JASA AUDIT LAPORAN KEUANGAN HISTORIS | JASA AUDIT REVIU | JASA ASSURANCE LAINNYA | KONTAK BISNIS : 0856 5416 9903 / 0811 575 787

Pelangi di Balik Mendung




“Biar miskin kau harus tetap sekolah”

Kata-kata itu bukanlah keluar dari mulut para motivator tersohor level nasional atau pun internasional yang sering menghiasi layar kaca atau majalah yang kita baca. Kata-kata itu keluar dari mulut seorang laki-laki paruh baya,yang mengenyam pendidikan tak lebih dari sekolah dasar, dari seorang laki-laki yang telah menghambakan kekuatan tubuhnya pada bos keturunan cina selama lebih dari tiga puluh tahun, dari seorang laki-laki yang dengan bangga kupanggil Ia dengan Ayah.
Aku mengerti, bahwa tak ada yang mampu di janjikan oleh ayahku jika harus berhubungan dengan materi. Namun kata-katanya lima tahun yang lalu itu, telah menjadi titik balik bagiku. Ketika aku hampir menyerah melawan waktu, kata-kata itu terputar jelas dalam kepalaku, belaian lembut dipundakku waktu itu pun seketika dapat kurasakan. Dan  sepersekian detik setelah mengingat momen itu, rasa takut pada roda waktu pun lenyap, tertelan senyum yang mengembang dengan semangat berapi-api.
Lima tahun yang lalu, adalah awal dari semua mimpiku, dan menjadi batu pertama sebagai pondasi, yang sekarang membawaku pada kondisi seperti ini. Sering aku mengingatnya, dan tak ada yang mengira bahwa cerita sedih dulu itu, sekarang telah menjadi cerita yang indah untuk diceritakan kembali.
Karena itu lah, aku kuceritakan disini, terlalu indah kawan, terlalu indah jika harus kunikmati sendiri.
v   

