JASA AUDIT LAPORAN KEUANGAN HISTORIS | JASA AUDIT REVIU | JASA ASSURANCE LAINNYA | KONTAK BISNIS : 0856 5416 9903 / 0811 575 787

Samudera Pengetahuan


“Semuanya mungkin tak akan seperti ini jika dulu aku lebih memilih menyerah dengan keadaan. Bahkan, rasanya tak akan mungkin pertemuan kita hari ini akan terjadi. Kau tak akan mungkin akan jauh-jauh datang ke sini,hanya untuk mendengarkanku bercerita.”
            “Kau tahu apa yang paling ku syukuri di dunia ini?” Sang anak selatan  bertanya.
            “ Keberhasilanmu sekarang.” Jawabku yakin.
            “Salah. Itu hanyalah bonus dari usaha keras, dan kita pasti akan mendapatkannya jika memang kita sudah berusaha lebih keras dari pada orang lain.”
            “Lalu apa?” aku balik bertanya.
            “Aku memiliki orang tua yang miskin, yang tidak sekolah yang hanya ber-ijazah sekolah dasar.”
            Nada suaranya penuh bangga, lalu Ia melemparkan senyumnya. Kedua hal itu menohok perasaanku. Lalu aku bercermin pada diriku sendiri. Aku saja memilih untuk melanjutkan pendidikan, lantaran takut kalau-kalau suatu saat anak-anakku akan malu mengatakan pada temannya kalau aku hanya lulusan Sekolah menengah atas, atau mereka akan malu lantaran aku hanya lulusan sarjana. Aku membayangkan kebanggaan anakku hanya jika Aku berhasil menemupuh pendidikan yang lebih tinggi dari pada orang lain. Tapi hari ini, seorang anak, telah membuktikannya bahwa semua prasangkaku tentang sekolah tinggi agar kelak anak-anakku menjadi bangga pun terpatahkan.
            Bahwasanya, orang tua cukup menjadi orang tua yang baik untuk anak-anaknya. Orang tua ideal, yang mampu mengajarkan banyak pengetahuan kepada anak-anaknya. Orang tua ideal yang menjadi contoh yang baik untuk anak-anaknya.
            “Bagaimana kau bisa merasa bangga?, bukankah orang tua mu tak punya banyak pengetahuan?” pertanyaanku menguji.
            Ia tersenyum sebelum menjawab.
            “Mereka mengajarkanku lebih banyak tentang semua hal. Mereka memang tak mampu menjawab ketika aku bertanya tentang rumus matematika yang membingungkan itu. Tapi, mereka bisa menjawab semua hal yang kutanyakan tentang kehiduapan ini. Dari Ibuku, aku belajar tentang pengorbanan, dan dari Ayahku, aku belajar untuk lebih ikhlas, menerima,tapi tetap berusaha.”
            “Tentang Ibumu, bisa kau ceritakan? Bagaimana kau belajar tentang pengorbanan dari Ibumu?”
            “Ibuku di masa kecilnya, adalah seorang gadis cantik yang tumbuh dengan tingkat kecerdasan di atas rata-rata teman-teman sekolahnya. Ibuku menyenangi pelajaran bahasa indonesia. Dia sering membaca puisi di depan kelas,sering juga Ia tampil lomba pidato tingkat sekolah dasar. Guru-guru menyenanginya, lantaran Ia tak hanya pintar,tapi juga sangat pandai bergaul. Ia disenangi teman-temannya. Sayang, Ibuku yang terlahir dari keluarga kolot lalu terhalang karir akademiknya, di saat Ia baru seminggu masuk sekolah menengah pertama, Ibuku memilih berhenti”
            “Nenek mu tidak bisa membayar uang sekolah?”
            “Bukan masalah itu. Ibuku adalah anak pertama, dan dia mempunyai banyak adik-adik yang masih kecil. Ibuku bercerita sambil menangis waktu itu. Katanya, selama seminggu itu Dia selalu disuruh berhenti sekolah,karena menurut nenekku tempat seorang anak perempuan bukan di sekolah, melainkan hanya ada dua tempat. Pertama di rumah mengurusi urusan rumah. Kedua, ke sawah, membantu menanam padi. Sambil terisak-isak ibuku menolak untuk berhenti sekolah,lantaran Ia punya cita-cita yang tinggi untuk mejadi seorang guru. Sayang, semua itu terhenti, lantaran tiba-tiba saja semua peralatan sekolah Ibuku hilang. Seragam, buku, pensil, hilang semuanya, raib tanpa meninggalkan jejak. Nenekkulah yang telah membuangnya. Ibuku pun terpaksa behenti sekolah, cita-citanya menjadi seorang guru pun raib,ditelan bulat-bulat oleh kenyataan. Jadilah Ibuku mengurusi adik-adiknya, dan ke sawah setiap hari, sambil berusaha melupakan mimpinya. Untuk mengobati rasa penasaranya tentang sekolah menengah pertama, Ia sering bertanya kepada temannya, yang sekarang sudah menjadi kepala sekolah.”
            “Dan sekarang Ibuku, pantang menyuruh kami bekerja. Satu hal yang diwajibkan ke anak-anaknya adalah Sekolah. “Sekolahlah tinggi-tinggi,jangan macam Emmak” katanya.
