Samudera Pengetahuan
“Semuanya
mungkin tak akan seperti ini jika dulu aku lebih memilih menyerah dengan
keadaan. Bahkan, rasanya tak akan mungkin pertemuan kita hari ini akan terjadi.
Kau tak akan mungkin akan jauh-jauh datang ke sini,hanya untuk mendengarkanku
bercerita.”
“Kau tahu apa yang paling ku syukuri
di dunia ini?” Sang anak selatan
bertanya.
“ Keberhasilanmu sekarang.” Jawabku
yakin.
“Salah. Itu hanyalah bonus dari
usaha keras, dan kita pasti akan mendapatkannya jika memang kita sudah berusaha
lebih keras dari pada orang lain.”
“Lalu apa?” aku balik bertanya.
“Aku memiliki orang tua yang miskin,
yang tidak sekolah yang hanya ber-ijazah sekolah dasar.”
Nada suaranya penuh bangga, lalu Ia
melemparkan senyumnya. Kedua hal itu menohok perasaanku. Lalu aku bercermin
pada diriku sendiri. Aku saja memilih untuk melanjutkan pendidikan, lantaran
takut kalau-kalau suatu saat anak-anakku akan malu mengatakan pada temannya
kalau aku hanya lulusan Sekolah menengah atas, atau mereka akan malu lantaran
aku hanya lulusan sarjana. Aku membayangkan kebanggaan anakku hanya jika Aku
berhasil menemupuh pendidikan yang lebih tinggi dari pada orang lain. Tapi hari
ini, seorang anak, telah membuktikannya bahwa semua prasangkaku tentang sekolah
tinggi agar kelak anak-anakku menjadi bangga pun terpatahkan.
Bahwasanya, orang tua cukup menjadi
orang tua yang baik untuk anak-anaknya. Orang tua ideal, yang mampu mengajarkan
banyak pengetahuan kepada anak-anaknya. Orang tua ideal yang menjadi contoh
yang baik untuk anak-anaknya.
“Bagaimana kau bisa merasa bangga?,
bukankah orang tua mu tak punya banyak pengetahuan?” pertanyaanku menguji.
Ia tersenyum sebelum menjawab.
“Mereka mengajarkanku lebih banyak
tentang semua hal. Mereka memang tak mampu menjawab ketika aku bertanya tentang
rumus matematika yang membingungkan itu. Tapi, mereka bisa menjawab semua hal
yang kutanyakan tentang kehiduapan ini. Dari Ibuku, aku belajar tentang
pengorbanan, dan dari Ayahku, aku belajar untuk lebih ikhlas, menerima,tapi
tetap berusaha.”
“Tentang Ibumu, bisa kau ceritakan?
Bagaimana kau belajar tentang pengorbanan dari Ibumu?”
“Ibuku di masa kecilnya, adalah
seorang gadis cantik yang tumbuh dengan tingkat kecerdasan di atas rata-rata
teman-teman sekolahnya. Ibuku menyenangi pelajaran bahasa indonesia. Dia sering
membaca puisi di depan kelas,sering juga Ia tampil lomba pidato tingkat sekolah
dasar. Guru-guru menyenanginya, lantaran Ia tak hanya pintar,tapi juga sangat
pandai bergaul. Ia disenangi teman-temannya. Sayang, Ibuku yang terlahir dari
keluarga kolot lalu terhalang karir akademiknya, di saat Ia baru seminggu masuk
sekolah menengah pertama, Ibuku memilih berhenti”
“Nenek mu tidak bisa membayar uang
sekolah?”
“Bukan masalah itu. Ibuku adalah
anak pertama, dan dia mempunyai banyak adik-adik yang masih kecil. Ibuku
bercerita sambil menangis waktu itu. Katanya, selama seminggu itu Dia selalu
disuruh berhenti sekolah,karena menurut nenekku tempat seorang anak perempuan
bukan di sekolah, melainkan hanya ada dua tempat. Pertama di rumah mengurusi
urusan rumah. Kedua, ke sawah, membantu menanam padi. Sambil terisak-isak ibuku
menolak untuk berhenti sekolah,lantaran Ia punya cita-cita yang tinggi untuk
mejadi seorang guru. Sayang, semua itu terhenti, lantaran tiba-tiba saja semua
peralatan sekolah Ibuku hilang. Seragam, buku, pensil, hilang semuanya, raib
tanpa meninggalkan jejak. Nenekkulah yang telah membuangnya. Ibuku pun terpaksa
behenti sekolah, cita-citanya menjadi seorang guru pun raib,ditelan bulat-bulat
oleh kenyataan. Jadilah Ibuku mengurusi adik-adiknya, dan ke sawah setiap hari,
sambil berusaha melupakan mimpinya. Untuk mengobati rasa penasaranya tentang
sekolah menengah pertama, Ia sering bertanya kepada temannya, yang sekarang
sudah menjadi kepala sekolah.”
“Dan sekarang Ibuku, pantang
menyuruh kami bekerja. Satu hal yang diwajibkan ke anak-anaknya adalah Sekolah.
“Sekolahlah tinggi-tinggi,jangan macam
Emmak” katanya.
