaraf otaknya, dan membuatnya
menjadi sosok yang sangat ketergantungan dengan obat. Hingga sekarang, jika
ayahku dengan sengaja tak meminum obatanya maka penyakitnya akan segera kambuh.
Kejadian
itulah yang akhirnya semakin membulatkan tekatku, bahwa tak ada selain
kebahagian yang akan kupersembahkan untuknya, dan untuk Ibuku. Dan puncaknya, dihari
wisuda, senyum kedua orang tuaku mengembang manis. Senyum terindah mereka yang menjadi
hadiah dihari bahagiaku. Sengaja kutunggu momen dimana namaku disebutkan
sebagai mahasiswa yang lulus berpredikat dengan pujian, dengan IPK 3,89. Kulihat kearah dan Ayah dan
Ibuku, mereka membalas pandanganku dengan senyum bangga. Sebuah usaha keras
yang terasa lunas ketika kupandang senyum mereka.
Besoknya,
tepat sehari setelah wisuda. Aku langsung diterima bekerja di salah satu Kantor
Akuntan Publik yang cukup besar di provinsiku. Setahun kuhabiskan waktu di
kantor itu, belajar tentang banyak hal yang tak kudapatkan di kursi pekuliahan,
dan selama disitulah aku bisa merasakan manfaat dari ilmu yang dulu
kuperjuangkan. Setahun,ya cukup setahun waktuku disitu. Hingga akhirnya hasrat
untuk melanjutkan pendidikan itu muncul lagi.
Aku
pun meminta restu kedua orang tuaku, hingga akhirnya kuputuskan untuk
mengundurkan diri, dan fokus mendaftar pada beasiswa LPDP. Doa orang tua adalah
satu-satunya bekalku waktu itu. Doa itulah yang akhirnya mempermudah langkahku.
Hingga akhrinya aku dinyatakan lolos seleksi administrasi dan di undang untuk
seleksi wawancara di jakarta.
Seleksi
wawancara bukanlah hal mudah yang harus kulalui. Selain akan menghadapi
pewancara kelas nasional. Lagi-lagi alasannya karena keterbatasan dana.
Tabunganku selama bekerja jumlahnya tak seberapa sangat riskan malah jika
kuputuskan untuk tetap berangkat ke jakarta. Namun keyakinan dan doa dari ayah
dan ibuku adalah penguatku, yang akhirnya berhasil membuatku tiba di jakarta.
Februari
2015, aku masih ingat waktu itu. Dua hari yang kulalui dengan penuh ketegangan.
Hari kedua seleksi adalah yang terberat, aku harus menghadapi pewancara yang
berhasil memainkan perasaanku, membuatku duduk lama dihadapan mereka, lebih
dari satu jam semua tentangku di kupas mereka. Mulai dari pertanyaan santai
hingga mereka tertarik membahas penelitianku di masa sarjana dulu. Pembahasan
panjang yang pada ujungnya membuatku tak begitu
nafsu makan lantaran khawatir dengan nasibku. Aku tak mampu membaca
hasilnya, bahkan untuk menerka aku berhasil atau gagal saja aku tak mampu.
Perjuanganku
tak berhenti disini, besoknya aku berencana untuk langsung pulang ke Pontianak,
dan disinilah kesabaranku mulai di uji.
Uangku
tak cukup untuk membeli tiket pesawat, tiba-tiba semua harga tiket melambung
tinggi. Menghubungi keluarga di kampung rasanya tak mungkin, meminta bantuan ke
orang lain aku tak terbiasa. Terdampar ditanggerang selama tiga hari, akhirnya kenyataan
itu lah yang harus kuterima.
Disebuah
penginapan yang sangat sederhana aku berusaha bertahan. Hingga akhirnya,
pertolongan itu datang. Disebuah warung makan aku bertemu dengan seorang turis
dari negeri tetangga malaysia. Kebetulan Ia ingin makan, dan dia hanya bisa
berbahasa inggris, sang empunya warung makan tak mengerti. Aku yang cukup
mengerti dengan apa yang di maksud oleh si turis, berusaha menengahi.
Sang
turis lalu duduk makan di sampingku. Bercerita tentang beberapa hal. Ia
bercerita bahwa Ia adalah seorang dosen di salah satu universitas di malaysia.
Ketika bercerita, ia lalu teringat bahwa Ia harus mengirimkan sebuah dokumen
penting, deadlinenya besok pagi
katanya.
“Aku
harus menelpon rekanku disana” katanya.