Aku kelas tiga Madrasyah Aliyah Negeri waktu itu. Lulus dengan nilai rata-rata yang cukup tinggi. Walaupun bukan yang tertinggi disekolahku, tapi nilaiku waktu itu berhasil masuk di jajaran sepuluh besar. Selama tiga tahun di Madrasyah Aliyah aku selalu berhasil meraih juara satu dikelas,dan juara satu di tingkat sekolah, dan selama tiga tahun itu pula aku berhasil meraih prestasi mengharumkan nama sekolah ditingkat Kota sampai di tingkat provinsi. Semuanya kuraih dengan amat terpaksa. Kenapa? Karena hanya dengan melakukan itu semua aku bisa mendapatkan beasiswa, bisa sekolah dengan gratis tanpa biaya sedikitpun hanya itu tujuanku.
Namun, seketika setelah lulus sekolah aku merasa semua yang kuraih itu percuma. Ketika jalanku menuju universitas kurasa mulai buntu. Tak ada biaya kawan,itu lah alasan klasik untuk pelajar miskin sepertiku. Beasiswa penuh yang kuikuti belum juga ada kabar beritanya, sementara  deadline penerimaan mahasiswa baru semakin di ujung waktu.
Sementara itu teman-temanku sewaktu Madrasyah Aliyah tengah sibuk memilih univeristas yang hendak mereka masuki. Aku memilih menyerah.
Kuputuskan untuk kembali kekampung halaman dengan semangat yang semakin merunduk, dan tatapan yang tak lagi gagah pada masa depan. Jangankan memimpikan duduk di kelas sebagai mahasiswa, untuk mendaftar masuk perguruan tinggi saja aku tak punya uang. Saat itu pula lah, aku merasa berada dititik terendah nadir kehidupan.
Suatu sore, kuhabiskan waktuku bersama ayahku di beranda belakang rumah. Perlu kalian tahu, ayahku adalah ayah pendiam diseluruh didunia, Ia bukanlah sosok yang banyak bicara. Namun waktu itu, entah mengapa aku dan dia menjadi sangat terbuka. Aku bercerita banyak hal dengannya, termasuklah tentang impianku yang ingin bersekolah hingga level tertinggi.
“Kejarlah yang kau cita-citakan Nak, walaupun kita miskin, bukan berarti kau tak boleh sekolah. Kau harus tetap sekolah”
Aku terdiam mendengar kata-kata itu. Ia yang semula mengusap-ngusap bahuku, lalu seketika memelukku erat. Aku sangat menikmati waktu itu,walaupun tak sampai dalam hitungan menit. Bagiku, itu adalah waktu terbaik yang pernah kulewati bersamanya. Terbaik, karena sampai saat ini aku tak bisa melupakannya.
Kejadian itu pula yang telah kembali menghidupkan mimpiku, mimpi yang sebelumnya telah tertimbun nisan. Perlahan mimpiku kembali muncul ke permukaan, dan semakin membuat segalanya menjadi mungkin.
Benar saja, beberapa hari setelah itu aku pun mendapatkan kabar baik dari seorang saudaraku dari kota, katanya Ia baru saja membaca surat kabar, dan ada namaku disurat kabar itu. Kabar tentang namaku yang tertulis di kolom penerima beasiswa penuh bidikmisi, ya kabar itu lah yang kuterima.
Tak mampu kuceritakan disini bagaimana perasaanku waktu itu. Yang jelas, rasanya indah sekali. Begitu memesona, dan yang kutahu waktu itu selangkah demi selangkah impianku mulai mengudara.
Senyum manis dan spesial dari ayah dan ibuku waktu itu adalah hadiah kedua yang kuterima, ketika kuberi tahu mereka, bahwa aku lolos beasiswa untuk melanjutkan pendidikanku di universitas.  Mereka, sepasang kekasih yang tidak familiar dengan kata universitas itu lalu serempak memelukku.
Air mataku berderai dalam pelukan hangat mereka waktu itu.
Aku pun akhirnya melanjutkan pendidikanku sebagai mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Tanjungpura Pontianak, dan siapalah yang akan mengira, bahwa anak kampung, dari keluarga miskin sepertiku, yang terperangkap di pelosok desa yang jauh dari kata layak, akhirnya bisa melanjutkan pendidikan. Strata satu kawan, mewah sekali kedengarannya.
Waktu berputar cepat, dunia perkuliahan dengan segala dinamikanya itu pun selesai. Tiga tahun sembilan bulan, dalam waktu sejauh itu, strata satu akhirnya tuntas kulibas. Banyak hal yang kulami dalam waktu tiga tahun sembilan bulan itu, hal baru yang tak pernah kubayangkan akan kualami, lucu memang jika harus ku ingat. Mulai dari kebingungan di semester awal perkuliahan karena masih mencari jatidiri. Bahkan Sempat jatuh di semester tiga.
Akan kuceritakan sedikit, bahwa aku ini adalah seorang tipe mahasiswa yang perfect jika masalah nilai. Disemester tiga nilai kujatuh, satu mata kuliah mendapat “C” waktu itu aku merasa dunia sangat tidak adilnya. Namun, akhirnya aku mengerti bahwa bukan tentang nilai A, B, atau C sekalipun yang paling penting. Terpenting dari semua itu adalah seberapa paham aku terhadap matakuliah tersebut. Semester lima kuputuskan untuk mengulang, dan alhamdulillah berhasil.
Selama menempuh perkuliahan itu pula akhirnya aku bisa menjejaki pulau jawa mewakili kampus dan mewakili nama daerah untuk mengikuti perlombaan di tingkat nasional yang akhirnya membuat anak kampung sepertiku bisa naik pesawat terbang. Lucu memang, tapi memang itu lah mimpi kebanyakan anak kampung sepertiku. Impian sederhana namun mewah untuk kami. Bagi kami anak kampung yang hanya bisa bersorak gembira ketika melihat pesawat terbang membelah awan, dan yang selalu menggigit jari setelah menunjuk pesawat terbang lantaran takut dengan petuah orang tua, bagi kami naik pesawat adalah sebuah kebanggaan.