“Kami delapan bersaudara seperti
cerminan Ibu kami yang gagal sekolah. Kami lebih mirip seperti buah dari balas
dendam yang baik dari Ibu kami.”
Aku terkesima mendengar kata-kata “buah dari balas dendam yang baik”.
Kadang keadaan yang menjempit membuat kita jauh lebih nekat dan membuat kita
jauh lebih “BISA” dari biasanya.
“Bagaimana dengan ayahmu, apa yang
kau pelajari darinya?”
“Ayahku, lelaki lembut yang pendiam
itu, adalah manusia paling sabar yang kukenal. Tak sekalipun Ia menyaringkan
suaranya pada kami.”
“Ia adalah sosok yang mengahabiskan
lebih dari separuh usinya untuk bekerja keras dengan upah minim. Sekalipun Ia
tak pernah mengeluh walaupun rupiah yang dihasilkannya tak pernah berlebih
untuk menyuap sepuluh mulut setiap hari.”
Sang anak selatan menghentikan
ceritanya. Matanya berbinar menahan kesedihan.
“Aku pun masih ingat betul, ketika
aku sempat melukai hatinya. Melukai hati laki-laki yang tak pernah sekalipun
mengerutkan wajahnya itu.”
“Apa yang kau lakukan pada ayahmu?”
tanyaku cepat.
“ketika itu, penerimaan siswa
menengah pertama. Aku dengan keegoisanku tak berhenti meminta untuk sekolah di
pesantren terkenal yang tak jauh dari kampung halamanku. Aku pun tak
memperdulikan kemampuan keuangan keluargaku waktu itu. Yang kutahu dan yang
kumau Cuma satu,sekolah dipesantren. Titik.”
“ Sekolah dikampung saja ya Nak?”
bujuk ayahku.
“Aku ingat betul waktu itu,
Dia,ayahku sudah mengenakan pakain terbaiknya untuk mendaftarkanku di sekolah
menengah pertama yang tak jauh dari rumahku.”
“Tak mau, aku mau sekolah
dipesantren. Kalau bukan di pesantren aku tak mau sekolah” bentakku.
“Mungkin hanya ayahku yang membalas
kemarahan anaknya dengan diam dan tersenyum. Dielusnya kepalaku. Namun kutolak
tangannya.”
“Nak kalau dipesantren Ayah tidak
mampu membayar Nak. Mahal.”
“ Aku nda mau tahu. Aku Cuma mau sekolah di pesantren.” Bentaku, lalu aku
pergi meninggalkan rumah.
“Kutinggalkan ayah dengan pakaian
terbaiknnya. Kutinggalkan Dia yang sudah tersenyum manis sejak subuh lantaran
membayangkan bahwa hari ini Dia akan mengantarkanku mendaftarkanku sekolah.
Kutinggalkan dia tanpa belas kasih. Kutinggalkan dia dengan Ibu yang
terisak-isak dibelakangnya.”
“Kemana kau meninggalkan rumah?”
tanyaku pada anak selatan penasaran.
“Dipadang ilalang yang telah menjadi
tempat kegemaranku. Disana aku terdiam cukup lama. Sendiri dan sepi. Lalu
tiba-tiba bayang senyum ayahku berterbangan. Senyumnya seperti memintaku untuk
pulang dan memintaku untuk memeluknya. Untuk beberapa saat aku berhasil menghiraukannya.
Tapi itu hanya untuk beberapa saat. Sepersekian detik kemudian aku tak sanggup,
air mataku pun pecah. Tiba-tiba rindu itu menusuk ulu hati. Aku pun memutuskan
pulang.”
“Sesampai dirumah, kulihat ayah
masih dengan pakaian terbaiknya. Ia tersenyum ketika melihatku, senyum yang tak
berubah, masih semanis senyumnya tadi subuh.”
“Ayah, aku ingin daftar sekolah di
kampung, pendaftarannya masih dibuka kan Yah?” tanyaku.
“Ayah tak mampu menjawab. Matanya
berbinar. Ia lalu memelukku, erat sekali.
Lalu diambil sepeda tuanya,diboncengnya aku untuk mendaftar sekolah. Diatas
boncengan itu, aroma tubuh lelaki penyayang itu pun menyengat, aroma yang tak
akan bisa kulupakan. Dari belakang lalu kepeluk tubuhnya.”
Sang anak selatan menghentikan
ceritanya, lalu perlahan jemarinya menyapu air matanya.
Sementara aku tenggelam dalam
samudera kekaguman. Terbuai bukan karena rasi bintang yang indah, bukan pula
karena sajak yang memesona. Aku terbuai oleh kasih sayang yang sempurna, antara
anak, ayah dan Ibunya. Semua itu lengkap, dan ada dicerita sang anak selatan.
Lalu aku bisa apa, selain menikmati kekagumannku terhadapnya.
Jika
kau ingin tahu letak samudera pengetahuan
Tak
perlu jauh-jauh sampai dinegeri cina
Cukup
kau tatap wajah ayah dan Ibumu
Disitulah,
awal dari pengetahuanmu.
-anak
selatan-


Comments
Post a Comment