“Bapak
bisa menggunakan nomor indonesia kataku”
“Bisa
kau membantuku?” tanyanya.
Aku
tak punya pilihan lain selain membantunya. Ku pinjamkan handphone ku untuk
menelpon rekannya di malaysia, hingga akhirnya Ia berhasil mengirim dokumen
penting yang Ia maksud. Ia menarik nafas lega.
Aku
pun pamit untuk kembali ke tempatku menginap. Sesaat ia menghentikan langkahku,
lalu diserahkannya beberapa lembar uang padaku. Aku berusaha menolak, namun Ia
tetap memaksa. Kuambil uang darinya dengan perasaan yang luar biasa senangnya,
karena uang darinya itulah yang akhirnya bisa membuatku kembali ke Pontiank.
Besoknya, aku pun kembali ke Pontianak.
v
Aku
menunggu cukup lama untuk pengumuman kelulusan beasiswa LPDP. Menghabiskan
waktu di Pontianak dengan terlantung-lantung menyambung hidup. Di bulan Maret akhirnya
hari bahagia tiba. Berawal dari pesan singkat, dan setelah kupastikan melalui
pengumuman resmi, di situlah aku berteriak gembira, menangis tak menyangka,
lalu kususul dengan sujud syukur yang panjang. Aku tak menyangka lantaran
namaku tertulis sebagai salah satu penerima beasiswa LPDP. Separuh tak percaya,
bahwa impianku semakin dekat dengan kenyataan. Aku tak menyangka.
Kutelepon
kedua orang tuaku di kampung, Ibu menyambut kabar itu dengan tangis bahagia, Ia
tersedu-sedu, sementara ayahku, Ia memberiku ucapan selamat dengan nada tenang.
Seperti biasanya, Ia adalah sosok yang pendiam dan tenang.
Aku
pun menjadi orang pertama di garis keturunan keluargaku yang berhasil menempuh
pendidikan setingkat lebih tinggi. Level pendidikan
yang sebelumnya hanya berada pada angan dan mimpi yang tertulis di secarik
kertas yang kutempel di dinding kamarku. Tuhan telah menjawab impian itu dengan
beasiswa LPDP, dan menjadi bagian dari penerima beasiswa LPDP adalah sebuah
kebahagian dan sesuatu yang tak bisa ku lukiskan melalui kata-kata karena LPDP
akhirnya telah menjemput impian anak kampung nan miskin sepertiku. Anak kampung
yang hanya berani bermimpi, lantaran terperangkap dengan keadaan yang serba
sulit.
Setelah
melewati semua proses sebagai penerima beasiswa LPDP termasuk melewati proses
persiapan keberangkatan yang kemudian telah menjadi memori indah yang akan kucertiakan
pada anak cucuku nanti. Akan kuceritakan dengan bangga bahwa di program
persiapan keberangkatan itu aku telah bertemu dengan ratusan orang-orang hebat,
yang membuatku semakin optimis dengan nasib Indonesia di masa depan. Lantaran
Indonesia, memiliki generasi emas yang siap menjadi pemimpin baru, pemimpin
yang akan mengantarkan Indonesia pada era Indonesia gemilang. Aku yakin itu. Sangat
yakin.
Sepuluh
tahun lagi, kurasa adalah tempo yang tepat untuk melihat hasil jerih payah kami
sebagai anak negeri. Semoga Ibu pertiwi berhasil kami angkat derajatnya
melangkah lebih tinggi. Terimalah, janji
dan bakti kami.
v
Satu
hal yang kuyakini dari semua kejadian dalam hidupku, tentang semua kemudahan,
serta keberhasilanku, kuyakini bahwa semuanya karena doa kedua orang tuaku yang
luar biasa. Doa mereka yang tanpa pembatas langit. Maka, tak ada yang paling
kusyukuri di dunia ini, selain karena terlahir dari rahim Ibuku, dan memiliki
ayah selembut dan setenang ayahku. Mereka, sepasang kekasih yang berijazah
Sekolah Dasar itu telah berhasil membuatku seperti ini. Menjadikanku sebagai
sosok yang percaya dengan mimpi-mimpiku.
Dan
bandung telah menjadi destinasi dari mimpiku, disinilah aku yakin mimpi itu
akan terwujud, di kota ini pula, mimpi baru akan kurajut.
-Kepada masa depan, tetaplah indah,
dan tetaplah seperti prasangkaku-
-anak
selatan-


Comments
Post a Comment