Seperti dalam sebuah film, selalu ada saja masalah yang tak terduga yang harus di alamai sang tokoh utama. Aku adalah aktor utama untuk kehidupanku, dan masalah itu muncul. Disemester lima waktu itu, kondisi kesehatan ayahku memburuk, tiba-tiba saja Ia terkena serangan darah tinggi yang membuatnya terbaring lemah selama beberapa hari, beberapa hari sebelum lebaran idul adha, aku masih mengingat jelas kejadian itu, hingga akhirnya serangan darah tingginya waktu itu membuat ayahku mengalami gangguan pada syaraf otaknya, dan membuatnya menjadi sosok yang sangat ketergantungan dengan obat. Hingga sekarang, jika ayahku dengan sengaja tak meminum obatanya maka penyakitnya akan segera kambuh.
Kejadian itulah yang akhirnya semakin membulatkan tekatku, bahwa tak ada selain kebahagian yang akan kupersembahkan untuknya, dan untuk Ibuku. Dan puncaknya, dihari wisuda, senyum kedua orang tuaku mengembang manis. Senyum terindah mereka yang menjadi hadiah dihari bahagiaku. Sengaja kutunggu momen dimana namaku disebutkan sebagai mahasiswa yang lulus berpredikat dengan pujian,  dengan IPK 3,89. Kulihat kearah dan Ayah dan Ibuku, mereka membalas pandanganku dengan senyum bangga. Sebuah usaha keras yang terasa lunas ketika kupandang senyum mereka.
Besoknya, tepat sehari setelah wisuda. Aku langsung diterima bekerja di salah satu Kantor Akuntan Publik yang cukup besar di provinsiku. Setahun kuhabiskan waktu di kantor itu, belajar tentang banyak hal yang tak kudapatkan di kursi pekuliahan, dan selama disitulah aku bisa merasakan manfaat dari ilmu yang dulu kuperjuangkan. Setahun,ya cukup setahun waktuku disitu. Hingga akhirnya hasrat untuk melanjutkan pendidikan itu muncul lagi.
Aku pun meminta restu kedua orang tuaku, hingga akhirnya kuputuskan untuk mengundurkan diri, dan fokus mendaftar pada beasiswa LPDP. Doa orang tua adalah satu-satunya bekalku waktu itu. Doa itulah yang akhirnya mempermudah langkahku. Hingga akhrinya aku dinyatakan lolos seleksi administrasi dan di undang untuk seleksi wawancara di jakarta.  
Seleksi wawancara bukanlah hal mudah yang harus kulalui. Selain akan menghadapi pewancara kelas nasional. Lagi-lagi alasannya karena keterbatasan dana. Tabunganku selama bekerja jumlahnya tak seberapa sangat riskan malah jika kuputuskan untuk tetap berangkat ke jakarta. Namun keyakinan dan doa dari ayah dan ibuku adalah penguatku, yang akhirnya berhasil membuatku tiba di jakarta.
Februari 2015, aku masih ingat waktu itu. Dua hari yang kulalui dengan penuh ketegangan. Hari kedua seleksi adalah yang terberat, aku harus menghadapi pewancara yang berhasil memainkan perasaanku, membuatku duduk lama dihadapan mereka, lebih dari satu jam semua tentangku di kupas mereka. Mulai dari pertanyaan santai hingga mereka tertarik membahas penelitianku di masa sarjana dulu. Pembahasan panjang yang pada ujungnya membuatku tak begitu  nafsu makan lantaran khawatir dengan nasibku. Aku tak mampu membaca hasilnya, bahkan untuk menerka aku berhasil atau gagal saja aku tak mampu.
Perjuanganku tak berhenti disini, besoknya aku berencana untuk langsung pulang ke Pontianak, dan disinilah kesabaranku mulai di uji.
Uangku tak cukup untuk membeli tiket pesawat, tiba-tiba semua harga tiket melambung tinggi. Menghubungi keluarga di kampung rasanya tak mungkin, meminta bantuan ke orang lain aku tak terbiasa. Terdampar ditanggerang selama tiga hari, akhirnya kenyataan itu lah yang harus kuterima.
Disebuah penginapan yang sangat sederhana aku berusaha bertahan. Hingga akhirnya, pertolongan itu datang. Disebuah warung makan aku bertemu dengan seorang turis dari negeri tetangga malaysia. Kebetulan Ia ingin makan, dan dia hanya bisa berbahasa inggris, sang empunya warung makan tak mengerti. Aku yang cukup mengerti dengan apa yang di maksud oleh si turis, berusaha menengahi.
Sang turis lalu duduk makan di sampingku. Bercerita tentang beberapa hal. Ia bercerita bahwa Ia adalah seorang dosen di salah satu universitas di malaysia. Ketika bercerita, ia lalu teringat bahwa Ia harus mengirimkan sebuah dokumen penting, deadlinenya besok pagi katanya.
“Aku harus menelpon rekanku disana” katanya.
“Bapak bisa menggunakan nomor indonesia kataku”
“Bisa kau membantuku?” tanyanya.
Aku tak punya pilihan lain selain membantunya. Ku pinjamkan handphone ku untuk menelpon rekannya di malaysia, hingga akhirnya Ia berhasil mengirim dokumen penting yang Ia maksud. Ia menarik nafas lega.
Aku pun pamit untuk kembali ke tempatku menginap. Sesaat ia menghentikan langkahku, lalu diserahkannya beberapa lembar uang padaku. Aku berusaha menolak, namun Ia tetap memaksa. Kuambil uang darinya dengan perasaan yang luar biasa senangnya, karena uang darinya itulah yang akhirnya bisa membuatku kembali ke Pontiank. Besoknya, aku pun kembali ke Pontianak.
v   