            “Kami delapan bersaudara seperti cerminan Ibu kami yang gagal sekolah. Kami lebih mirip seperti buah dari balas dendam yang baik dari Ibu kami.”
            Aku terkesima mendengar kata-kata “buah dari balas dendam yang baik”. Kadang keadaan yang menjempit membuat kita jauh lebih nekat dan membuat kita jauh lebih “BISA” dari biasanya.
            “Bagaimana dengan ayahmu, apa yang kau pelajari darinya?”
            “Ayahku, lelaki lembut yang pendiam itu, adalah manusia paling sabar yang kukenal. Tak sekalipun Ia menyaringkan suaranya pada kami.”
            “Ia adalah sosok yang mengahabiskan lebih dari separuh usinya untuk bekerja keras dengan upah minim. Sekalipun Ia tak pernah mengeluh walaupun rupiah yang dihasilkannya tak pernah berlebih untuk menyuap sepuluh mulut setiap hari.”
            Sang anak selatan menghentikan ceritanya. Matanya berbinar menahan kesedihan.
            “Aku pun masih ingat betul, ketika aku sempat melukai hatinya. Melukai hati laki-laki yang tak pernah sekalipun mengerutkan wajahnya itu.”
            “Apa yang kau lakukan pada ayahmu?” tanyaku cepat.
            “ketika itu, penerimaan siswa menengah pertama. Aku dengan keegoisanku tak berhenti meminta untuk sekolah di pesantren terkenal yang tak jauh dari kampung halamanku. Aku pun tak memperdulikan kemampuan keuangan keluargaku waktu itu. Yang kutahu dan yang kumau Cuma satu,sekolah dipesantren. Titik.”
            “ Sekolah dikampung saja ya Nak?” bujuk ayahku.
            “Aku ingat betul waktu itu, Dia,ayahku sudah mengenakan pakain terbaiknya untuk mendaftarkanku di sekolah menengah pertama yang tak jauh dari rumahku.”
            “Tak mau, aku mau sekolah dipesantren. Kalau bukan di pesantren aku tak mau sekolah” bentakku.
            “Mungkin hanya ayahku yang membalas kemarahan anaknya dengan diam dan tersenyum. Dielusnya kepalaku. Namun kutolak tangannya.”
            “Nak kalau dipesantren Ayah tidak mampu membayar Nak. Mahal.”
            “ Aku nda mau tahu. Aku Cuma mau sekolah di pesantren.” Bentaku, lalu aku pergi meninggalkan rumah.
            “Kutinggalkan ayah dengan pakaian terbaiknnya. Kutinggalkan Dia yang sudah tersenyum manis sejak subuh lantaran membayangkan bahwa hari ini Dia akan mengantarkanku mendaftarkanku sekolah. Kutinggalkan dia tanpa belas kasih. Kutinggalkan dia dengan Ibu yang terisak-isak dibelakangnya.”
            “Kemana kau meninggalkan rumah?” tanyaku pada anak selatan penasaran.
            “Dipadang ilalang yang telah menjadi tempat kegemaranku. Disana aku terdiam cukup lama. Sendiri dan sepi. Lalu tiba-tiba bayang senyum ayahku berterbangan. Senyumnya seperti memintaku untuk pulang dan memintaku untuk memeluknya. Untuk beberapa saat aku berhasil menghiraukannya. Tapi itu hanya untuk beberapa saat. Sepersekian detik kemudian aku tak sanggup, air mataku pun pecah. Tiba-tiba rindu itu menusuk ulu hati. Aku pun memutuskan pulang.”
            “Sesampai dirumah, kulihat ayah masih dengan pakaian terbaiknya. Ia tersenyum ketika melihatku, senyum yang tak berubah, masih semanis senyumnya tadi subuh.”
            “Ayah, aku ingin daftar sekolah di kampung, pendaftarannya masih dibuka kan Yah?” tanyaku.
            “Ayah tak mampu menjawab. Matanya berbinar. Ia  lalu memelukku, erat sekali. Lalu diambil sepeda tuanya,diboncengnya aku untuk mendaftar sekolah. Diatas boncengan itu, aroma tubuh lelaki penyayang itu pun menyengat, aroma yang tak akan bisa kulupakan. Dari belakang lalu kepeluk tubuhnya.”
            Sang anak selatan menghentikan ceritanya, lalu perlahan jemarinya menyapu air matanya.
            Sementara aku tenggelam dalam samudera kekaguman. Terbuai bukan karena rasi bintang yang indah, bukan pula karena sajak yang memesona. Aku terbuai oleh kasih sayang yang sempurna, antara anak, ayah dan Ibunya. Semua itu lengkap, dan ada dicerita sang anak selatan. Lalu aku bisa apa, selain menikmati kekagumannku terhadapnya.



Jika kau ingin tahu letak samudera pengetahuan
Tak perlu jauh-jauh sampai dinegeri cina
Cukup kau tatap wajah ayah dan Ibumu
Disitulah, awal dari pengetahuanmu.


-anak selatan-

Comments

Posting Terpopuler