Aku menunggu cukup lama untuk pengumuman kelulusan beasiswa LPDP. Menghabiskan waktu di Pontianak dengan terlantung-lantung menyambung hidup. Di bulan Maret akhirnya hari bahagia tiba. Berawal dari pesan singkat, dan setelah kupastikan melalui pengumuman resmi, di situlah aku berteriak gembira, menangis tak menyangka, lalu kususul dengan sujud syukur yang panjang. Aku tak menyangka lantaran namaku tertulis sebagai salah satu penerima beasiswa LPDP. Separuh tak percaya, bahwa impianku semakin dekat dengan kenyataan. Aku tak menyangka.
Kutelepon kedua orang tuaku di kampung, Ibu menyambut kabar itu dengan tangis bahagia, Ia tersedu-sedu, sementara ayahku, Ia memberiku ucapan selamat dengan nada tenang. Seperti biasanya, Ia adalah sosok yang pendiam dan tenang.
Aku pun menjadi orang pertama di garis keturunan keluargaku yang berhasil menempuh pendidikan setingkat lebih tinggi. Level pendidikan yang sebelumnya hanya berada pada angan dan mimpi yang tertulis di secarik kertas yang kutempel di dinding kamarku. Tuhan telah menjawab impian itu dengan beasiswa LPDP, dan menjadi bagian dari penerima beasiswa LPDP adalah sebuah kebahagian dan sesuatu yang tak bisa ku lukiskan melalui kata-kata karena LPDP akhirnya telah menjemput impian anak kampung nan miskin sepertiku. Anak kampung yang hanya berani bermimpi, lantaran terperangkap dengan keadaan yang serba sulit.
Setelah melewati semua proses sebagai penerima beasiswa LPDP termasuk melewati proses persiapan keberangkatan yang kemudian telah menjadi memori indah yang akan kucertiakan pada anak cucuku nanti. Akan kuceritakan dengan bangga bahwa di program persiapan keberangkatan itu aku telah bertemu dengan ratusan orang-orang hebat, yang membuatku semakin optimis dengan nasib Indonesia di masa depan. Lantaran Indonesia, memiliki generasi emas yang siap menjadi pemimpin baru, pemimpin yang akan mengantarkan Indonesia pada era Indonesia gemilang. Aku yakin itu. Sangat yakin.
Sepuluh tahun lagi, kurasa adalah tempo yang tepat untuk melihat hasil jerih payah kami sebagai anak negeri. Semoga Ibu pertiwi berhasil kami angkat derajatnya melangkah lebih  tinggi. Terimalah, janji dan bakti kami.
v   

Satu hal yang kuyakini dari semua kejadian dalam hidupku, tentang semua kemudahan, serta keberhasilanku, kuyakini bahwa semuanya karena doa kedua orang tuaku yang luar biasa. Doa mereka yang tanpa pembatas langit. Maka, tak ada yang paling kusyukuri di dunia ini, selain karena terlahir dari rahim Ibuku, dan memiliki ayah selembut dan setenang ayahku. Mereka, sepasang kekasih yang berijazah Sekolah Dasar itu telah berhasil membuatku seperti ini. Menjadikanku sebagai sosok yang percaya dengan mimpi-mimpiku.  
Dan bandung telah menjadi destinasi dari mimpiku, disinilah aku yakin mimpi itu akan terwujud, di kota ini pula, mimpi baru akan kurajut.




-Kepada masa depan, tetaplah indah, dan tetaplah seperti prasangkaku-



-anak selatan-

Comments

Posting Terpopuler